Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Showing posts with label CITYgreen. Show all posts
Showing posts with label CITYgreen. Show all posts

May 13, 2012

Pendugaan Nilai Ekonomi Jasa Lingkungan Kawasan Hutan Konservasi di Wilayah Administrasi Lembah Kerinci


UHANGKAYO - Kompensasi jasa lingkungan yang diberikan oleh kawasan hutan telah menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Hal ini sepertinya juga sedang hangat-hangatnya dibicarakan di Lembah Kerinci dengan 51% wilayahnya merupakan hutan konservasi yang berada dalam pengelolaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Keberadaan hutan konservasi ini seringkali dianggap sebagai penghambat pembangunan bagi dua administrasi di lembah Kerinci. Kalau melihat dari sejarah perkembangan kawasan binaan (kota), selalu dimulai dari suatu kawasan kosong yang mampu mendukung kehidupan jangka panjang bagi suatu masyarakat, dan hutan menjadi pilihan bagi nenek moyang suku Kerinci. Adanya hutan adat maupun hutan larangan merupakan suatu bentuk pengakuan dari para pendahulu pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakatnya.

Besarnya tekanan dunia pada masyarakat sekitar hutan untuk menjaga hutan agar tetap lestari, bukanlah hal yang adil apabila masyarakat di belahan dunia lain dengan bebas mengeluarkan berbagai gas berbahaya bagi lingkungan melalui berbagai aktivitas industri mereka. Terlebih terdapat kesenjangan ekonomi yang besar antara masyarakat industri dengan masyarakat sekitar hutan.

Hal ini menjadi dasar lahirnya Protokol Kyoto tahun 1997, walaupun sebenarnya pada pertemuan-pertemuan tentang pemanasan global sebelumnya telah dibicarakan. Inti dari Protokol Kyoto merupakan usaha untuk menurunkan tingkat Gas Rumah Kaca sehingga berada pada level yang aman bagi kehidupan. Ada tiga mekanisme utama, yaitu: 1) Joy Implementation, 2) Clean Development Mecanism, 3) Emission Trading.

Emission trading menjadi pembicaraan yang hangat bagi negara-negara berkembang yang memiliki hutan alam yang luas untuk meminta imbal jasa dari hutan mereka. GRK sendiri bersifat global, sehingga jika suatu negara menemisikan GRK, negara lain juga dapat merasakan dampaknya. Negara-negara berkembang yang notabene belum ‘terkontaminasi’ oleh kegiatan industri memiliki hutan yang luas yang mampu 'melenyapkan’ keberadaan GRK di udara. Inilah menjadi dasar tuntutan masyarakat sekitar hutan (negara) untuk meminta imbal jasa dari keberadaan hutan mereka pada negara industri maju.

Namun, jasa lingkungan yang diberikan oleh kawasan hutan yang berada dibawah pengelolaan negara memiliki sistem birokrasi yang berbelit, sehingga seringkali tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Hal ini sangat berbeda dengan kawasan hutan yang berada dibawah pengelolaan adat, beberapa hutan adat telah berhasil diperjuangkan untuk mendapatkan kompensasi bagi masyarakat sekitarnya, seperti masyarakat Nagari Paninggahan.

Berapa Sih Nilai Ekonomi Jasa Lingkungan Hutan Konservasi di Lembah Kerinci?

Sementara, menunggu keberhasilan perjuangan para elit yang berada diatas untuk mendapatkan kompensasi dari jasa lingkungan yang diberikan oleh semua hutan konservasi di Indonesia. Ada baiknya kita menghitung kecil-kecilan berapa harga hutan konservasi di Lembah Kerinci (administrasi kabupaten maupun kota).

Untuk menghitung manfaat secara ekonomi dari suatu sistem alam bukanlah hal yang mudah, atau hampir tidak mungkin karena banyak aspek yang saling memiliki keterkaitan yang erat, mulai dari jasad renik yang ada di dalam tanah, air, hingga lingkungan diudara. Hal ini tentu saja berbeda dengan menilai hasil atau produk barang industri, yang dapat dihitung mulai dari modal bahan baku, upah pekerja, lamanya proses pembuatan, kemudian menjadi suatu produk akhir. Saking kompleksnya suatu sistem alam, penilaian manfaat ekonomi sistem alam seringkali dilakukan melalui pendekatan substitusi pada satu faktor (seperti pendekatan substitusi dengan biaya kesehatan pernafasan), serta mengabaikan faktor lainnya.

Saya mencoba menggunakan pendekatan spasial, melalui perangkat lunak CITYgreen (trial version) yang dikembangkan oleh American Forest. Di Indonesia, perangkat lunak (registered) ini telah digunakan oleh beberapa mahasiswa (tingkat sarjana maupun pascasarjana) untuk menyelesaikan tugas akhir mereka.

Nilai ekonomi yang didapat dari analisis CITYgreen pada suatu ruang hijau diharapkan dapat menjadi salah satu faktor penentu dalam perencanaan wilayah, bahwa ruang hijau memiliki nilai yang tidak kalah penting dibandingkan peruntukkan lahan untuk sektor pertanian, perdagangan, maupun bisnis. Lahan yang dipenuhi oleh pepohonan (hutan kota maupun hutan alam) bahkan menjadi faktor yang paling penting bagi suatu wilayah karena menjadi penentu bagi keberlanjutan wilayah tersebut.

Peta yang saya gunakan berasal dari Peta Administratif Wilayah Kabupaten Kerinci yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Peta ini berbentuk file dengan ekstensi jpg dan berukuran A0. Agar dapat digunakan dalam analisis, terlebih dahulu saya melakukan georeference. Luas digitasi Lembah Kerinci yang saya dapatkan dari peta hasil georeference ini hanya 3.742 km2, sedangkan luas hutan konservasi di wilayah administrasi Lembah Kerinci sebesar 2.289 km2. Nilai ini berbeda dengan luas resmi yang dikeluarkan oleh Kabupaten Kerinci (tahun 2006) sebesar 4.200 km2, dengan 51% atau 2.150 km2 merupakan lahan konservasi. Hanya ada dua kemungkinan untuk penjelasan diatas, 1) hasil georeference saya yang salah, atau 2) Lembah Kerinci perlu melakukan survey ulang terhadap wilayah administrasi mereka.

Namun, sekedar untuk melihat gambaran nilai ekonomi kawasan hutan konservasi, saya lakukan resize luas polygon administrasi Lembah Kerinci maupun hutan konservasi agar sesuai dengan informasi resmi. Analsisis dengan CG inipun hanya pada aspek Carbon Storage and Sequestration (Simpanan dan Rosot Karbon) serta Air Pollution Removal (Kualitas Udara), dan walaupun analisis CG melalui pendekatan spasial, namun resize polygon dari wilayah analisis untuk dua analisis ini tidak memberikan perbedaan hasil analisis yang signifikan.


Hasil analisis dari CG menunjukkan bahwa simpanan karbon melebihi 28,6 juta ton, dengan rosot mencapai 81.300 ton/tahun. Nilai ini bisa dikonversi kedalam Rupiah apabila telah ditetapkan harga karbon untuk hutan Indonesia. Sedangkan potensi hutan konservasi ini  membersihkan udara dari O3 mencapai 16,7 juta pon per tahun, atau setara dengan 51,3 juta dollar. Berikut adalah rekapitulasi hasil analisis dengan CG.


Tabel diatas merupakan nilai ekonomi yang mampu diberikan oleh hutan konservasi hanya dari simpanan karbon dan kemampuan hutan untuk membersihkan udara dari berbagai kontaminan. Nilai ekonomi yang diberikan dari simpanan karbon masih menunggu keputusan harga perdagangan karbon internasional untuk hutan Indonesia. Satu bentuk perdagangan karbon yang sukses adalah pada masyarakat Nagari Paninggahan yang memiliki 28 ha lahan kritis, dengan harga imbal jasa sebesar 280 juta untuk 10 tahun. Sebagai catatan, kerjasama ini terjadi pada lahan dibawah pengelolaan hutan adat, bukan dibawah pengelolaan pemerintah. Jika berkaca pada kesuksesan diatas dengan mengesampingkan tonase simpanan karbon, maka 2.150 km2 atau 215.000 ha luas hutan konservasi di administrasi Lembah Kerinci berharga 215 M per tahun. Nilai ini belum lagi dijumlahkan dengan Air Pollution Removal yang mencapai 1 T. Wow… jumlah yang menggiurkan, sangat menggiiiuuuurkan ...

Perhitungan nilai ekonomi dengan CG hanya pada Carbon Storage dan Air Pollution Removal saja, belum pada aspek pencegahan longsor, penghematan listrik, produksi O2, dan sebagainya. Berapa angka (nilai ekonomi) yang akan keluar jika dilakukan analisis secara teliti dan mencakup aspek jasa lingkungan lainnya? Bisa jadi nilainya lebih besar, atau bisa juga lebih kecil?

Nilai ekonomi dari jasa lingkungan ini juga dapat dibandingkan dengan nilai ekonomi yang akan diperoleh apabila lahan konservasi tersebut dikonversi menjadi lahan pertanian, perkebunan, atau sebagai kawasan perdagangan. Nilai ekonomi manakah yang lebih besar? Ini bisa menjadi sebuah ide untuk tugas akhir mahasiswa.

Apa anda berminat untuk mencari tahu?

Sambil menunggu keberhasilan perjuangan para elit diatas, sekarang yang penting adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mengembangkan kreativitas dalam mengelola administrasi Lembah Kerinci (termasuk kawasan konservasi) yang bergelar "Piece of Heaven Land".

Apr 14, 2012

Tutorial 1: Pengantar CITYgreen untuk ArcView



UHANGKAYO - CITYgreen (CG) merupakan sebuah aplikasi yang dapat menilai manfaat ekonomi sistem alami. Tool ini merupakan sebuah ekstensi dari ArcMap dan ArcView. Untuk dapat melakukan analisis dengan CG, haruslah terbentuk tiga theme pada ArcView. Tiga theme tersebut adalah 1) study site, 2) layer canopy, 3) layer noncanopy.

Study site hanya berisi informasi hasil digitasi tentang batas cakupan analisis, sedangkan layer canopy hanya memuat informasi tentang pohon-pohon yang berada di dalam study site. Layer noncanopy memuat informasi semua elemen dalam area studi selain pohon, seperti bangunan dan elemen perkerasan lainya, padang rumput, semak-belukar, lahan kosong, badan air, AC, dan berbagai tipe penutupan lahan lainnya.

Untuk menjalankan perangkat ini dibutuhkan citra satelit atau foto udara sebagai acuan/dasar dalam melakukan digitasi tiga layer diatas. Citra satelit bisa didapat dari hasil capture citra yang terdapat di Google Earth, namun sebelum dapat digunakan citra ini haruslah di registrasi terebih dahulu. Registrasi merupakan sesuatu yang sangat penting dan menuntut ketelitian yang tinggi, karena ketelitian analisis CG ini bergantung pada citra satelit yang ada. Jika registrasi peta salah atau tidak teliti, besar kemungkinan hasil analisis juga memberikan nilai dengan bias yang besar.

Membuat Theme Study Site, Canopy, dan NonCanopy

Pada dasarnya masing-masing theme ini dibuat dengan cara yang sama yaitu digitasi, namun perlakuan yang kita berikan kepada tiga theme haruslah berbeda. Bagi orang-orang yang pernah berkenalan dengan ArcView tentu tidak sulit untuk membuat theme maupun digitasi on screen pada ArcView. Berikut sekilas tutorial digitasi di ArcView yang sempat ditanyakan oleh rekan-rekan.

1. Buka citra satelit lokasi penelitian di ArcView.
Citra Satelit QuickBird dari Google Earth
2. Buat theme baru dari menu View >> New Theme >> Polygon pada Feature Type, klik OK dan simpan dengan nama Study Site. Kemudian digitasi wilayah penelitian (study site) sesuai dengan batas wilayah yang telah di tetapkan. Lakukan hal yang sama untuk Theme Canopy, dan Theme NonCanopy.
Theme Study Site CITYgreen.
Theme NonCanopy CITYgreen.
Theme Canopy CITYgreen.
3. Setelah digitasi batas wilayah selesai. Buka Theme Table, pada menu Edit, pilih Add Field untuk mendefinisikan lokasi penelitian. Isi sesuai dengan lokasi penelitian.

4. Sedangkan perlakuan untuk theme Canopy dan NonCanopy sedikit berbeda. Kedua theme ini perlu perlakuan dari menu CG, agar analisis dapat dijalankan.


5. Pada menu CITYgreen, pilih Add/Update Data sehingga muncul jendela baru. Pilih/isi sesuai dengan kondisi tapak yang sesuai (i.e Canopy atau NonCanopy). Jika telah selesai dan berhasil, maka polygon pada theme Canopy akan berubah warna menjadi hijau, dan merah pada theme NonCanopy seperti gambar diatas.

6. Pilih Stop Editing pada menu Table. Klik Yes untuk menyimpan hasil digitasi Study Site.

7. Selesai.

Apr 1, 2012

CITYgreen; Calculating the Value of Nature



UHANGKAYO - CITYgreen® merupakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh American Forest ekstensi untuk ArcView maupun ArcMap GIS. CITYgreen® menyediakan fasilitas untuk memetakan, mengukur, menampilkan, dan secara statistik menganalisis jasa lingkungan yang diberikan oleh pepohonan dan vegetasi serta menghitung manfaat ekonomi (dalam dollar) berdasarkan kondisi tapak. CITYgreen® mulai dikembangkan sejak tahun 1996, yang merupakan perangkat lunak pertama yang komprehensif, mudah digunakan dalam membuat keputusan keuangan untuk hutan kota. CITYgreen® dikembangakan dengan mewakili kolaborasi antara pihak akademik dan profesional konservasi kota, berdasarkan pandangan science yang up-to-date. CITYgreen® merupakan hasil gabungan yang didasari dari hasil penelitian yang telah diadakan sebelumnya oleh U.S. Forest Service dan Lawrence Livermore Laboratory. Para peneliti yang telah memberi dasar terbentuknya CITYgreen® adalah Nowak, McPherson, serta Akbari, dan beberapa peneliti lainnya.[1]

Analisis dalam CITYgreen® merupakan hasil dari penelitian dasar yang telah berlangsung dari beberapa dekade. CITYgreen® memiliki empat kategori untuk menilai manfaat ekosistem pada tingkat lokal maupun regional berdasarkan representasi dari geografis wilayah studi, yaitu:
  1. Air Quality yang mendeskripsikan seberapa besar jumlah polutan yang mampu dibuang dari atmosfer; 
  2. Carbon Storage and Sequestration yang mendeskripsikan nilai karbon tersimpan dan rosot per tahun; 
  3. Residential Cooling Effects mendeskripsikan energi listrik yang mampu dihemat dengan mengurangi jumlah penggunaan energi dalam rumah; 
  4. Stormwater Control mendeskripsikan jumlah aliran permukaan yang mampu diserap dan menghindari aliran ke badan air.
Selain itu, CITYgreen® juga mampu memprediksi pertumbuhan pohon hingga 50 tahun mendatang, serta mampu membuat sebuah model atau skenario manfaat pepohonan pada lingkup ketetanggaan hingga perkotaan dengan lebih efisien.[2]

Dalam hubungan dengan mitigasi urban heat island, CITYgreen® sebagai alat yang pada tahap awal berguna untuk mengelompokkan potensi mitigasi pada suatu lokasi dengan kondisi awal yang beragam; bagaimanapun, sebuah model sanggup mengelompokkan pada spasial area yang luas dengan beragam penggunaan lahan, tanaman yang berbeda, dan pilihan atap (termasuk teknologi atap putih maupun hijau) dan dapat memberikan proyeksi manfaat serta biaya strategi mitigasi UHI yang lebih baik untuk periode waktu yang lama.[3]

Perangkat lunak CITYgreen® sebagai alat untuk mengukur manfaat green infrastructure mendapat sambutan yang baik dan telah digunakan pada banyak kota di Amerika. Kebanyakan pengguna dari pemerintah setempat menemukan bahwa analisis CITYgreen® menjadi satu cara kuantitatif yang dibutuhkan untuk memperkuat pendapat mereka dan merasionalkan sesuatu yang sering diperdebatkan secara emosional. Model CITYgreen® dapat membantu mengkomunikasikan gagasan yang komplek kedalam cara yang lebih efektif dan mudah untuk dipahami.[2] CITYgreen® dipromosikan menjadi sebuah alat yang dapat mempengaruhi kebijakan publik tentang ruang hijau perkotaan terutama pohon. CITYgreen® membantu memandu kebijakan pada infrastruktur hijau kota. Program ini telah meningkatkan perhatian pada hilangnya hutan kota, dan membimbing perubahan kebijakan pada beberapa daerah dan negara di Amerika. American Forest bersama CITYgreen® telah berhasil meningkatkan nilai hutan kota dan kerugian secara ekonomi apabila hutan kota tersebut hilang.[1]

CITYgreen® telah membantu berbagai kalangan memahami nilai pepohonan bagi lingkungan lokal.[4]
  • Para profesional bidang perencanaan dan sumberdaya alam menggunakan perangkat lunak untuk menguji kebijakan lanskap, evaluasi perencanaan tapak, dan model skenario pengembangan yang menghitung manfaat pepohonan.
  • Para insinyur dapat menaksir dampak yang akan terjadi dengan hilangnya pepohonan dari biaya pengendalian banjir.
  • Perencana Hutan Kota menjadikan CITYgreen sebagai alat untuk meningkatkan pemeliharaan, penanaman, dan preservasi.
  • Pendidik mengajarkan ilmu kehutanan, ilmu lingkungan, lanskap arsitektur, dan perencana kota.
  • Pengembang dapat menghemat uang dari kontrol erosi dan pengelolaan banjir.
  • Pihak pengambil kebijakan dapat mengukur manfaat kualitas udara dari ruang terbuka hijau.
American Forest telah melaporkan manfaat ekosistem pada banyak negara bagian sejak tahun 1996 hingga sekarang dengan menggunakan CITYgreen®. Hasil-hasil penelitian dari American Forest telah dipublikasikan dalam bentuk laporan Urban Ecosystem Analysis untuk masing-masing negara. Manfaat eksositem yang dilaporkan oleh American Forest dengan CITYgreen® pada San Antonio tahun 2002 menunjukkan nilai penghematan listrik yang diberikan oleh bayangan pohon pada perumahan yang berlantai satu dan dua mencapai $76 per rumah per tahun, dengan manfaat total dari perumahan San Antonio sebesar $17,6 juta dari bayangan langsung pepohonan. Dengan kanopi sebesar 20% dari total area 788.000 acres (318.893,56 ha), hutan kota di San Antonio menyimpan karbon lebih dari 7 juta ton dengan penyerapan karbon tahunan sebesar 56 ribu ton.[5] Penelitian pada kota di Colorado mendapatkan hasil penghematan energi $50 per rumah dengan penghematan total tahunan sebsar $4,5 juta.

Perangkat lunak ini juga telah dicoba pada Negara China untuk menilai manfaat ekologi pada kota Nanjing. Pepohonan pada kota Nanjing menyimpan karbon sebesar 730 kt dengan penyerapan karbon mencapai 5,8 kt per tahun.[6] Sedangkan pada kota Shenyang (Ibu kota Propinsi Liaoning, China), manfaat yang diberikan 19.944 pohon pada hutan kota mencapai US$16.318 per tahun dalam membuang polutan dari udara.[7]

Satu penelitian menggunakan CITYgreen di Indonesia dilaksanakan pada dua perumahan untuk melihat nilai dari keberadaan pepohonan yang ada. Manfaat pepohonan dari aspek konservasi energi menunjukkan terjadi pengehematan listrik lebih dari 43 juta/tahun dari bayangan pohon pada Perumahan Villa Du*a, sedangkan pada Perumahan Taman Yas*in penghematan listrik sebesar 90 juta/tahun. Ditinjau dari aspek simpanan dan rosot karbon, Perumahan Villa Du*a menunjukkan simpanan karbon sebesar 331 ton dengan rosot melebih 4 ribu kg/tahun, dan pada Perumahan Taman Yas*in tersimpan karbon sebesar 376 ton dengan daya rosot melebihi 7 ribu kg karbon/tahun.[8]


___
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]

[8]