Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Mar 1, 2013

Pariwisata Lembah Kerinci: Referensi (Bagian 2)

Penulis: Milantara 

UHANGKAYO.webs.com - Artikel kali ini hanya mencoba mendeskripsikan tentang "Referensi Wisata" yang berisi tentang rujukan-rujukan dari berbagai literatur.

4. Pengembangan Pariwisata

Pariwisata adalah satu kesatuan tersendiri, ia hidup bukan karena adanya aspek lain yang telah berdiri terlebih dahulu, justru pariwisatalah yang menghidupan aspek/sektor lain, inilah yang sering disebut bahwa pariwisata bersifat multiplier effect. Namun bagaimanapun pariwisata kadang membutuhkan sarana wisata dan prasarana penunjang lainnya untuk mem-boost perkembangan wisata.

Peta Potensi Wisata Lembah Kerinci, klik disini untuk lebih jelas.

Dalam bukunya, Soekadijo menulis pariwisata dapat dilihat dari dua aspek, yaitu: 1) parwisata sebagai mobilitas spasial, dan 2) pariwisata sebagai industri. Membaca penjelasan yang ada di buku tersebut, maka dapat diinterpretasikan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah 'menghadirkan' wisatawan pada suatu daerah tujuan wisata, dengan syarat utama adalah adanya kecocokan/kesesuaian pada supply dengan demand. Dan ini juga yang menjadi tolak ukur keberhasilan pada aspek mobilitas spasial.

Pengembangan pariwisata dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan supply dan/atau pendekatan demand. Pendekatan supply menitikberatkan pada aspek potensi yang dimiliki oleh suatu daerah, sedangkan pendekatan demand dilakukan dengan sebaliknya yaitu dengan melihat trend wisata yang sedang terjadi. Masing-masing pendekatan mewajibkan syarat yang berbeda, seperti umum untuk menghadirkan wisatawan mengunjungi suatu daerah yang tidak memiliki kesesuaian potensi dengan motif dari wisatawan tentu akan membutuhkan dana yang tidak sedikit, terutama dalam penyediaan objek dan atraksi yang sesuai dengan motif wisatawan yang sedang trend.

Hall (2000) menulis bahwa suatu kawasan harus memiliki tiga faktor utama berupa atraksi, fasilitas, dan aksesabilitas agar dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Soekadijo (2000) juga menulis bahwa terdapat beberapa determinan yang dapat menciptakan pariwisata yaitu atraksi wisata, jasa wisata, dan transferabilitas, serta pemasaran. Atraksi wisata, jasa wisata, dan transferabilitas merupakan syarat mutlak untuk pariwisata, yang berarti kalau ada pariwisata ketiga determinan tersebut pasti ada, akan tetapi tidak sebaliknya, calon wisatawan masih harus diberitahu bahwa ada atraksi wisata, ada angkutan ke tempat atraksi, dan ada jasa yang tersedia kalau mengadakan perjalanan kesana. Kegiatan ini merupakan pemasaran yang merupakan syarat memadai. Syarat mutlak besama-sama dengan syarat memadai barulah menimbulkan hasil, yaitu pariwisata. Sehingga untuk mengembangkan suatu daerah menjadi tujuan wisata haruslah terpenuhi semua kriteria tersebut.

Pilihan pendekatan mana yang akan digunakan dalam perencanaan pengembangan pariwisata tentu harus memperhatikan berbagai aspek mulai dari aspek supply, demand, SDM, kapital hingga politik. Namun dengan berbegai keterbatasan, tentunya keberhasilan suatu pengembangan pariwisata haruslah menghindari ego pengelola/perencana, dan melihat secara lebih bijak pada semua faktor.

Sedangkan sebagai suatu industri wisata, maka penekanannya lebih pada aspek ekonomis, yang mencakup produsen, produk serta konsumen yang menikmati. Pariwisata sebagai sebuah industri menjadi sesuatu yang lebih kompleks dibandingkan dengan industri lainnya, karena industri pariwisata merupakan industri jasa pelayanan yang terdiri dari tindakan dan interaksi yang merupakan kontak sosial secara langsung antara produsen dan konsumen.

Kompleksitas industri pariwisata juga diakibatkan karena bukan hanya hanya satu 'produsen' saja yang berperan, namun melibatkan banyak 'produsen' dari berbagai sektor. Seorang wisatawan tentunya akan menggunakan jasa transportasi untuk mengunjungi suatu DTW, jasa penginapan saat berada di DTW, hingga menikmati objek dan atraksi wisata, serta berbagai 'produsen' lainnya. Sehingga dibutuhkan adanya sinergi yang baik antar masing-masing 'produsen' yang terlibat untuk dapat memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat.

Produk Wisata

Disamping itu, terdapat perbedaan antara produk wisata dengan produk umum lainnya (manufaktur). Mengutip dari Soekadijo (2000) diantaranya yang terpenting adalah: Pertama, produk wisata tidak dapat dipindahkan, namun harus dinikmati di lokasi produk tersebut diproduksi; Kedua, wujud produk wisata ditentukan oleh konsumen sendiri, yaitu wisatawan. Wisatawanlah yang memilih objek/atraksi, angkutan, penginapan, hingga lama tinggal; Ketiga, pengalaman merupakan satu-satunya yang diperoleh oleh konsumen (wisatawan) yang membeli produk wisata.

Hal senada juga disampaikan oleh Suyitno (2001), ia memberikan beberapa batasan produk wisata, yaitu:

  • Tidak berwujud (intangible) dalam artian wisata hanya memberikan kesan atau pengalaman kepada wisatawan.
  • Wisata tidak dapat diukur secara kuantitatif (unmeasurable), pengukuran melalui kelas wisata, seperti deluxe, standard, economy, atau bedasar budget.
  • Wisata merupakan produk yang tidak tahan lama dan mudah kadaluarsa (perishable) serta masa jual terbatas.
  • Tidak dapat disimpan (unstorable) .
  • Melibatkan konsumen (wisatawan) dalam proses produksinya.
  • Proses produksi dan konsumsi terjadi dalam waktu yang sama.
5. Analisis Perencanaan Pariwisata

Dalam perencanaan pariwisata, pada umumnya analisis yang digunakan hanya sebatas analisis SWOT (WOTS-UP) saja. Hal ini berdampak pada tingginya nilai subjektifitas yang berarti ego planner menempati andil yang besar. Sehingga diperlukan satu analisis lain untuk mengawali analisis SWOT ini. Analisis skoring dapat menjadi awal yang baik untuk menentukan parameter-parameter yang termasuk dalam kelompok Strengths (S), Weaknesses (W), Opportunities (O), atau Threats (T).

Dikutip oleh Gunn (1993) dari Rose (1984), planning is a multimensional activity and seeks to be integrative. It embraces social, economic, political, psychological, antropological, and technological factors. It si concerned with the past, present and future.

Ada cukup banyak metode skoring yang beredar dalam menilai suatu potensi suatu kawasan, salah satunya adalah melalui Kriteria Penilaian dan Pengembangan Obyek Wisata Alam dari Departemen Kehutanan dengan SK Dirjen PHKA No. 51/Kpts/DJ – VI/93 tanggal 11 Mei 1993 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Daerah Operasi Obyek Wisata Alam. Dalam buku Ekoturisme (Avenzora 2008), metode ini telah dilakukan oleh Milantara (2005) untuk menilai salah satu potensi objek wisata di Taman Nasional Kerinci Seblat. Kriteria Penilaian ini berbentuk tabel yang terdiri atas 10 kriteria yang mampu mengkombinasikan beberapa kepentingan yang dimaksud, masing-masing kriteria ini memiliki bobot yang berbeda.

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Alat yang dapat dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrik SWOT. Rangkuti (2000) menulis bahwa analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan Strengths dan Oppurtinities, namun secara bersamaan dapat meminimalkan Weaknesses dan Threats. Matrik SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana lingkungan eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi perusahaan, agar dapat disesuaikan dengan lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) yang dimiliki. Analisis ini menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis.

Matriks SWOT


Referensi:
Avenzora R. 2008. Ekoturisme: Teori dan Praktek. Nias: BRR NAD.
Cooper C, J Fletcher, D Gilbert, S Wanhill, R Shepherd (editor). 1998. Tourism: Principles and Practice Second Edition. England: Pearson Education Limited.
Godfrey K, C Jackie. 2000. the Tourism Development Handbook. London-New York: Cassell.
Gunn CA. 1993. Tourism Planning: Basic, Concepts, Cases. Washington: Taylor & Francis.
Gunn CA. 1997. Vacationscape: Developing Tourist Areas. Washington: Taylor & Francis.
Hall CM. 2000. Tourism Planning: Policy, Processes, and Relationship. England: Pearson Education Limited.
Rangkuti F. 2000. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Soekadijo RG. 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai “Systemic Linkage”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Suyitno. 2001. Perencanaan Wisata. Yogyakarta: Kanisius.

Pariwisata Lembah Kerinci: Referensi (Bagian 1)

Penulis: Milantara  


UHANGKAYO.webs.com - Artikel kali ini hanya mencoba mendeskripsikan tentang "Referensi Wisata" yang berisi tentang rujukan-rujukan dari berbagai literatur.

1. Definisi dalam Dunia Wisata

Undang-undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan mendefinisikan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Undang-undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan tersebut juga memberikan banyak definisi tentang istilah yang terdapat dalam dunia wisata. Untuk mendapatkan UU ini, silakan download disini atau klik disini.
World Tourism Organization (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai “the activities of persons travelling to and staying in places outsides  their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”. Kemudian Yoeti (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai segala sesuatu yang “berhubungan dengan wisata terutama pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait dengan bidang tersebut”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008) pariwisata adalah kata benda yang diartikan “berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi”. Sedangkan dalam Oxford English Dictionary kata tourism lebih mengacu pada kata wisata yang diartikan tentang “perjalanan untuk mengisi waktu luang (leisure time)”.

Hornby dalam Suyitno (2001) menyatakan bahwa wisata adalah sebuah perjalanan di mana seseorang dalam perjalanannya singgah sementara di beberapa tempat dan akhirnya kembali lagi ke tempat asal dimana ia mulai melakukan perjalanan. Suyitno (2001) menyimpulkan bahwa wisata berbeda dengan perjalanan dalam hal:

  • Pemakaian waktu yang relatif cepat.
  • Melibatkan komponen wisata seperti objek wisata, toko cinderamata.
  • Wisata dilakukan dengan mengunjungi objek dan atraksi wisata daerah.
  • Tujuan wisata untuk mendapatkan kesenangan.
  • Tidak untuk mencari nafkah di tempat tujuan.
2. Supply Wisata

Sumberdaya (supply) wisata dapat dipahami sebagai semua dan apa saja yang karenanya dapat menarik orang untuk datang. Sumberdaya wisata dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu: sumberdaya utama yang merupakan sumberdaya yang mempunyai daya tarik paling kuat dan biasanya mewakili faktor kunci yang membuat wisatawan datang. Kedua, sumberdaya pendukung yang merupakan sumberdaya pelengkap yang menambah daya tarik bagi pengunjung, tapi bukan alasan utama kehadiran wisatawan (Godfrey dan Clarke, 2000). Senada dengan Godfrey dan Clarke, Soekadijo (2000) menulis ada modal kepariwisataan yang dapat menahan wisatawan selama berhari-hari dan dapat berkali-kali dinikmati, bahkan pada kesempatan lain wisatawan mungkin kembali lagi ke tempat yang sama. Atraksi ini adalah atraksi penahan. Sebaliknya, ada juga atraksi yang hanya dapat menarik kedatangan wisatawan yang diistilahkan dengan atraksi penangkap wisatawan (tourist catcher), yang hanya sekali dinikmati kemudian ditinggalkan oleh wisatawan.

Lebih jauh Soekadijo (2000) menulis bahwa ada tiga modal kepariwisataan yang menjadi daya tarik bagi pengunjung, pertama potensi alam baik itu alam fisik, flora dan/atau faunanya. Kedua, berupa potensi budaya yang berkaitan dengan act dan artifact (tingkah laku dan hasil karya), seperti segala kebiasaan yang hidup dalam masyarakat hingga peninggalan-peningalan atau tempat-tempat bersejarah. Ketiga berupa potensi manusia itu sendiri, seperti kegiatan perlombaan maupun sekedar ingin bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat (idola).

Hubungan antara Supply dan Demand Wisata (Gunn 1997).

Gunn (1997) dalam bukunya Vacationscape memberikan definisi supply wisata sebagai pengembangan fisik dan program yang bertujuan menyediakan kebutuhan dan keinginan wisatawan. Kemudian ia menggambarkan fungsional sistem dalam wisata. Pertama, gambar tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara demand dan supply. Kedua, model yang ia buat juga menunjukkan bahwa supply dibangun dari 5 komponen: atraksi, pelayanan & fasilitas, transportasi, informasi, dan promosi. Pada komponen Transportasi, Gunn (1997) menjelaskan bukan hanya sarana angkutan saja, namun juga pada prasarana seperti jalan. Dan ini sedikit berbeda dengan yang di tulis oleh Soekadijo (2000), dalam hal ini Soekadijo membatasi prasarana pariwisata (jalan, bandara, atau fasilitas fisik lainnya) sebagai sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan pariwisata, namun bukan pariwisata.

3. Demand Wisata

Permintaan wisata adalah jumlah orang yang melakukan perjalanan, atau ingin melakukannya, menggunakan fasilitas dan pelayanan wisata pada tempat yang jauh dari rumah dan jauh dari tempat kerja mereka (Mathieson dan Wall, 1982 dalam Cooper et al, 1998). Selanjutnya Cooper et al menuliskan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang mempengaruhi total permintaan wisata:

  1. Permintaan efektif atau permintaan aktual (effective or actual demand) adalah sejumlah orang yang yang benar-benar melakukan perjalanan, yaitu wisatawan. Komponen permintaan ini yang biasanya dan mudah untuk diukur.
  2. Permintaan tertahan (suppressed demand) merupakan sejumlah orang yang tidak melakukan perjalanan karena beberapa alasan. Permintaan tertahan dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, permintaan potensial (potential demand) yang menunjukkan orang yang akan melakukan perjalanan pada waktu tertentu pada masa yang akan datang jika keadaan mereka berubah. Seperti tingkat belanja meningkat, atau mungkin tersedianya biaya lebih untuk liburan mereka. Kedua permintaan yang ditunda (deffered demand) karena masalah pada lingkungan penawaran, seperti kapasitas akomodasi yang kurang, kondisi cuaca atau mungkin kegiatan teroris.
  3. Terakhir adalah orang yang tidak ingin untuk melakukan perjalanan atau tidak dapat melakukan perjalanan. Kategori ini termasuk kedalam tanpa permintaan (no demand).
Ada beberapa faktor yang dapat membuat orang melakukan perjalanan atau dapat disebut sebagai motif wisata. Cooper et al (1998) dan Soekadijo (2000) mengutip sebuah tulisan McIntosh et al (1995) bahwa motif perjalanan dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu:
  1. Dorongan fisik (physical motivators), yaitu motif yang berhubungan dengan keinginan untuk menyegarkan tubuh dan jiwa, dengan tujuan kesehatan, seperti olahraga, istirahat dan sebagainya. Motif ini sepertinya berhubungan dengan aktifitas yang akan mengurangi ketegangan (tension).
  2. Dorongan budaya (cultural motivator), yang dapat dikenali dari keinginan untuk melihat dan mengetahui kebudayaan lain, untuk mengetahui penduduk asli suatu daerah dengan keseharian mereka, musik, kesenian, cerita rakyat, tarian, dan sebagainya.
  3. Dorongan interpersonal (interpersonal motivator), yang berhubungan dengan keinginan untuk bertemu keluarga, teman, dan untuk mencari pengalaman baru yang berbeda. Perjalanan merupakan sarana untuk melepaskan rutinitas.
  4. Dorongan status atau prestise (status and prestige motivators), yang termasuk pada keinginan untuk melanjutkan pendidikan (pengembangan diri, perbaikan diri). Dorongan seperti ini lebih memfokuskan diri pada pengakuan dan perhatian dari orang lain, dengan kata lain gengsi (status) akan naik.

Feb 28, 2013

Pariwisata Lembah Kerinci: Pengantar

 
Penulis: Milantara
 
UHANGKAYO.webs.com - Pariwisata, adalah salah satu kata yang paling sering didengar, terutama saat berbicara tentang peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Lanskap Lembah Kerinci menawarkan keindahan alam yang luar biasa, yang tidak hanya diakui oleh masyarkat setempat namun juga diakui oleh sejumlah wisatawan mancanegara maupun lokal yang pernah mengunjungi Lembah Kerinci. Sehingga secara tidak langsung memperkuat mindset yang telah ada dalam masyarakat Lembah Kerinci, bahwa Lembah Kerinci memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Hal ini tentunya diikuti dengan harapan akan terjadinya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata. Akan tetapi, hingga saat ini sektor pariwisata belum memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Lembah Kerinci, sehingga bagi masyarakat Lembah Kerinci, kata pariwisata memberi  'stimulan' negatif.

Dikutip dari situs bahasa.net:
According to the Lonely Planet's GuideBook, Kerinci is "one of the most beautiful places in Sumatra." Despite its beauty, it remains one of the less known places of Sumatra. There is very little tourism, although the regional government has recently made some efforts to attract more visitors to this beautiful place. Most people come here to climb the active vulcano Gunung Kerinci or to explore the Kerinci Seblat National Park - one of the strongholds of endangered species like the Sumatran tiger and Sumatran rhinoceros. But Kerinci has more to offer than there two major attractions.

Lembah Kerinci dengan topografi yang bergunung menawarkan sejumlah fenomena alam yang beragam dan unik, seperti Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh, air terjun, hingga mata air panas alam. Selain itu, Lembah Kerinci  yang terisolasi juga menawarkan sejumlah flora dan fauna endemik. Dari segi antropologi, diduga masyarakat Lembah Kerinci lebih tua dari suku bangsa Inca (Indian) di Amerika, walaupun asal muasalnya belum jelas . Namun hingga saat ini, kekayaan kondisi Lembah Kerinci ini belum mampu menarik sejumlah wisatawan untuk berkunjung.


Dalam artikel tentang Wisata Lembah Kerinci ini, terbagi kedalam enam tulisan, yaitu:


1. Definisi, Supply, dan Demand
Undang-undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan mendefinisikan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. ~> klik disini untuk membaca lebih detil


2. Analisis dan Pengembangan Wisata
Suatu kawasan harus memiliki tiga faktor utama berupa atraksi, fasilitas, dan aksesabilitas agar dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Sedangkan untuk menciptakan pariwisata dibutuhkan pemasaran. ~> klik disini untuk membaca lebih detil


3. Usaha Pembangunan
Namun, saat ini sudah ada pembicaraan dengan investor, yang siap membangun 1.000 home stay di Kerinci. "Kita masih melakukan penjajakan terlebih dahulu, kalau memang sama-sama menguntungkan akan kita laksanakan," bebernya.  ~> klik disini untuk membaca lebih detil


4. Potensi Demand
Katja_nsk (Novosibirsk, Russia: Lembah Kerinci - “A place to be for nature lovers”.  We went to Kerinci Valley to climb Mt. Kerinci (which was fantastic, see separate review), but we discovered that there were so much more to it! ~> klik disini untuk membaca lebih detil


5. Potensi Pasar
Beberapa objek wisata di Lembah Kerinci telah mulai dilirik oleh para pengusaha, tidak sedikit dari agen tour dan travel menawarkan paket wisata menuju objek wisata di Lembah Kerinci. Hanya saja objek wisata yang ditawarkan pada umumnya berada pada kawasan dataran tinggi Lembah Kerinci. ~> klik disini untuk membaca lebih detil


6. Analisis
Sumberdaya Manusia (atau) pengelola memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan Pariwisata Lembah Kerinci. Karena, disinilah titik awal keberhasilan atau kegagalan pembangunan pariwisata. ~> klik disini untuk membaca lebih detil

Dec 30, 2012

NEW Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci ©LembahKerinci

Tahun Baru 2013 sudah mulai nonggol nie..

Apa sobat-sobat sudah mempersiapkan rencana untuk tahun 2013 yang akan menjelang ini? Namun ada baiknya rencana kegiatan tersebut sobat sesuaikan dulu dengan kalender 2013, agar apapun rencana sobat tidak berantakan. Dapatkan Kalender Meja 2013 dengan wallpaper lanskap Lembah Kerinci dapat secara gratis dibawah ini, asli buatan blog tercinta ©LembahKerinci. Print kalender ini pada kerta foto ukuran A4, lipat pada garis horizontal, kemudian lem pada tempat yang telah ditentukan.

Selain dapat menjadi penghias meja yang unik, kalender ini juga dapat membentu sobat lebih mengagumi keindahan alam Lembah Kerinci.




Dapatkan "New Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci" selengkapnya, pada tombol dibawah ini.



Menjaga Kelestarian Alam


"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian.  Maka daripadanya mereka makan”. (Q.S. Yasin [36]  :  33)

Hutan merupakan karunia Ilahi kepada manusia, sebagai sumber kehidupan. Ia memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan. Dalam hutan tumbuh berbagai macam tanaman, baik kayu maupun non kayu. Dengan kayu, manusia dapat membangun tempat tinggal, membuat perabotan rumah tangga serta berbagai jenis peralatan lainnya. Dalam hutan juga terdapat buah-buahan dan sayur-sayuran sebagai sumber zat gizi nabati serta tanaman obat-obatan.

Pandangan Islam Tentang Hutan

Dari sudut pandang Islam, hutan dengan segala sebagai bagian dari ciptaan-Nya. Hutan dan alam semesta ini ditundukkan oleh Allah SWT demi melayani kebutuhan manusia yang telah dinobatkan oleh Allah sebagai Khalifah, dengan firman-Nya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 30).

Manusia sebagai khalifah adalah hamba Allah SWT yang wajib menjaga dan memelihara bumi ini serta mengelolanya dengan arif dan bijaksana, tidak boleh melampaui batas. “Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat balk, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash [28] : 77).

Selanjulnya Allah SWT juga berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Rumm [30] : 41)

Manusia bukan pemilik hutan, pemilik sejatinya hanyalah Allah. Manusia hanya pemanfaat, hak guna pakai. Mohammad Qutb, didalam bukunya “Manhaj Tarbiyah fi al-Islam”, menerangkan bahwa fungsi khalifah itu memiliki tugas:
  1. Beribadah kepada Allah.
  2. Membangun kemakmuran di bumi atau dengan kata lain melestarikan kehidupan di bumi.

Sebagai pengambil manfaat manfaat dari alam, harus memperhatikan kelestariannya dan keberlangsungannya bagi generasi yang akan datang. Kerusakan apapun yang dilakukan manusia di tempat manapun di bumi ini akan menimbulkan dampak di tempat lain. Pengelolaan yang baik dan pemeliharaan nya adalah suatu keharusan. Oleh sebab itu pemeliharaan atas sumber-sumber perekonomian seperti hutan adalah erat hubungannya dengan kehidupan manusia yang bergantung kepada sumber daya alam pada umumnya. Allah berfirman, “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Al Jatsiyah [45] :  13).

Kita Dilarang Melakukan Pengrusakan

Syari'at Islam menolak kita untuk melakukan pengrusakkan. Penyia-nyiaan tanah pertanian dan  membiarkan nya sedemikian rupa yang dapat merugikan diri atau orang lain dipandang sebagai pengingkaran atas nikmat Allah serta tidak bersyukur atas nikmat tersebut.

Dalam konferensi lingkungan hidup PBB di Stockholm Swedia tahun 1972 dikatakan bahwa lingkungan adalah sebagai tempat cadangan sumber daya materi dan sosial kapan dan dimana saja dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam adalah hilang nya pengertian ibadah dalam diri ummat dimana urusan keduniaan dan kemasyarakatan dikesampingkan dari pemahaman agama. Padahal Allah SWT sebetulnya menetapkan integritas pemahaman ibadah termasuk didalamnya untuk kepentingan dunia dan untuk kepentingan akhirat.

Islam tidak hanya mencukupkan berbagai kuantitas sumber-sumber alami sebagai sumber kenikmatan, dan tidak pula hanya sekedar menerangkan urgensi dan peranan penting yang dapat dilakukan oleh sumber-sumber tersebut, tetapi lebih dari itu mengisyaratkan kemestian menjaga sumber-sumber ini terjamin dan dapat dinikmati sampai ke generasi yang akan datang.

Interaksi dengan sumber-sumber ini harus berlangsung berdasarkan hukum-hukum dan ketentuan yang dijadikan oleh Allah untuk kelangsungan kehidupan manusia. Allah memerintahkan kita untuk selalu memutar pandangan kepada lingkungan temporal serta berusaha menyingkapkan hukum-hukum Allah.

Kesimpulan

Dari uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa alam semesta pada umumnya hutan dan lingkungan hidup pada khususnya diciptakan Allah untuk kemaslahatan ummat manusia. Kita harus menjaga keseimbangan, kelestarian dan keberlangsungan lingkungan tersebut untuk diri kita dan untuk masa depan generasi yang akan datang. Antara manusia dan lingkungan hidup seperti hutan, udara dan air adalah saling membutuhkan yang satu dengan yang lain agar tercapai kehidupan yang harmonis bahkan alam semesta itu dipersembahkan untuk kemaslahatan ummat manusia. Memperlakukan hutan dan lingkungan hidup tidak hanya sekeclar komoditas ekonomi yang di eksploitasi sedemikan rupa tanpa mengindahkan akibat-akibat yang akan merugikan semua pihak bukanlah bagian dari ajaran Islam.

Islam mengajarkan sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya, “Bahwa kita diwajibkan oleh Allah untuk berbuat Ihsan terhadap segala sesuatu, termasuk kepada flora dan fauna” (H.R. Muslim). Bahkan Allah SWT meminta jika menyembelih binatang sekalipun, tajamkanlah pisaunya, ringankanlah penderitaan dari binatang yang akan disembelih tersebut. Jika ditanganmu ada satu bibit pohon sekalipun esok hari akan kiamat, maka tanamkanlah.

Realitas yang kita hadapi hari ini betapa para kapitalis telah memporak-porandakan hutan dan lingkungan hidup yang menyebabkan terjadi bencana di mana-mana, tidak hanya sekedar merusak ekosistem, tetapi malah telah membinasakan jutaan umat manusia.

 
 
 


Penulis: Amlir Syaifa Yasin, MA
Dikutip dari: Buletin Da'wah No. 50 Thn. XXXIX 30 Muharram 1434 H (14 Des 2012 M)
Penerbit: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Prov. DKI Jakarta

Dec 25, 2012

Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci ©LembahKerinci

UHANGKAYO.WEBS.COM - Tahun Baru 2013 sudah mulai nonggol nie..

Apa sobat-sobat sudah mempersiapkan rencana untuk tahun 2013 yang akan menjelang ini? Namun ada baiknya rencana kegiatan tersebut sobat sesuaikan dulu dengan kalender 2013, agar apapun rencana sobat tidak berantakan. Kalender Meja 2013 dengan wallpaper lanskap Lembah Kerinci dapat di miliki secara gratis dibawah ini. Print kalender ini pada kerta foto ukuran A4, lipat pada garis vertikal, kemudian lem pada tempat yang telah ditentukan, sehingga membentuk segitiga apabila dilihat dari atas.

Selain dapat menjadi penghias meja yang unik, kalender ini juga dapat membentu sobat lebih mengagumi keindahan alam Lembah Kerinci. Kalender ini asli buatan blog LembahKerinci.

Kalender Januari-Februari-Maret 2013 Wallpaper Lembah Kerinci (©LembahKerinci)

Kalender April-Mei-Juni 2013 Wallpaper Lembah Kerinci (©LembahKerinci)

Kalender Juli-Agustus-September 2013 Wallpaper Lembah Kerinci (©LembahKerinci)


Kalender Oktober-Nopember-Desember 2013 Wallpaper Lembah Kerinci (©LembahKerinci)


Dapatkan "Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci", melalui tombol dibawah ini.



Lihat juga desain lain Kalender Meja di link berikut: "NEW Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci"

Nov 30, 2012

Banjir (Lembah Kerinci) vs Karung & Mie Instan!

UHANGKAYO - Sepertinya Lembah Kerinci sedang panen karunia, selama hampir kurang lebih satu bulan di Lembah Kerinci, hujan deras berlangsung hampir tiap hari. Dan pada minggu pertama, beberapa kali banjir 'bertandang' ke rumah warga. Respon yang diberikan oleh pihak terkait cukup tanggap dengan menggali saluran air yang mengalami pendangkalan akibat erosi, agar air dapat mengalir dengan lancar ke sungai besar. Selain itu juga dengan membagikan karung dan mie instan. Karung digunakan untuk menghalangi air masuk ke rumah warga, setelah diisi dengan pasir dari erosi. Sedangkan mie instan, barangkali untuk aye kawo bagi warga setelah bekerja mengisi dan menata karung-karung tersebut.

Sedimen berupa pasir yang terbawa oleh air.

Bencana yang disebabkan oleh air di Lembah Kerinci bukan hanya banjir semata, namun juga masalah kekurangan (air bersih). Hal ini terjadi bukan hanya dimusim kemarau, bahkan di musim hujan seperti sekarang ini. Ketersediaan air bersih melebih kelangkaan BBM. PDAM sebagai pemasok air bersih hanya mampu mengalirkan air bersih secara bergantian, bahkan sejak minggu lalu, air bersih hanya mengalir sehari dengan diselingi dua hari berikutnya mati. Bagaimanapun juga, peristiwa banjir (yang pernah terjadi) dan kekurangan air bersih saat ini jika tidak ditanggulangi sejak dini, bukan tidak mungkin dapat menyebabkan bencana yang lebih besar kelak.

Lantas apa itu Banjir?

Banjir pada dasarnya adalah 'tertahannya' air di atas permukaan tanah. Tertahan bisa dikarenakan tanah yang jenuh, sehingga membentuk sebuah genangan air. Hal yang paling jelas dilihat adalah pada Danau, hanya saja bagi masyarakat danau adalah berkah, yang bisa menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga. Tertahan juga bisa dikarenakan debit air yang melewati saluran melebihi daya tampung saluran tersebut, sehingga menjadi air limpasan (run off). Air limpasan dengan volume yang cukup besar sehingga menggenangi jalan-jalan, pekarangan, hingga memasuki rumah-rumah, dikenal sebagai banjir.

Dahulu banjir seringkali dikaitkan dengan fungsi hutan, ketiadaan hutan dapat menyebabkan banjir. Namun dewasa ini banjir menunjukkan hubungan yang erat dengan tanah, ini berarti pada tegakan hutan, banjir pun dapat terjadi apabila volume air yang datang lebih besar daripada kemampuan tanah dalam meresapkannya. Pepohonan disini sangat membantu dalam menerima air hujan yang jatuh, mengurangi kecepatan aliran permukaan, sehingga mengurangi erosi, dan mempermudah dalam meresapkan air. Kemampuan meresapkan air ini juga ditunjang oleh sistem perakaran dan hewan tanah yang membentuk pori hutan. Akar pohon juga menghindari terjadi bahaya yang lebih besar berupa longsor.

Banjir di kawasan pemukiman tidak hanya memberikan kerugian ekonomi, namun juga dapat menjadi perusak lingkungan dalam skala yang lebih besar, serta berpotensi meningkatnya penyakit menular yang terbawa dari air. Pada akhirnya ini tentu membawa kerugian (secara eknomi) yang juga lebih besar, berupa pengeluaran ekstra untuk biaya kesehatan maupun perbaikan tanaman pertanian.

Perkerasan menghalangi infiltrasi air ke tanah.

Banjir pada kawasan pemukiman diyakini terjadi akibat alih fungsi lahan, dari ruang terbuka menjadi lahan perkerasan, baik untuk perumahan maupun berbagai infrastruktur lainnya. Semakin luas perkerasan semakin berkurang lahan untuk meresapkan air, semakin berkurang jumlah air tanah, dan berakibat pada semakin tinggi limpasan air. Limpasan air inilah yang memberikan kontribusi cukup besar pada setiap kejadian banjir di kawasan pemukiman. Limpasan air juga bisa terjadi pada lahan pertanian. Kamir R. Brata memberi contoh pada areal persawahan yang melumpurkan tanah. Pelumpuran akan merusak biopori yang dibuat oleh alam, sehingga air tidak dapat meresap ke dalam tanah, akibatnya air (bersama pupuk) akan langsung mengalir terbuang percuma.

Pelumpuran sebagai upaya untuk mempertahankan agar air tidak meresap.

Penanggulangan Bencana Banjir

Beberapa kasus banjir di daerah lain telah dicoba ditanggulangi dengan berbagai cara, seperti pembuatan kanal (sungai buatan) untuk mengalirkan air secara langsung ke laut. Dengan dana yang besar serta lahan yang harus dikorbankan untuk membangun kanal, usaha ini dipercaya cukup efektif untuk mengatasi banjir. Namun ini hanya dapat terjadi apabila debit air yang masuk/dialirkan ke kanal tidak melebihi debit air kanal itu sendiri.

Dalam upaya untuk mengatasi banjir dan kekurangan air tanah, ilmu lingkungan mengenal konsep zero surface runoff. Konsep ini mengusung bahwa air hujan yang turun dari langit harus dapat diinfiltrasi (sepenuhnya) kedalam tanah dan menjadi cadangan air tanah. Melalui infiltrasi maka aliran permukaan dapat ditiadakan sehingga menghindari potensi terjadinya banjir maupun erosi. Salah satu teknologi yang diterapkan pada daerah pemukiman adalah melalui pembuatan sumur resapan. Berbeda halnya dengan pembuatan sumur yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan sumber air bersih, sumur resapan berfungsi kebalikan yaitu untuk menampung air hujan langsung maupun dari atap rumah. Melalui sumur resapan, air hujan tertahan di sumur resapan selama jam hujan, yang kemudian terinfiltrasi kedalam tanah.

Sumur resapan.

Usaha lain yang terbukti secara empiris dan ilmiah yang dapat mengatasi masalah banjir adalah dengan teknologi mulsa vertikal. Teknologi ini telah dilakukan oleh seorang dosen ilmu tanah - Kamir R. Brata - sejak tahun 1993, dan mulai mencuat ke permukaan sejak banjir yang hampir merendam 60% wilayah ibukota pada tahun 2007. Teknologi mulsa vertikal meresapkan air menggunakan bantuan makhluk hidup. Dengan alasan kepraktisan, kemudahan untuk diingat dan diucapkan, penamaan teknologi mulsa vertikal berubah menjadi Lubang Resapan Biopori (LRB).

Muasa Vertikal atau Lubang Resapan Biopori (LRB).

Lubang Biopori sendiri merupakan lubang silendris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Selanjutnya lubang ini diisi dengan sampah organik untuk makanan organisme tanah. Biopori sendiri terdiri atas dua kata - bio dan pore, karena teknologi biopori memanfaatkan aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (bio) yang akan membentuk lubang terowongan kecil (pore).

Dalam mengatasi banjir, secara sederhana teknologi LRB menambah luas bidang resapan air, yaitu seluas dinding lubang. Pada LRB berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapan bertambah sekitar 3.140 cm2. Dengan kata lain, luas permukaan tanah berdiameter 10 cm memiliki luas resapan sebesar 78,5 cm2, setelah dibuat LRB dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapan akan menjadi 3.220 cm2. Dalam hal ini, perbandingan luas resapan tanah dengan LRB mencapai 40 kali dari luas resapan tanpa LRB.

LRB pada selokan bersemen.

Selain lebih murah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja, apabila dibandingkan dengan pembuatan kanal dan sumur resapan, LRB juga memiliki keuntungan yang telah teruji secara ilmiah:
  1. Mencegah genangan dan banjir,
  2. Mencegah erosi dan longsor,
  3. Meningkatkan cadangan air bersih,
  4. Penyuburan tanah dan mengubah sampah organik menjadi kompos sehingga mengurangi emisi gas metan sebagai penyebab pemanasan global yang lebih kuat dari gas karbondiosida.

Kepraktisan pembuatan teknologi LRB serta manfaat yang besar, telah mengantarkan banyak daerah untuk membuat LRB sebagai upaya untuk mengatasi banjir di daerah mereka. Kota Jakarta, sebagai contoh, telah mulai gencar membuat LRB walaupun belum mencapai target hitung-hitungan sebanyak 75 juta Lubang Resapan Biopori, kemudian beberapa daerah lain seperti Bandung, Bogor, dan Bali juga tercatat mengikuti jejak ini.



Upaya Penanggulangan Banjir di Lembah Kerinci

Bencana alam yang disebabkan oleh kelebihan air (banjir) dan kekurangan air bersih yang (pernah) melanda Lembah Kerinci merupakan peristiwa yang sangat disayangkan, saat air hujan yang diturunkan tidak dapat disyukuri melalui pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Lebih ironis lagi, kawasan konservasi yang mengelilingi Lembah Kerinci tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai pengatur tata air. Banjir maupun kelangkaan air memiliki pengaruh yang signifkan dengan landcover maupun landuse suatu kawasan. Kawasan alami yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan seperti ekosistem hutan diyakini berperan dalam menerima, menyimpan, dan menahan air hujan yang jatuh diatasnya kemudian mersapkannya kedalam tanah, yang disebut sebagai fungsi hidrologis hutan. Ketiadaan (ekosistem) hutan berarti menghilangkan fungsi hidrologis itu sendiri.

Fenomena bencana yang disebabkan oleh air ini tentu tidak terlepas dari peran serta manusia yang ada diatasnya sebagai pengelola, ketidakberdayaan dan kelemahan pemerintah maupun masyarakat dalam menyelaraskan pembangunan dan mengelola alam dengan bijak. Hendaknya bencana alam (peristiwa banjir, kekeringan hingga longsor) dapat dilihat sebagai suatu bentuk 'kecemburuan' alam yang tidak mendapatkan perhatian dalam pembangunan. Peristiwa banjir, kekeringan, hingga longsor harusnya dapat menjadi pelajaran untuk merencanakan dan mengelola suatu lingkungan binaan yang lebih baik. Arah pembangunan hendaknya tidak hanya berorientasi pada ekonomi semata, namun juga memperhatian aspek ekologi, dan sosial. Tiga fungsi ini harus dapat berjalan berdampingan. Secara ekonomi maju, secara ekologi sehat, secara sosial merupakan perwujudan/warisan dari nilai-nilai lokal.

Melalui konsep zero surface runoff, banjir dan kelangkaan air bersih dapat dihindari. Dalam skala pemerintah usaha penanggulangan dan/atau antisipasi bencana, dapat dilakukan melalui pendekatan kebijakan penataan ruang yang berwawasan lingkungan dan berbasis mitigasi bencana. Sedangkan pada skala masyarakat dapat dilakukan melalui cara yang sederhana, pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) pada setiap sudut rumah. Tentu saja langkah yang terpenting memupuk kesadaran warga untuk peduli pada lingkungan. Alangkah baiknya jika pembuatan LRB ini terkoordinir dan/atau menjadi satu program dari daerah dari tingkat RT hingga Kabupaten/Kota. Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) tentu lebih baik daripada 'mengalirkan' air secara percuma ke sungai. Selain dapat mengurangi persediaan air tanah, jika seluruh air limpasan se-Lembah Kerinci dibuang percuma ke sungai, maka desa-desa disekitar sungai berpotensi mengalami kerugian yang paling besar apabila debit air yang masuk melebihi debit air sungai tersebut. Hal ini barangkali 'sebelas-duabelas' dengan kasus banjir di ibukota.

Lembah Kerinci adalah milik semua elemen masyarakat, sambil menunggu suatu program dapat terwujud dari pemerintah (yang juga merupakan wakil dari masing-masing elemen masyarakat), ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kepedulian kita kepada Lembah Kerinci.

"Air Sumber Kehidupan", kalimat ini sering kita dengar. Melalui Al-Quran Digital, aku menemukan tidak kurang dari 15 ayat yang menyandingkan kata (atau yang memiliki makna) "hidup/kehidupan" setelah kata "air (hujan)". Yang tersisa sekarang adalah bagaimana cara kita mensyukuri nikmatNYA.
An Nahl 65
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Nov 27, 2012

Long Way From Home: Identitas Diri

UHANGKAYO - Padang merupakan kota terdekat dengan Lembah Kerinci, salah satu pintu masuk utama dan terbaik menuju Lembah Kerinci. Bagiku kota ini terasa asing, Kota Padang hanya menjadi persinggahan untuk melanjutkan perjalanan ke Lembah Kerinci, "Sakti Alam Kerinci" yang oleh pujangga di ibaratkan sebagai "Sekepal Tanah Surga Yang Tercampkan ke Bumi".

Namun, belakangan ini aku mendapatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat mengenal Kota Padang. Hampir tiap minggu pulang-pergi Kerinci-Padang, selama kurang lebih dua bulan terakhir ini, serta menyempatkan beberapa minggu untuk menikmati kota ini. Aku akan mencoba menulisnya dalam kacamata ku sebagai pengunjung, sebagai orang luar.

Walaupun Anda tidak pernah mengunjungi Sumatera Barat, Anda akan dengan mudah menyebutkan ciri khas Sumatera Barat, yaitu atap yang menyerupai tanduk kerbau. Atap Bagonjong telah menjadi ciri bagi masyarakat ini, Anda bisa menemukan 'simbol' ini  terutama di Rumah-rumah Makan Padang di daerah Anda, dimanapun Anda tinggal, baik wujud fisik yang dibentuk pada atap bangunan atau sekedar seni tulisan yang menyerupai bentuk atap pada kaca etalase. Ikon ini telah menjadi Indentitas masyarakat Minang dan menjadi sebuah kebanggaan untuk menunjukkan jati diri mereka. Hal ini tentunya menjadi satu nilai plus, disaat banyak daerah di indonesia yang mulai meninggalkan arsitektur lokal dan mengadopsi kebudayaan luar yang dianggap lebih modern.

Saat Anda memasuki Kota Padang via udara, anda akan disambut oleh Bandara Internasional Minangkabau. Inilah pintu masuk utama menuju Kota Padang sekaligus sebagai penanda bahwa Anda memasuki wilayah Minang. Kota Padang termasuk satu kota yang diperhitungkan bukan hanya di Pulau Sumatera tapi juga bagi Indonesia. Di dalam kota Anda, dapat melihat bahwa kota ini tengah bersolek layaknya kota-kota lain di Indonesia, Anda juga dapat menemukan sejumlah iklan yang terpasang terutama di persimpangan-persimpangan jalan yang seolah telah bertransformasi menjadi sebuah kota blablabla (sesuai dengan nama produk iklannya).

Hmm… ini mengingatankan ku pada kota-kota di Pulau Jawa. Memasuki suatu kota, Anda disambut oleh berbagai jenis iklan, seolah produk-produk tersebut telah menginvasi kota yang Anda kunjungi. Bukannya nilai lokal, kekhasan daerah yang ditampilkan tapi iklan berbagai jenis produk. Iklan-iklan yang terpampang lebar seolah berujar "Selamat Datang di Kota XXX, Kotanya Mie atau Kotanya Rokok (sesuai dengan iklan yang terpasang saat itu)".

Namun, ditengah pembangunan yang terjadi didalam kota dengan bermunculannya bangunan-bangunan bergaya kontemporer serta  iklan-iklan yang ditemui di setiap persimpangan, Anda masih bisa menjumpai beberapa bangunan penting yang mengkombinasikan gaya kontemporer dengan arsitektur lokal (Atap Bagonjong), seperti Kantor Gubernur, bank-bank, 'kantor-kantor pengamanan', sekolah-sekolah, hingga 'bangunan' untuk mengiklankan suatu produk pun dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menampilkan Atap Bagojong ini.

Atap Bagonjong Pada Bangunan Perkantoran.

Atap Bagonjong Sebagai 'Wadah' Iklan.

Berbeda halnya dengan 'ajaran' atau nilai sosial yang di anut oleh suatu masyarakat, dimana Anda harus berinteraksi secara langsung dengan suatu masyarakat dan dalam kurun waktu tertentu untuk dapat 'merasakan' bahwa Anda memang berada di kota tersebut. Bagi orang awam, seni ber-arstiketur yang ditampilkan dalam bangunan adalah ciri yang paling mudah untuk dikenali terlebih bagi para pelancong/wisatawan. Arsitektur sebagai penanda bagi Anda untuk dapat merasakan sentuhan lokal suatu masyarakat, sehingga Anda tidak merasa 'tersesat' berkunjung di suatu daerah yang baru. Ini salah satu cara untuk membantu Anda merasakan "sense of place", suatu lingkungan yang berbeda dari biasa yang Anda temui, perasaan 'bertualang' dan pernah mengunjungi suatu daerah. Semakin unik yang Anda tangkap semakin mendalam kesan yang tertinggal dalam diri Anda.

Mengingat cukup banyaknya Atap Bagonjong yang disematkan pada beberapa fungsi bangunan, untuk sesaat, aku sempat mengharapkan menemukan sebuah kombinasi 'unik' bangunan pada restoran cepat saji, seperti halnya restoran cepat saji di Bali. Tapi sepertinya aku tidak menemukan disini, sempat kecewa namun aku cukup sadar arus modernisasi memang sulit untuk dibendung. Bahkan beberapa bangunan/gedung baru seperti mal-mal yang berdiri sudah mulai 'melepaskan diri' dan membentuk sebuah kemonotonan bangunan dengan daerah lain. Barangkali ada banyak alasan hal ini terjadi, alasan praktis adalah perawatan yang mudah dan murah.

Asal usul gaya arsitektur Atap Bagonjong sendiri seringkali dihubungkan dengan kemenangan adu kerbau masyarakat Minang dengan kerbau milik masyarakat Jawa, kebanggaan dalam kemenangan adu kerbau ini diwujudkan dalam (atap) bangunan yang menyerupai tanduk kerbau. Cerita lain yang beredar adalah berasal dari kisah perjalanan nenek moyang mereka yang berlayar hingga mencapai suatu daerah, untuk berteduh di daratan mereka menggunakan tali sebagai penopang lancang. Lancang ibarat atap dengan tali ditengah sebagai penyangga, beratnya beban dari lancang ini membentuk busur pada tali.

Tidak hanya di kota saja, di beberapa pelosok propinsi ini masih ditemukan bangunan berarsitektur lokal, baik pada bangunan lama maupun bangunan kontemporer. Dalam perjalananku menuju Lembah Kerinci pada 3 jalur (via Pesisir - Tapan, via Sitinjau Laut - Kayu Aro, via Padang Panjang - Solok - Kayu Aro) masih dapat dijumpai berbagai fungsi bangunan dengan Atap Bagonjong, baik pada bangunan pemerintahan, Masjid, Pos Kamling, maupun rumah tinggal.

Atap Bagonjong Pada Bangunan Tempat Tinggal.

Atap Bagonjong Di Berbagai Bangunan.

Sekarang ini, umumnya bangunan tempat tinggal telah mengadopsi gaya kontemporer, hanya beberapa bangunan lama yang masih berfungsi (dipertahankan) sebagai rumah tinggal. Entah kapan arsitektur bergaya lokal ini dapat bertahan di negrinya sendiri, namun Atap Bagonjong hingga saat ini sudah menjadi milik, ikon bagi masyarakat Minang.

Well, bagaimana dengan Lembah Kerinci? Beberapa bangunan tradisional di Lembah Kerinci, hampir telah raib. Untuk yang mengadopsi atap hanya dapat ditemui pada bangunan-bangunan pemerintahan berskala 'besar' saja, gedung DPRD, kantor Bupati, namun tidak membumi di masyarakat. Arsitektur lokal pada bangunan baru tidak terlihat pada sekolah-sekolah, kantor camat/kades, mesjid, maupun gebang (memasuki suatu kampung). Bangunan Rumah Larik/Laheik pun sekarang sudah mulai hilang dari bumi Lembah Kerinci, begitu juga halnya dengan Bileik yang merupakan tempat menyimpan padi. Perasaan sedih sempat terasa, it's a long way from home. Bagaimanapun gaya arsitektur dengan berbagai ornamen yang dibawanya, tidak hanya menjadi kewajiban bagi pemerintah/masyarakat untuk menjaganya - sebagai penciri diri dari negri tetangga. Namun melalui uniqueness yang ditampilkannya dapat menjadi sebuah modal, salah satu aspek untuk mengembangkan pariwisata di bumi Sekepal Tanah Surga yang Tercampakkan ke Bumi, yang dapat berfungsi sebagai objek penahan.

Nov 19, 2012

Peta Jalan dan Distribusi Desa di Lembah Kerinci Tahun 2003 (©LembahKerinci)

Jalan merupakan salah-satu unsur vital dalam pembangunan. Walaupun kondisi jalan menuju dan di dalam Lembah Kerinci terkenal buruk, namun bagaimanapun dibutuhkan sebuah peta untuk menunjukkan jalan-jalan di Lembah Kerinci. Berikut adalah Peta Jalan Lembah Kerinci, beserta dengan beberapa desa dan wilayah konservasi yang berada di administrasi Lembah Kerinci.

Data yang digunakan merupakan data tahun 2003, namun hingga saat ini (sepertinya) belum ada penambahan ruas jalan baru (kalau ada, mohon pembaca untuk memberi info ya… :)).

Jika Anda jeli, mungkin Anda akan menemukan beberapa 'kejanggalan' dalam peta ini, seperti 2 jalur sungai yang mengalir berdekatan. Dua sungai yang terlihat ini merupakan satu sungai besar, jadi dilapangan anda tidak akan menemukan adanya daratan di antara dua sungai yang berdekatan ini. Di pinggir Danau Kerinci juga anda akan menemukan sungai yang terbentuk mengikuti Danau Kerinci, serta jalan yang seolah berada di atas Danau Kerinci. Dilapangan tidak ada sungai yang mengalir mengelilingi serta tidak ada jalan yang berada di atas Danau Kerinci.

Sekarang tahun 2012, sudah cukup banyak desa yang memekarkan diri sehingga Anda tidak akan menemukan nama-nama desa yang baru terbentuk setalah tahun 2003.

Kesalahan ini merupakan file-file (asli dari sumbernya) yang tidak klop saat di overlay serta belum terupdatenya nama dan spasial desa-desa yang baru terbentuk. Saya sendiri belum sempat untuk memperbaiki (hehe,,,maap ya..). Namun, secara keseluruhan Peta Jalan Lembah Kerinci ini dirasa cukup menjadi sebuah panduan untuk melihat gambaran jalur jalan dan distribusi desa.

Peta Jalan dan Distribusi Desa di Lembah Kerinci Tahun 2003 (©LembahKerinci).


Dapatkan dengan mengklik tombol di bawah ini


Password: uhangkayo.webs.com
©LembahKerinci