Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Showing posts with label Arsitektur dan Lanskap. Show all posts
Showing posts with label Arsitektur dan Lanskap. Show all posts

Dec 30, 2012

Menjaga Kelestarian Alam


"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian.  Maka daripadanya mereka makan”. (Q.S. Yasin [36]  :  33)

Hutan merupakan karunia Ilahi kepada manusia, sebagai sumber kehidupan. Ia memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan. Dalam hutan tumbuh berbagai macam tanaman, baik kayu maupun non kayu. Dengan kayu, manusia dapat membangun tempat tinggal, membuat perabotan rumah tangga serta berbagai jenis peralatan lainnya. Dalam hutan juga terdapat buah-buahan dan sayur-sayuran sebagai sumber zat gizi nabati serta tanaman obat-obatan.

Pandangan Islam Tentang Hutan

Dari sudut pandang Islam, hutan dengan segala sebagai bagian dari ciptaan-Nya. Hutan dan alam semesta ini ditundukkan oleh Allah SWT demi melayani kebutuhan manusia yang telah dinobatkan oleh Allah sebagai Khalifah, dengan firman-Nya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 30).

Manusia sebagai khalifah adalah hamba Allah SWT yang wajib menjaga dan memelihara bumi ini serta mengelolanya dengan arif dan bijaksana, tidak boleh melampaui batas. “Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat balk, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash [28] : 77).

Selanjulnya Allah SWT juga berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Rumm [30] : 41)

Manusia bukan pemilik hutan, pemilik sejatinya hanyalah Allah. Manusia hanya pemanfaat, hak guna pakai. Mohammad Qutb, didalam bukunya “Manhaj Tarbiyah fi al-Islam”, menerangkan bahwa fungsi khalifah itu memiliki tugas:
  1. Beribadah kepada Allah.
  2. Membangun kemakmuran di bumi atau dengan kata lain melestarikan kehidupan di bumi.

Sebagai pengambil manfaat manfaat dari alam, harus memperhatikan kelestariannya dan keberlangsungannya bagi generasi yang akan datang. Kerusakan apapun yang dilakukan manusia di tempat manapun di bumi ini akan menimbulkan dampak di tempat lain. Pengelolaan yang baik dan pemeliharaan nya adalah suatu keharusan. Oleh sebab itu pemeliharaan atas sumber-sumber perekonomian seperti hutan adalah erat hubungannya dengan kehidupan manusia yang bergantung kepada sumber daya alam pada umumnya. Allah berfirman, “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Al Jatsiyah [45] :  13).

Kita Dilarang Melakukan Pengrusakan

Syari'at Islam menolak kita untuk melakukan pengrusakkan. Penyia-nyiaan tanah pertanian dan  membiarkan nya sedemikian rupa yang dapat merugikan diri atau orang lain dipandang sebagai pengingkaran atas nikmat Allah serta tidak bersyukur atas nikmat tersebut.

Dalam konferensi lingkungan hidup PBB di Stockholm Swedia tahun 1972 dikatakan bahwa lingkungan adalah sebagai tempat cadangan sumber daya materi dan sosial kapan dan dimana saja dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam adalah hilang nya pengertian ibadah dalam diri ummat dimana urusan keduniaan dan kemasyarakatan dikesampingkan dari pemahaman agama. Padahal Allah SWT sebetulnya menetapkan integritas pemahaman ibadah termasuk didalamnya untuk kepentingan dunia dan untuk kepentingan akhirat.

Islam tidak hanya mencukupkan berbagai kuantitas sumber-sumber alami sebagai sumber kenikmatan, dan tidak pula hanya sekedar menerangkan urgensi dan peranan penting yang dapat dilakukan oleh sumber-sumber tersebut, tetapi lebih dari itu mengisyaratkan kemestian menjaga sumber-sumber ini terjamin dan dapat dinikmati sampai ke generasi yang akan datang.

Interaksi dengan sumber-sumber ini harus berlangsung berdasarkan hukum-hukum dan ketentuan yang dijadikan oleh Allah untuk kelangsungan kehidupan manusia. Allah memerintahkan kita untuk selalu memutar pandangan kepada lingkungan temporal serta berusaha menyingkapkan hukum-hukum Allah.

Kesimpulan

Dari uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa alam semesta pada umumnya hutan dan lingkungan hidup pada khususnya diciptakan Allah untuk kemaslahatan ummat manusia. Kita harus menjaga keseimbangan, kelestarian dan keberlangsungan lingkungan tersebut untuk diri kita dan untuk masa depan generasi yang akan datang. Antara manusia dan lingkungan hidup seperti hutan, udara dan air adalah saling membutuhkan yang satu dengan yang lain agar tercapai kehidupan yang harmonis bahkan alam semesta itu dipersembahkan untuk kemaslahatan ummat manusia. Memperlakukan hutan dan lingkungan hidup tidak hanya sekeclar komoditas ekonomi yang di eksploitasi sedemikan rupa tanpa mengindahkan akibat-akibat yang akan merugikan semua pihak bukanlah bagian dari ajaran Islam.

Islam mengajarkan sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya, “Bahwa kita diwajibkan oleh Allah untuk berbuat Ihsan terhadap segala sesuatu, termasuk kepada flora dan fauna” (H.R. Muslim). Bahkan Allah SWT meminta jika menyembelih binatang sekalipun, tajamkanlah pisaunya, ringankanlah penderitaan dari binatang yang akan disembelih tersebut. Jika ditanganmu ada satu bibit pohon sekalipun esok hari akan kiamat, maka tanamkanlah.

Realitas yang kita hadapi hari ini betapa para kapitalis telah memporak-porandakan hutan dan lingkungan hidup yang menyebabkan terjadi bencana di mana-mana, tidak hanya sekedar merusak ekosistem, tetapi malah telah membinasakan jutaan umat manusia.

 
 
 


Penulis: Amlir Syaifa Yasin, MA
Dikutip dari: Buletin Da'wah No. 50 Thn. XXXIX 30 Muharram 1434 H (14 Des 2012 M)
Penerbit: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Prov. DKI Jakarta

Nov 30, 2012

Banjir (Lembah Kerinci) vs Karung & Mie Instan!

UHANGKAYO - Sepertinya Lembah Kerinci sedang panen karunia, selama hampir kurang lebih satu bulan di Lembah Kerinci, hujan deras berlangsung hampir tiap hari. Dan pada minggu pertama, beberapa kali banjir 'bertandang' ke rumah warga. Respon yang diberikan oleh pihak terkait cukup tanggap dengan menggali saluran air yang mengalami pendangkalan akibat erosi, agar air dapat mengalir dengan lancar ke sungai besar. Selain itu juga dengan membagikan karung dan mie instan. Karung digunakan untuk menghalangi air masuk ke rumah warga, setelah diisi dengan pasir dari erosi. Sedangkan mie instan, barangkali untuk aye kawo bagi warga setelah bekerja mengisi dan menata karung-karung tersebut.

Sedimen berupa pasir yang terbawa oleh air.

Bencana yang disebabkan oleh air di Lembah Kerinci bukan hanya banjir semata, namun juga masalah kekurangan (air bersih). Hal ini terjadi bukan hanya dimusim kemarau, bahkan di musim hujan seperti sekarang ini. Ketersediaan air bersih melebih kelangkaan BBM. PDAM sebagai pemasok air bersih hanya mampu mengalirkan air bersih secara bergantian, bahkan sejak minggu lalu, air bersih hanya mengalir sehari dengan diselingi dua hari berikutnya mati. Bagaimanapun juga, peristiwa banjir (yang pernah terjadi) dan kekurangan air bersih saat ini jika tidak ditanggulangi sejak dini, bukan tidak mungkin dapat menyebabkan bencana yang lebih besar kelak.

Lantas apa itu Banjir?

Banjir pada dasarnya adalah 'tertahannya' air di atas permukaan tanah. Tertahan bisa dikarenakan tanah yang jenuh, sehingga membentuk sebuah genangan air. Hal yang paling jelas dilihat adalah pada Danau, hanya saja bagi masyarakat danau adalah berkah, yang bisa menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga. Tertahan juga bisa dikarenakan debit air yang melewati saluran melebihi daya tampung saluran tersebut, sehingga menjadi air limpasan (run off). Air limpasan dengan volume yang cukup besar sehingga menggenangi jalan-jalan, pekarangan, hingga memasuki rumah-rumah, dikenal sebagai banjir.

Dahulu banjir seringkali dikaitkan dengan fungsi hutan, ketiadaan hutan dapat menyebabkan banjir. Namun dewasa ini banjir menunjukkan hubungan yang erat dengan tanah, ini berarti pada tegakan hutan, banjir pun dapat terjadi apabila volume air yang datang lebih besar daripada kemampuan tanah dalam meresapkannya. Pepohonan disini sangat membantu dalam menerima air hujan yang jatuh, mengurangi kecepatan aliran permukaan, sehingga mengurangi erosi, dan mempermudah dalam meresapkan air. Kemampuan meresapkan air ini juga ditunjang oleh sistem perakaran dan hewan tanah yang membentuk pori hutan. Akar pohon juga menghindari terjadi bahaya yang lebih besar berupa longsor.

Banjir di kawasan pemukiman tidak hanya memberikan kerugian ekonomi, namun juga dapat menjadi perusak lingkungan dalam skala yang lebih besar, serta berpotensi meningkatnya penyakit menular yang terbawa dari air. Pada akhirnya ini tentu membawa kerugian (secara eknomi) yang juga lebih besar, berupa pengeluaran ekstra untuk biaya kesehatan maupun perbaikan tanaman pertanian.

Perkerasan menghalangi infiltrasi air ke tanah.

Banjir pada kawasan pemukiman diyakini terjadi akibat alih fungsi lahan, dari ruang terbuka menjadi lahan perkerasan, baik untuk perumahan maupun berbagai infrastruktur lainnya. Semakin luas perkerasan semakin berkurang lahan untuk meresapkan air, semakin berkurang jumlah air tanah, dan berakibat pada semakin tinggi limpasan air. Limpasan air inilah yang memberikan kontribusi cukup besar pada setiap kejadian banjir di kawasan pemukiman. Limpasan air juga bisa terjadi pada lahan pertanian. Kamir R. Brata memberi contoh pada areal persawahan yang melumpurkan tanah. Pelumpuran akan merusak biopori yang dibuat oleh alam, sehingga air tidak dapat meresap ke dalam tanah, akibatnya air (bersama pupuk) akan langsung mengalir terbuang percuma.

Pelumpuran sebagai upaya untuk mempertahankan agar air tidak meresap.

Penanggulangan Bencana Banjir

Beberapa kasus banjir di daerah lain telah dicoba ditanggulangi dengan berbagai cara, seperti pembuatan kanal (sungai buatan) untuk mengalirkan air secara langsung ke laut. Dengan dana yang besar serta lahan yang harus dikorbankan untuk membangun kanal, usaha ini dipercaya cukup efektif untuk mengatasi banjir. Namun ini hanya dapat terjadi apabila debit air yang masuk/dialirkan ke kanal tidak melebihi debit air kanal itu sendiri.

Dalam upaya untuk mengatasi banjir dan kekurangan air tanah, ilmu lingkungan mengenal konsep zero surface runoff. Konsep ini mengusung bahwa air hujan yang turun dari langit harus dapat diinfiltrasi (sepenuhnya) kedalam tanah dan menjadi cadangan air tanah. Melalui infiltrasi maka aliran permukaan dapat ditiadakan sehingga menghindari potensi terjadinya banjir maupun erosi. Salah satu teknologi yang diterapkan pada daerah pemukiman adalah melalui pembuatan sumur resapan. Berbeda halnya dengan pembuatan sumur yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan sumber air bersih, sumur resapan berfungsi kebalikan yaitu untuk menampung air hujan langsung maupun dari atap rumah. Melalui sumur resapan, air hujan tertahan di sumur resapan selama jam hujan, yang kemudian terinfiltrasi kedalam tanah.

Sumur resapan.

Usaha lain yang terbukti secara empiris dan ilmiah yang dapat mengatasi masalah banjir adalah dengan teknologi mulsa vertikal. Teknologi ini telah dilakukan oleh seorang dosen ilmu tanah - Kamir R. Brata - sejak tahun 1993, dan mulai mencuat ke permukaan sejak banjir yang hampir merendam 60% wilayah ibukota pada tahun 2007. Teknologi mulsa vertikal meresapkan air menggunakan bantuan makhluk hidup. Dengan alasan kepraktisan, kemudahan untuk diingat dan diucapkan, penamaan teknologi mulsa vertikal berubah menjadi Lubang Resapan Biopori (LRB).

Muasa Vertikal atau Lubang Resapan Biopori (LRB).

Lubang Biopori sendiri merupakan lubang silendris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Selanjutnya lubang ini diisi dengan sampah organik untuk makanan organisme tanah. Biopori sendiri terdiri atas dua kata - bio dan pore, karena teknologi biopori memanfaatkan aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (bio) yang akan membentuk lubang terowongan kecil (pore).

Dalam mengatasi banjir, secara sederhana teknologi LRB menambah luas bidang resapan air, yaitu seluas dinding lubang. Pada LRB berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapan bertambah sekitar 3.140 cm2. Dengan kata lain, luas permukaan tanah berdiameter 10 cm memiliki luas resapan sebesar 78,5 cm2, setelah dibuat LRB dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapan akan menjadi 3.220 cm2. Dalam hal ini, perbandingan luas resapan tanah dengan LRB mencapai 40 kali dari luas resapan tanpa LRB.

LRB pada selokan bersemen.

Selain lebih murah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja, apabila dibandingkan dengan pembuatan kanal dan sumur resapan, LRB juga memiliki keuntungan yang telah teruji secara ilmiah:
  1. Mencegah genangan dan banjir,
  2. Mencegah erosi dan longsor,
  3. Meningkatkan cadangan air bersih,
  4. Penyuburan tanah dan mengubah sampah organik menjadi kompos sehingga mengurangi emisi gas metan sebagai penyebab pemanasan global yang lebih kuat dari gas karbondiosida.

Kepraktisan pembuatan teknologi LRB serta manfaat yang besar, telah mengantarkan banyak daerah untuk membuat LRB sebagai upaya untuk mengatasi banjir di daerah mereka. Kota Jakarta, sebagai contoh, telah mulai gencar membuat LRB walaupun belum mencapai target hitung-hitungan sebanyak 75 juta Lubang Resapan Biopori, kemudian beberapa daerah lain seperti Bandung, Bogor, dan Bali juga tercatat mengikuti jejak ini.



Upaya Penanggulangan Banjir di Lembah Kerinci

Bencana alam yang disebabkan oleh kelebihan air (banjir) dan kekurangan air bersih yang (pernah) melanda Lembah Kerinci merupakan peristiwa yang sangat disayangkan, saat air hujan yang diturunkan tidak dapat disyukuri melalui pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Lebih ironis lagi, kawasan konservasi yang mengelilingi Lembah Kerinci tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai pengatur tata air. Banjir maupun kelangkaan air memiliki pengaruh yang signifkan dengan landcover maupun landuse suatu kawasan. Kawasan alami yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan seperti ekosistem hutan diyakini berperan dalam menerima, menyimpan, dan menahan air hujan yang jatuh diatasnya kemudian mersapkannya kedalam tanah, yang disebut sebagai fungsi hidrologis hutan. Ketiadaan (ekosistem) hutan berarti menghilangkan fungsi hidrologis itu sendiri.

Fenomena bencana yang disebabkan oleh air ini tentu tidak terlepas dari peran serta manusia yang ada diatasnya sebagai pengelola, ketidakberdayaan dan kelemahan pemerintah maupun masyarakat dalam menyelaraskan pembangunan dan mengelola alam dengan bijak. Hendaknya bencana alam (peristiwa banjir, kekeringan hingga longsor) dapat dilihat sebagai suatu bentuk 'kecemburuan' alam yang tidak mendapatkan perhatian dalam pembangunan. Peristiwa banjir, kekeringan, hingga longsor harusnya dapat menjadi pelajaran untuk merencanakan dan mengelola suatu lingkungan binaan yang lebih baik. Arah pembangunan hendaknya tidak hanya berorientasi pada ekonomi semata, namun juga memperhatian aspek ekologi, dan sosial. Tiga fungsi ini harus dapat berjalan berdampingan. Secara ekonomi maju, secara ekologi sehat, secara sosial merupakan perwujudan/warisan dari nilai-nilai lokal.

Melalui konsep zero surface runoff, banjir dan kelangkaan air bersih dapat dihindari. Dalam skala pemerintah usaha penanggulangan dan/atau antisipasi bencana, dapat dilakukan melalui pendekatan kebijakan penataan ruang yang berwawasan lingkungan dan berbasis mitigasi bencana. Sedangkan pada skala masyarakat dapat dilakukan melalui cara yang sederhana, pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) pada setiap sudut rumah. Tentu saja langkah yang terpenting memupuk kesadaran warga untuk peduli pada lingkungan. Alangkah baiknya jika pembuatan LRB ini terkoordinir dan/atau menjadi satu program dari daerah dari tingkat RT hingga Kabupaten/Kota. Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) tentu lebih baik daripada 'mengalirkan' air secara percuma ke sungai. Selain dapat mengurangi persediaan air tanah, jika seluruh air limpasan se-Lembah Kerinci dibuang percuma ke sungai, maka desa-desa disekitar sungai berpotensi mengalami kerugian yang paling besar apabila debit air yang masuk melebihi debit air sungai tersebut. Hal ini barangkali 'sebelas-duabelas' dengan kasus banjir di ibukota.

Lembah Kerinci adalah milik semua elemen masyarakat, sambil menunggu suatu program dapat terwujud dari pemerintah (yang juga merupakan wakil dari masing-masing elemen masyarakat), ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kepedulian kita kepada Lembah Kerinci.

"Air Sumber Kehidupan", kalimat ini sering kita dengar. Melalui Al-Quran Digital, aku menemukan tidak kurang dari 15 ayat yang menyandingkan kata (atau yang memiliki makna) "hidup/kehidupan" setelah kata "air (hujan)". Yang tersisa sekarang adalah bagaimana cara kita mensyukuri nikmatNYA.
An Nahl 65
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Nov 27, 2012

Long Way From Home: Identitas Diri

UHANGKAYO - Padang merupakan kota terdekat dengan Lembah Kerinci, salah satu pintu masuk utama dan terbaik menuju Lembah Kerinci. Bagiku kota ini terasa asing, Kota Padang hanya menjadi persinggahan untuk melanjutkan perjalanan ke Lembah Kerinci, "Sakti Alam Kerinci" yang oleh pujangga di ibaratkan sebagai "Sekepal Tanah Surga Yang Tercampkan ke Bumi".

Namun, belakangan ini aku mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat mengenal Kota Padang. Hampir tiap minggu pulang-pergi Kerinci-Padang, selama kurang lebih dua bulan terakhir ini, serta menyempatkan beberapa minggu untuk menikmati kota ini. Aku akan mencoba menulisnya dalam kacamata ku sebagai pengunjung, sebagai orang luar.

Walaupun Anda tidak pernah mengunjungi Sumatera Barat, Anda akan dengan mudah menyebutkan ciri khas Sumatera Barat, yaitu atap yang menyerupai tanduk kerbau. Atap Bagonjong telah menjadi ciri bagi masyarakat ini, Anda bisa menemukan 'simbol' ini  terutama di Rumah-rumah Makan Padang di daerah Anda, dimanapun Anda tinggal, baik wujud fisik yang dibentuk pada atap bangunan atau sekedar seni tulisan yang menyerupai bentuk atap pada kaca etalase. Ikon ini telah menjadi Indentitas masyarakat Minang dan menjadi sebuah kebanggaan untuk menunjukkan jati diri mereka. Hal ini tentunya menjadi satu nilai plus, disaat banyak daerah di indonesia yang mulai meninggalkan arsitektur lokal dan mengadopsi kebudayaan luar yang dianggap lebih modern.

Saat Anda memasuki Kota Padang via udara, anda akan disambut oleh Bandara Internasional Minangkabau. Inilah pintu masuk utama menuju Kota Padang sekaligus sebagai penanda bahwa Anda memasuki wilayah Minang. Kota Padang termasuk satu kota yang diperhitungkan bukan hanya di Pulau Sumatera tapi juga bagi Indonesia. Di dalam kota Anda, dapat melihat bahwa kota ini tengah bersolek layaknya kota-kota lain di Indonesia, Anda juga dapat menemukan sejumlah iklan yang terpasang terutama di persimpangan-persimpangan jalan yang seolah telah bertransformasi menjadi sebuah kota blablabla (sesuai dengan nama produk iklannya).

Hmm… ini mengingatankan ku pada kota-kota di Pulau Jawa. Memasuki suatu kota, Anda disambut oleh berbagai jenis iklan, seolah produk-produk tersebut telah menginvasi kota yang Anda kunjungi. Bukannya nilai lokal, kekhasan daerah yang ditampilkan tapi iklan berbagai jenis produk. Iklan-iklan yang terpampang lebar seolah berujar "Selamat Datang di Kota XXX, Kotanya Mie atau Kotanya Rokok (sesuai dengan iklan yang terpasang saat itu)".

Namun, ditengah pembangunan yang terjadi didalam kota dengan bermunculannya bangunan-bangunan bergaya kontemporer serta  iklan-iklan yang ditemui di setiap persimpangan, Anda masih bisa menjumpai beberapa bangunan penting yang mengkombinasikan gaya kontemporer dengan arsitektur lokal (Atap Bagonjong), seperti Kantor Gubernur, bank-bank, 'kantor-kantor pengamanan', sekolah-sekolah, hingga 'bangunan' untuk mengiklankan suatu produk pun dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menampilkan Atap Bagojong ini.

Atap Bagonjong Pada Bangunan Perkantoran.

Atap Bagonjong Sebagai 'Wadah' Iklan.

Berbeda halnya dengan 'ajaran' atau nilai sosial yang di anut oleh suatu masyarakat, dimana Anda harus berinteraksi secara langsung dengan suatu masyarakat dan dalam kurun waktu tertentu untuk dapat 'merasakan' bahwa Anda memang berada di kota tersebut. Bagi orang awam, seni ber-arstiketur yang ditampilkan dalam bangunan adalah ciri yang paling mudah untuk dikenali terlebih bagi para pelancong/wisatawan. Arsitektur sebagai penanda bagi Anda untuk dapat merasakan sentuhan lokal suatu masyarakat, sehingga Anda tidak merasa 'tersesat' berkunjung di suatu daerah yang baru. Ini salah satu cara untuk membantu Anda merasakan "sense of place", suatu lingkungan yang berbeda dari biasa yang Anda temui, perasaan 'bertualang' dan pernah mengunjungi suatu daerah. Semakin unik yang Anda tangkap semakin mendalam kesan yang tertinggal dalam diri Anda.

Mengingat cukup banyaknya Atap Bagonjong yang disematkan pada beberapa fungsi bangunan, untuk sesaat, aku sempat mengharapkan menemukan sebuah kombinasi 'unik' bangunan pada restoran cepat saji, seperti halnya restoran cepat saji di Bali. Tapi sepertinya aku tidak menemukan disini, sempat kecewa namun aku cukup sadar arus modernisasi memang sulit untuk dibendung. Bahkan beberapa bangunan/gedung baru seperti mal-mal yang berdiri sudah mulai 'melepaskan diri' dan membentuk sebuah kemonotonan bangunan dengan daerah lain. Barangkali ada banyak alasan hal ini terjadi, alasan praktis adalah perawatan yang mudah dan murah.

Asal usul gaya arsitektur Atap Bagonjong sendiri seringkali dihubungkan dengan kemenangan adu kerbau masyarakat Minang dengan kerbau milik masyarakat Jawa, kebanggaan dalam kemenangan adu kerbau ini diwujudkan dalam (atap) bangunan yang menyerupai tanduk kerbau. Cerita lain yang beredar adalah berasal dari kisah perjalanan nenek moyang mereka yang berlayar hingga mencapai suatu daerah, untuk berteduh di daratan mereka menggunakan tali sebagai penopang lancang. Lancang ibarat atap dengan tali ditengah sebagai penyangga, beratnya beban dari lancang ini membentuk busur pada tali.

Tidak hanya di kota saja, di beberapa pelosok propinsi ini masih ditemukan bangunan berarsitektur lokal, baik pada bangunan lama maupun bangunan kontemporer. Dalam perjalananku menuju Lembah Kerinci pada 3 jalur (via Pesisir - Tapan, via Sitinjau Laut - Kayu Aro, via Padang Panjang - Solok - Kayu Aro) masih dapat dijumpai berbagai fungsi bangunan dengan Atap Bagonjong, baik pada bangunan pemerintahan, Masjid, Pos Kamling, maupun rumah tinggal.

Atap Bagonjong Pada Bangunan Tempat Tinggal.

Atap Bagonjong Di Berbagai Bangunan.

Sekarang ini, umumnya bangunan tempat tinggal telah mengadopsi gaya kontemporer, hanya beberapa bangunan lama yang masih berfungsi (dipertahankan) sebagai rumah tinggal. Entah kapan arsitektur bergaya lokal ini dapat bertahan di negrinya sendiri, namun Atap Bagonjong hingga saat ini sudah menjadi milik, ikon bagi masyarakat Minang.

Well, bagaimana dengan Lembah Kerinci? Beberapa bangunan tradisional di Lembah Kerinci, hampir telah raib. Untuk yang mengadopsi atap hanya dapat ditemui pada bangunan-bangunan pemerintahan berskala 'besar' saja, gedung DPRD, kantor Bupati, namun tidak membumi di masyarakat. Arsitektur lokal pada bangunan baru tidak terlihat pada sekolah-sekolah, kantor camat/kades, mesjid, maupun gebang (memasuki suatu kampung). Bangunan Rumah Larik/Laheik pun sekarang sudah mulai hilang dari bumi Lembah Kerinci, begitu juga halnya dengan Bileik yang merupakan tempat menyimpan padi. Perasaan sedih sempat terasa, it's a long way from home. Bagaimanapun gaya arsitektur dengan berbagai ornamen yang dibawanya, tidak hanya menjadi kewajiban bagi pemerintah/masyarakat untuk menjaganya - sebagai penciri diri dari negri tetangga. Namun melalui uniqueness yang ditampilkannya dapat menjadi sebuah modal, salah satu aspek untuk mengembangkan pariwisata di bumi Sekepal Tanah Surga yang Tercampakkan ke Bumi, yang dapat berfungsi sebagai objek penahan.

Apr 14, 2012

Tutorial 1: Pengantar CITYgreen untuk ArcView



UHANGKAYO - CITYgreen (CG) merupakan sebuah aplikasi yang dapat menilai manfaat ekonomi sistem alami. Tool ini merupakan sebuah ekstensi dari ArcMap dan ArcView. Untuk dapat melakukan analisis dengan CG, haruslah terbentuk tiga theme pada ArcView. Tiga theme tersebut adalah 1) study site, 2) layer canopy, 3) layer noncanopy.

Study site hanya berisi informasi hasil digitasi tentang batas cakupan analisis, sedangkan layer canopy hanya memuat informasi tentang pohon-pohon yang berada di dalam study site. Layer noncanopy memuat informasi semua elemen dalam area studi selain pohon, seperti bangunan dan elemen perkerasan lainya, padang rumput, semak-belukar, lahan kosong, badan air, AC, dan berbagai tipe penutupan lahan lainnya.

Untuk menjalankan perangkat ini dibutuhkan citra satelit atau foto udara sebagai acuan/dasar dalam melakukan digitasi tiga layer diatas. Citra satelit bisa didapat dari hasil capture citra yang terdapat di Google Earth, namun sebelum dapat digunakan citra ini haruslah di registrasi terebih dahulu. Registrasi merupakan sesuatu yang sangat penting dan menuntut ketelitian yang tinggi, karena ketelitian analisis CG ini bergantung pada citra satelit yang ada. Jika registrasi peta salah atau tidak teliti, besar kemungkinan hasil analisis juga memberikan nilai dengan bias yang besar.

Membuat Theme Study Site, Canopy, dan NonCanopy

Pada dasarnya masing-masing theme ini dibuat dengan cara yang sama yaitu digitasi, namun perlakuan yang kita berikan kepada tiga theme haruslah berbeda. Bagi orang-orang yang pernah berkenalan dengan ArcView tentu tidak sulit untuk membuat theme maupun digitasi on screen pada ArcView. Berikut sekilas tutorial digitasi di ArcView yang sempat ditanyakan oleh rekan-rekan.

1. Buka citra satelit lokasi penelitian di ArcView.
Citra Satelit QuickBird dari Google Earth
2. Buat theme baru dari menu View >> New Theme >> Polygon pada Feature Type, klik OK dan simpan dengan nama Study Site. Kemudian digitasi wilayah penelitian (study site) sesuai dengan batas wilayah yang telah di tetapkan. Lakukan hal yang sama untuk Theme Canopy, dan Theme NonCanopy.
Theme Study Site CITYgreen.
Theme NonCanopy CITYgreen.
Theme Canopy CITYgreen.
3. Setelah digitasi batas wilayah selesai. Buka Theme Table, pada menu Edit, pilih Add Field untuk mendefinisikan lokasi penelitian. Isi sesuai dengan lokasi penelitian.

4. Sedangkan perlakuan untuk theme Canopy dan NonCanopy sedikit berbeda. Kedua theme ini perlu perlakuan dari menu CG, agar analisis dapat dijalankan.


5. Pada menu CITYgreen, pilih Add/Update Data sehingga muncul jendela baru. Pilih/isi sesuai dengan kondisi tapak yang sesuai (i.e Canopy atau NonCanopy). Jika telah selesai dan berhasil, maka polygon pada theme Canopy akan berubah warna menjadi hijau, dan merah pada theme NonCanopy seperti gambar diatas.

6. Pilih Stop Editing pada menu Table. Klik Yes untuk menyimpan hasil digitasi Study Site.

7. Selesai.

Apr 1, 2012

CITYgreen; Calculating the Value of Nature



UHANGKAYO - CITYgreen® merupakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh American Forest ekstensi untuk ArcView maupun ArcMap GIS. CITYgreen® menyediakan fasilitas untuk memetakan, mengukur, menampilkan, dan secara statistik menganalisis jasa lingkungan yang diberikan oleh pepohonan dan vegetasi serta menghitung manfaat ekonomi (dalam dollar) berdasarkan kondisi tapak. CITYgreen® mulai dikembangkan sejak tahun 1996, yang merupakan perangkat lunak pertama yang komprehensif, mudah digunakan dalam membuat keputusan keuangan untuk hutan kota. CITYgreen® dikembangakan dengan mewakili kolaborasi antara pihak akademik dan profesional konservasi kota, berdasarkan pandangan science yang up-to-date. CITYgreen® merupakan hasil gabungan yang didasari dari hasil penelitian yang telah diadakan sebelumnya oleh U.S. Forest Service dan Lawrence Livermore Laboratory. Para peneliti yang telah memberi dasar terbentuknya CITYgreen® adalah Nowak, McPherson, serta Akbari, dan beberapa peneliti lainnya.[1]

Analisis dalam CITYgreen® merupakan hasil dari penelitian dasar yang telah berlangsung dari beberapa dekade. CITYgreen® memiliki empat kategori untuk menilai manfaat ekosistem pada tingkat lokal maupun regional berdasarkan representasi dari geografis wilayah studi, yaitu:
  1. Air Quality yang mendeskripsikan seberapa besar jumlah polutan yang mampu dibuang dari atmosfer; 
  2. Carbon Storage and Sequestration yang mendeskripsikan nilai karbon tersimpan dan rosot per tahun; 
  3. Residential Cooling Effects mendeskripsikan energi listrik yang mampu dihemat dengan mengurangi jumlah penggunaan energi dalam rumah; 
  4. Stormwater Control mendeskripsikan jumlah aliran permukaan yang mampu diserap dan menghindari aliran ke badan air.
Selain itu, CITYgreen® juga mampu memprediksi pertumbuhan pohon hingga 50 tahun mendatang, serta mampu membuat sebuah model atau skenario manfaat pepohonan pada lingkup ketetanggaan hingga perkotaan dengan lebih efisien.[2]

Dalam hubungan dengan mitigasi urban heat island, CITYgreen® sebagai alat yang pada tahap awal berguna untuk mengelompokkan potensi mitigasi pada suatu lokasi dengan kondisi awal yang beragam; bagaimanapun, sebuah model sanggup mengelompokkan pada spasial area yang luas dengan beragam penggunaan lahan, tanaman yang berbeda, dan pilihan atap (termasuk teknologi atap putih maupun hijau) dan dapat memberikan proyeksi manfaat serta biaya strategi mitigasi UHI yang lebih baik untuk periode waktu yang lama.[3]

Perangkat lunak CITYgreen® sebagai alat untuk mengukur manfaat green infrastructure mendapat sambutan yang baik dan telah digunakan pada banyak kota di Amerika. Kebanyakan pengguna dari pemerintah setempat menemukan bahwa analisis CITYgreen® menjadi satu cara kuantitatif yang dibutuhkan untuk memperkuat pendapat mereka dan merasionalkan sesuatu yang sering diperdebatkan secara emosional. Model CITYgreen® dapat membantu mengkomunikasikan gagasan yang komplek kedalam cara yang lebih efektif dan mudah untuk dipahami.[2] CITYgreen® dipromosikan menjadi sebuah alat yang dapat mempengaruhi kebijakan publik tentang ruang hijau perkotaan terutama pohon. CITYgreen® membantu memandu kebijakan pada infrastruktur hijau kota. Program ini telah meningkatkan perhatian pada hilangnya hutan kota, dan membimbing perubahan kebijakan pada beberapa daerah dan negara di Amerika. American Forest bersama CITYgreen® telah berhasil meningkatkan nilai hutan kota dan kerugian secara ekonomi apabila hutan kota tersebut hilang.[1]

CITYgreen® telah membantu berbagai kalangan memahami nilai pepohonan bagi lingkungan lokal.[4]
  • Para profesional bidang perencanaan dan sumberdaya alam menggunakan perangkat lunak untuk menguji kebijakan lanskap, evaluasi perencanaan tapak, dan model skenario pengembangan yang menghitung manfaat pepohonan.
  • Para insinyur dapat menaksir dampak yang akan terjadi dengan hilangnya pepohonan dari biaya pengendalian banjir.
  • Perencana Hutan Kota menjadikan CITYgreen sebagai alat untuk meningkatkan pemeliharaan, penanaman, dan preservasi.
  • Pendidik mengajarkan ilmu kehutanan, ilmu lingkungan, lanskap arsitektur, dan perencana kota.
  • Pengembang dapat menghemat uang dari kontrol erosi dan pengelolaan banjir.
  • Pihak pengambil kebijakan dapat mengukur manfaat kualitas udara dari ruang terbuka hijau.
American Forest telah melaporkan manfaat ekosistem pada banyak negara bagian sejak tahun 1996 hingga sekarang dengan menggunakan CITYgreen®. Hasil-hasil penelitian dari American Forest telah dipublikasikan dalam bentuk laporan Urban Ecosystem Analysis untuk masing-masing negara. Manfaat eksositem yang dilaporkan oleh American Forest dengan CITYgreen® pada San Antonio tahun 2002 menunjukkan nilai penghematan listrik yang diberikan oleh bayangan pohon pada perumahan yang berlantai satu dan dua mencapai $76 per rumah per tahun, dengan manfaat total dari perumahan San Antonio sebesar $17,6 juta dari bayangan langsung pepohonan. Dengan kanopi sebesar 20% dari total area 788.000 acres (318.893,56 ha), hutan kota di San Antonio menyimpan karbon lebih dari 7 juta ton dengan penyerapan karbon tahunan sebesar 56 ribu ton.[5] Penelitian pada kota di Colorado mendapatkan hasil penghematan energi $50 per rumah dengan penghematan total tahunan sebsar $4,5 juta.

Perangkat lunak ini juga telah dicoba pada Negara China untuk menilai manfaat ekologi pada kota Nanjing. Pepohonan pada kota Nanjing menyimpan karbon sebesar 730 kt dengan penyerapan karbon mencapai 5,8 kt per tahun.[6] Sedangkan pada kota Shenyang (Ibu kota Propinsi Liaoning, China), manfaat yang diberikan 19.944 pohon pada hutan kota mencapai US$16.318 per tahun dalam membuang polutan dari udara.[7]

Satu penelitian menggunakan CITYgreen di Indonesia dilaksanakan pada dua perumahan untuk melihat nilai dari keberadaan pepohonan yang ada. Manfaat pepohonan dari aspek konservasi energi menunjukkan terjadi pengehematan listrik lebih dari 43 juta/tahun dari bayangan pohon pada Perumahan Villa Du*a, sedangkan pada Perumahan Taman Yas*in penghematan listrik sebesar 90 juta/tahun. Ditinjau dari aspek simpanan dan rosot karbon, Perumahan Villa Du*a menunjukkan simpanan karbon sebesar 331 ton dengan rosot melebih 4 ribu kg/tahun, dan pada Perumahan Taman Yas*in tersimpan karbon sebesar 376 ton dengan daya rosot melebihi 7 ribu kg karbon/tahun.[8]


___
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]

[8]

Mar 28, 2012

Faktor Pembentuk UHI (Urban Heat Island)



UHANGKAYO - Urban Heat Island (UHI) atau Pulau Bahang adalah suatu fenomena dimana daerah perkotaan memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan. UHI ini ibarat sebagai kubah raksasa yang memerangkapkan panas pada suatu kota. Pemakaian AC serta alat-alat listrik lain untuk mendinginkan suhu dalam ruangan, sesungguhnya menjadi salah satu faktor pembentuk UHI. Kubah raksasa ini terbentuk dari beberapa elemen yang terdapat di dalam kota tersebut.

Permukaan kota yang terdiri dari aspal dan beton umumnya lebih panas pada siang hari dibandingkan dengan daerah yang bervegetasi. Permukaan buatan manusia ini sangat efisien untuk menyimpan energi surya, mengubahnya menjadi energi panas, dan melepaskannya pada malam hari, menciptakan suatu wilayah dengan udara yang panas di sekitar kota yang dikenal sebagai heat island (pulau bahang). Perbedaan suhu udara antara daerah yang terkena urban heat island (UHI) dan daerah yang bervegetasi dapat mencapai 6oC.[1]


Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya UHI pada daerah perkotaan diantaranya berupa derajat panas bahan bangunan, tinggi dan jarak antar bangunan, serta tingkat polusi udara. Pada siang hari faktor-faktor ini dapat menyebabkan lebih besar energi matahari yang ditangkap, diserap, dan disimpan pada permukaan kota dibandingkan dengan permukaan desa. Sedangkan pada malam hari, energi yang dilepaskan lebih sedikit, sehingga menghasilkan suhu udara yang lebih tinggi di perkotaan.

Ditambah dengan sedikitnya penguapan yang menyebabkan daerah perkotaan menjadi kering, dengan berkurang kesejukan. Hal ini memicu kebutuhan penghawaan bagi penduduk perkotaan, serta meningkatkan permintaan energi listrik. Semua energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di perkotaan, baik yang digunakan di dalam bangunan maupun untuk kegiatan transportasi akan berakhir sebagai panas.[2] Pada akhirnya, daerah perkotaan juga menjadi sumber pemanasan bagi kota itu sendiri.

Heat island terjadi pada kawasan dengan persentase yang tinggi akan material yang menyerap cahaya (non-reflective), permukaan yang bersifat tidak mampu menyerap air dan vegetasi yang minim, serta permukaan yang memerangkap kelembaban. Secara lebih jelas UHI umumnya terjadi karena tiga hal utama.[3] Pertama, UHI diakibatkan dari permukaan perkotaan, seperti aspal, perkerasaan, atap dan dinding. Permukaan ini memiliki albedo yang kecil dan menyerap lebih banyak radiasi surya yang datang, serta meradiasikan kembali berupa sinar panas inframerah. Ini umumnya dapat terjadi pada malam hari, sehingga kota tetap berada pada kondisi hangat dibandingkan dengan daerah pinggiran walaupun tanpa penyinaran matahari.

Kedua, vegetasi yang sedikit dalam wilayah perkotaan seperti pepohonan dan semak-belukar ikut menyumbang terjadinya efek UHI. Pepohonan dapat membuat udara sekitar menjadi lebih dingin melalui evapotranspirasi. Ketiga, UHI juga dipengaruhi oleh kelembaban yang minim karena banyaknya area perkerasan pada daerah perkotaan, aliran permukaan terjadi dengan begitu cepat yang dapat mengurangi efek pendinginan dari penguapan.

___
[1]
[2]
[3]

Feb 25, 2012

Kota 'Istana' Tak Berpenghuni di Cina



UHANGKAYO - Ordos adalah sebuah kota baru yang megah yang dibangun di tengah padang pasir Distrik Dongsheng, Mongolia Dalam - Cina. Kota ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan bagi hampir 1 juta penduduk Cina dengan infrastruktur yang mewah pada lahan seluas 87.000 km2. "Ordos" berarti "istana" dalam bahasa Mongolia, nama ini kadang-kadang diklaim berhubungan dengan "delapan yurts putih Jenghis Khan".

Ordos merupakan salah satu contoh dari obsesi Cina dalam membangun negaranya. Kota ini dibangun sejak tahun 2001 dengan fasilitas yang tidak hanya lengkap namun juga mewah, mulai dari gedung perkantoran, pusat administrasi, bangunan pemerintahan, museum, bioskop, gedung olahraga, dan berhektar-hektar lahan yang bisa digunakan sebagai pemukiman. Ordos sekarang juga telah menyediakan sebuah pertunjukan air mancur terbesar di Asia.

Ordos merupakan daerah koloni terkaya kedua di Cina, namun ini membuat kota ini lebih aneh karena Ordos hampir tidak berpenghuni. Sebelumnya, Ordos merupakan daerah miskin di daerah Mongolia Dalam, Ordos menjadi terkenal pada tahun 2003 berkat cadangan batu bara dan gas alam yg besar di dalamnya, dengan seperenam dari cadangan batu bara dan sepertiga dari cadangan gas alam di China.

meski semua bangunan megah dan tertata rapi ini telah laku terjual, namun kota Ordos hingga saat ini tidak berpenghuni. Seperti dilaporkan oleh wartawan Aljazeera:
"Kami membayangkan suatu lingkungan mewah, tinggal di rumah yang diciptakan oleh proyek 100 Ordos. Tapi sebaliknya, saat kami sampai pada malam hari dan chek in di satu-satunya hotel mewah yang kami jumpai, stafnya melihat kami dengan kebingungan - Kami adalah satu-satunya tamu malam itu."











aljazeera.net, wikipedia.

Feb 24, 2012

Act Green: Untuk Bumi yang Lebih Baik

Act Green untuk Bumi yang lebih baik (ilustrasi: getgreenglobal)
UHANGKAYO - Gerakan Go Green dapat dilakukan mulai dari tingkat individu seperti yang dijelaskan pada poin Berpikir Green, hingga tingkat komunitas pada semua bentuk lini kehidupan. Tujuan utama adalah menghindari atau meminimalkan dampak negatif dari semua bentuk aktivitas pada lingkungan. Gerakan Go Green pada ruang lingkup yang lebih luas dapat dimulai dengan memanfaatkan ruang kosong sebagai ruang hijau.

Pepohonan sebagai elemen lanskap memberikan pengaruh yang signifikan dalam upaya mereduksi CO2 di atmosfer, berbagai polutan lainnya serta efisiensi dalam pemanfaatan energi. Ruang terbuka hijau seluas 1 hektar mampu menyerap 2,5 ton CO2 per tahun dan memproduksi 0,6 ton O2, serta mampu menurunkan suhu 5 hingga 8 derajat celcius. Hutan kota dapat menurunkan CO2 di atmosfer melalui dua cara. Pertama, melalui pertumbuhan pohon, pepohonan dapat merosotkan sejumlah CO2 dalam ukuran yang besar melalui fotosintesis, memisahkan atom karbon dari oksigen, dan melepaskan oksigen ke atmosfir. Dalam hal ini, pepohonan menyimpan karbon yang besar dalam strukturnya.

Kedua, pepohonan membuang karbon dari atmosfer melalui fotosintesis, memisahkan atom karbon dari atom oksigen, dan melepaskan kembali oksigen ke atmosfer. Dalam melakukan hal ini, pohon menyimpan karbon dalam jumlah yang besar pada tiap strukturnya, dan pertumbuhan tahunan meningkat seiring dengan bertambah jumlah karbon dalam strukturnya. Karbon merupakan komponen utama dari bentuk sel hidup, karbon pada pohon berfungsi sebagai bahan bangunan yang membentuk batang, akar, cabang, dan daun.

1) Go Green pada Perumahan

Pembangunan perumahan merupakan pengguna lahan tunggal terbesar di kota manampun. Terdapat empat tahap dalam pembangunan perumahan yang masing-masing memanfaatkan energi yang besar dan memberikan kontribusi pada sebaran emisi CO2, empat tahap itu adalah tahap produksi material, tahap konstruksi, tahap penggunaan, dan tahap penghancuran.[3] Empat tahap tersebut menjadi penentu dalam pembangunan perumahan yang Go Green atau ramah lingkungan.

Tahap penggunaan atau hunian memberikan sumbangan terbesar pada kosentrasi emisi CO2 di atmosfer dibandingkan dengan tahap lainnya. Disamping gaya hidup yang tidak ramah lingkungan, desain bangunan cenderung menjadi faktor pemicu pada gaya hidup yang lebih tidak ramah lingkungan. Desain rumah yang tidak sesuai dengan alam seperti yang meminimalkan bukaan sehingga menghalangi pencahayaan dan penghawaan secara alami, dapat menciptakan ketergantungan yang lebih besar pada energi listrik dari penggunaan lampu, kipas angin, maupun pendingin udara (AC).




Selain itu, minimnya pepohonan disekitar rumah menyebabkan penyinaran secara langsung yang meningkatkan suhu disekitar bangunan rumah sehingga dapat memicu permintaan energi listrik untuk penghawaan. Dengan menaungi secara langsung, pepohonan dapat mencegah terjadinya penyimpanan dan pemanasan awal dari energi surya. Pohon yang tepat pada lokasi yang tepat di sekitar bangunan rumah dapat mengurangi permintaan energi listrik pendinginan udara yang secara tidak langsung juga dapat menghindari terciptanya emisi CO2 di atmosfer melalui proses pembangkit listrik berbahan bakar fosil.[4],[5] Manfaat tahunan yang diberikan oleh pepohonan pada Perumahan Villa Duta dalam penghematan energi listrik msebesar 2,30% per rumah, sedangkan pada Perumahan Taman Yasmin sebesar 0,88%.[6]

Contoh bangunan hunian dengan konsep Go Green dapat ditemukan pada Desa Hargo Binangun, sebuah desa yang diperuntukkan akibat bencana alam Gunun Merapi oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan tetap mempertahankan kondisi alami setempat. Di kawasan Desa Hargo Binangun, Pakem, Sleman, berdiri satu pemukiman yang terdiri atas 150 shelter. Pembangunan unit-unit Integrated Community Shelter (ICS) mengikuti kontur alam, tidak ada penebangan pohon, atau meratakan tanah dengan bulldozer, kemampuan tanah menyerap air hujan juga dipertahankan dengan tidak mengaspal jalan antar-unit shelter. Setelah shelter selesai dibangun, ACT menempatkan relawan-relawan pendamping yang membimbing warga dengan pelatihan sederhana mengenai pengelolaan sampah.[7]

2) Go Green di Perkantoran

Penghijauan pada bangunan perkantoran yang memiliki lahan terbatas dapat dilakukan dengan mengembangkan roof garden (taman atap) atau vertical garden (taman vertikal). Berdasarkan definisi katanya, taman atap merupakan suatu taman yang tidak terletak di halaman rumah atau bangunan seperti biasanya. Pengertian umumnya adalah sebuah taman yang terdapat di atas atap suatu bangunan. Taman vertikal, yang biasa disebut dengan living wall merupakan sebuah taman atau ruang hijau di area perumahan/komplek dan akhirnya membuat lingkungan sekitar menjadi terasa gersang dan terkesan panas.[8]

Namba Park merupakan salah stau contoh bangunan perkantoran yang memiliki roof garden. Namba Park berlantai 30 di sertai dengan mall, tapi yang membuat Namba Park berbeda adalah taman atap yang bertingkat hingga delapan lantai dan memberikan perasaan yang sesungguhnya pada para pejalan seakan berada di puncak gunung padahal mereka tengah berada tengah kota.

Kegiatan di perkantoran membutuhkan energi listrik yang tinggi untuk dapat berjalan. Gerakan Go Green yang dapat dilakukan pada aktivitas perkantoran seperti:[9]

Optimalkan kebutuhan listrik
Pencahayaan buatan diperkiran menggunakan 44% listrik pada bangunan kantor. Cara yang paling sederhana untuk menghemat penggunaan listrik, menghemat uang adalah dengan memindahkan meja kerja berdekatan dengan jendela.

Maksimalkan penggunaan komputer
Penggunaan komputer pada sektor bisnis merupakan pengguna energi listrik yang sia-sia. Matikan komputer apabila tidak digunakan, dan atur komputer dalam keadaan sleep secara otomatis pada saat istirahat singkat yang akan menghemat penggunaan istrik hingga 70%. Matikan juga screen saver. Buatlah sebuah kebijakan mengenai komputer hemat energi, monitor, dan printer.

Cetak dokumen dengan lebih hemat
Rata-rata penggunaan kertas di kantor sekitar 10.000 lembar per tahun. Biasakan mencetak kertas depan belakang atau gunakan bagian kosong kertas dari dokumen lama untuk fax, kertas coretan, atau untuk draft. Telitilah sebelum mencetak, sedapat mungkin hindari penggunaan kertas jika bisa diditribusi melalui file.

Kembangkan lingkungan kantor yang sehat
Biasakan menggunakan produk pembersih yang tidak beracun.cerahkan ruangan kantor dengan tanaman, yang dapat menyerap polusi yang berasal dari dalam ruangan. Buatlah kebijakan untuk membeli perkakas, karpet, dan cat yang bebas dari volatile organic compounds (VOCs) yang tidak akan melepaskan gas kimia beracun.

3) Go Green Kawasan Industri

Peningkatan industri disebut sebagai faktor yang signifikan pada penyebab global warming, terutama penyumbang terbesar pada peningkatan kosentrasi CO2 di atmosfer. Berbagai bentuk industri memberikan dampak negatif yang berbeda bagi lingkungan pula, limbah industri lain dapat berupa partikel, aerosol, gas bahkan berbentuk cairan. Selain itu, kawasan industri juga dapat menimbulkan masalah kebisingan dan bau yang dapat mengganggu kenyamanan.

Salah satu upaya untuk menghindari atau menghambat terjadi masalah lingkungan berupa global warming dapat dilakukan dengan kegiatan penghijauan berupa kawasan hijau seperti pada lahan-lahan kosong, lahan bekas tambang, area sekitar pabrik, maupun berupa jalur hijau yang mengikuti jalan, dan tepi pantai. Pepohonan dalam kawasan industri merupakan suatu metode alami untuk menghindari terjadi peningkatan kosentrasi beberapa gas yang berbahaya bagi lingkungan, terutama gas CO2. Pepohonan bertindak sebagai wadah yang sangat besar untuk menyimpan karbon yang diproduksi oleh masyarakat indutri kita.

Pepohonan mereduksi emisi karbon secara langsung melalui kemampuan pohon dalam merosotkan karbon maupun secara tidak langsung dengan menurangi penggunaan energi listrik. Desain kawasan industri hendaknya juga dapat mencerminkan suatu lanskap yang dapat menampung konsep Go Green.

Selain untuk menghindari masalah global warming yang disumbangkan dari kegiatan yang berlangsung pada suatu daerah, kegiatan penghijauan juga dapat diarahkan untuk menanggulangi masalah tertentu pada kawasan tersebut dengan menggunakan jenis-jenis tumbuhan yang tepat. Beberapa contoh dalam kegiatan penghijauan, seperti penghijauan di sekitar daerah riparian dengan menggunakan jenis yang memiliki daya evapotranspirasi yang rendah dapat memperbaiki masalah berupa kuantitas dan kualitas air serta memperkecil erosi. Pepohonan di tepi jalan dapat berfungsi sebagai perosot karbon dioksida dari kendaraan yang melewati daerah tersebut, jenis-jenis pohon yang baik sebagai porosot CO2 seperti damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), dan beringin (Ficus benyamina).[10]

Bebauan yang ditimbulkan dari tempat pembuangan sampah sementara atau permanen dapat diatasi melalui penanaman dengan jenis pohon yang memiliki atau mengeluarkan bau harum yang berfungsi menetralisir bau busuk seperti cempaka (Michelia champa), dan tanjung (Mimusops elengi). Taman pada kawasan industri dapat berfungsi mengurangi stress, kesejukan dan kesegaran yang diberikan oleh pepohonan dapat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan dari aktivitas karyawan. Selain itu, pohon dalam bentuk taman dapat mengurangi kekauan dan kemonotonitas kawasan industri.[10]

___
[3] Seo S, Hwang Y. 2001. Estimation of CO2 Emissions in Life Cycle of Residential Buildings. Journal of Construction Engineering and Management 127 (5): 414 – 418 [terhubung berkala]. ASCE [15 Nov 2009].
[4]
[5]
[6] Milantara N. 2011. Pendugaan Manfaat Ekonomi Pepohonan pada Kawasan Perumahan Berbasis Penghematan Penggunaan Energi Listrik Dalam Rumah (Studi Kasus: Perumahan Villa Duta dan Perumahan Taman Yasmin, Kota Bogor) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB. Lihat sumber disini.
[7] Media Indonesia. 2011. ACT Bangun Hunian Go Green dan Terpadu. Media Indonesia [10 Mei 2011].
[8] Sulistyantara B, Joga N, Sintia M. 2009. Taman Atap. Jakarta: Kanaya Press, Bina Swadaya Group.
[9] Go Green at Work. go-green.ae  [10 Mei 2011].
[10] Dahlan N. 1992. Hutan Kota: Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. Jakarta: Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia.

Feb 17, 2012

Rumah Amfibi Pertama di Inggris sebagai Model Mengatasi Masalah Banjir

uhangkayo - Baca Architects baru-baru ini memperoleh persetujuan untuk membangun rumah amfibi pertama di tepi Sungai Thames, Inggris! Rumah tes ini akan menjawab isu tentang banjir yang semakin meningkat - yang merupakan masalah yang hampir terjadi di seluruh dunia akibat perubahan iklim. Saat terjadi pasang, rumah modern ini akan ikut naik dan mengambang, sehingga penghuninya tetap aman.

Rumah nyaman yang berukuran 738 kaki persegi (red: sekitar 68,5 m persegi) akan dibangun berdekatan dengan garis pantai sungai, yang hanya berjarak 32 kaki (red: 9,75 m). Tim Baca telah melakukan penelitian bertahun-tahun dengan model rumah yang tetap aman dan dapat ‘bersahabat’ dengan kondisi banjir. Perusahaan ini adalah pemimpin dalam arsitektur tepi air (waterfront* architecture), dan ini adalah tapak yang ideal untuk mengembangkan rumah tahan banjir.




Selama masa-masa kering, rumah akan berada tetap di fondasinya. Tetapi jika terjadi banjir, seluruh struktur akan terangka dari docknya, dan mengambang bersama dengan air banjir. Rumah itu akan dibangun di daerah rawan banjir yang disebut Zona Banjir 3b, yang terletak di sebuah pulau kecil di Sungai Thames Buckinghamshire.


Seperti kebanyakan rumah di Buckinghamshire, rumah ini akan didesain dengan atap bernada tradisional serta dengan karakteristik lain seperti halnya rumah yang terdapat di wilayah tersebut. Meskipun pada bagian luar akan sedikit berbeda sesuai dengan rancangan, rumah akan menjadi sangat efisien dalam penggunaan energi,  karena banyak isolasi dan performa kaca jendela. Taman sekitarnya akan ditanami sebagai baris pertama pertahanan terhadap banjir, dan rumah akan mulai bereaksi saat air mencapai titik tertentu, setelah memberikan pesan peringatan kepada penghuni.


Façade dari kayu ringan akan ditempatkan antara empat tonggak vertikal yang akan membuat struktur tetap ditempat. Pembangunan rumah ini direncanakan pada akhir tahun ini, dan akan menjadi sebuah model yang baik untuk menangani masalah banjir di seluruh dunia.

Sumber: inhabitat.com

Glosarium Uhangkayo: waterfront

Pengertian waterfront dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Sedangkan, urban waterfront mempunyai arti suatu lingkungan perkotaan yang berada di tepi atau dekat wilayah perairan, misalnya lokasi di area pelabuhan besar di kota metropolitan (Wrenn, 1983). Dari kedua pengertian tersebut maka definisi waterfront adalah suatu daerah atau area yang terletak di dekat/berbatasan dengan kawasan perairan dimana terdapat satu atau beberapa kegiatan dan aktivitas pada area pertemuan tersebut. - archilia.