Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Apr 8, 2013

Pariwisata Lembah Kerinci: Pembangunan (Bagian 3)

   Penulis: Milantara  

UHANGKAYO.webs.com - Pada bagian Melihat Lebih Dekat ini sebenarnya agak meragukan bagi saya untuk menampilkan dalam tulisan ini, satu alasan utama karena cukup lama tidak update dengan perkembangan wisata di Lembah Kerinci, sehingga akan memberikan kesan nilai subjektifitas (baca: mengada-ada) yang tinggi. Namun, jika tidak disampaikan, tulisan berikutnya akan menjadi lebih tidak bermakna. Saya akan mencoba mengambil beberapa hasil googling dengan informasi yang (menurut saya) cukup penting bagi perkembangan dunia wisata Lembah Kerinci. Pada bagian Melihat Lebih Dekat, terdiri atas tiga sub bagian, yaitu: 1) usaha yang telah dilakukan pengelola, 2) potensi Lembah Kerinci di mata wisatawan, dan 3) potensi pasar Lembah Kerinci di mata para pengusaha.

1. Bangun Seribu Home Stay di Kerinci 
Homestay (Ilustrasi)
TRIBUNJAMBI.COM,KERINCI - Dinas Pemuda Olaraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Kerinci, siap menggandeng agen-agen perjalanan wisata, untuk memajukan pariwisata Kerinci, dengan mendatang wisatawan-wisatawan dari mancanegara.

Kepala Disporaparbud Kerinci, Arlis Harun, mengatakan pihaknya sudah bekerjasama dengan biro perjalanan wisata di Sumbar. Kedepannya, kerjasama dengan biro wisata lainnya juga akan dilakukan.

"Hanya saja selama ini kita terkendala transportasi. Sulitnya menjangkau Kerinci, baik melalui Sumbar maupun Jambi, membuat wisatawan enggan untuk datang, karena waktu banyak terbuang di perjalanan," ujarnya, Senin (12/11).

Di samping itu, Arlis mengatakan kedepannya Pemkab Kerinci akan berupaya mengembangkan sarana pendukung, seperti penerbangan, hotel, serta sarana lainnya, agar wisatawan merasa lebih nyaman saat berada di Kerinci.

"Rerata wisatawan mancanegara yang datang berkunjung, tentunya membawa uang yang banyak, dan ingin mendapatkan pelayanan yang baik. sementara di Kerinci, tempat menginap yang bagus saja sulit didapatkan," katanya.

Namun, saat ini sudah ada pembicaraan dengan investor, yang siap membangun 1.000 home stay di Kerinci. "Kita masih melakukan penjajakan terlebih dahulu, kalau memang sama-sama menguntungkan akan kita laksanakan," bebernya.

Dengan adanya fasilitas tersebut tambahnya, selain bisa mendatangkan wisatawan, juga diharapkan mampu meningkatkan PAD, yang nantinya akan berimbas pada peningkatan perekonomian masyarakat.

Sumber: Tribunnews, 12 November 2012

2. Nikmati Pesona Pantai Koto Petai Kerinci 
Pantai Indah Koto Petai.
KERINCI, TRIBUN - Pemerintah Kabupaten Kerinci akan mengembangkan Pantai Koto Petai di Kecamatan Danau Kerinci yang berada di sisi Danau Kerinci, sebagai wahana wisata keluarga.

Pantai Koto Petai sangat cocok dijadikan wahana wisata atau rekreasi keluarga, karena memiliki panorama yang menarik, kata Sekretaris Daerah Kabupaten Kerinci Dasra MTP di Kerinci, Sabtu.

Saat meninjau pantai tersebut terkai dengan program penghijauan, Dasra mengatakan, pantai Koto Petai mempunyai tipikal berbeda dari pantai di kawasan lainnya di Danau Kerinci ini, sehingga cocok untuk arena rekreasi keluarga.

Ia mengaku tertegun melihat keindahan pantai Koto Petai karena keindahan alam dan kondisi pantai yang amat nyaman.

"Pantai ini berpasir halus berwarna putih keabu-abuan seperti pantai lautan saja, air danaunya pun selalu jernih dengan riak ombak kecil seperti ombak laut yang tenang," katanya.

Airnya juga dangkal dalam radius 60 km. Pohon-pohon rindang pun tumbuh di sisi pantai sangat cocok untuk anak-anak.

Pantai Koto Petai amat berbeda dari pantai di sisi Danau Kerinci lainnya, yang umumnya pantai yang dalam dan berarus deras, yang cukup membahayakan anak-anak.

Pantai Sanggaran Agung misalnya yang telah dibangun jadi wahana wisata dan wahana even-even terbuka atau pantai Tanjung Hatta yang bertebing dan berbatu.

Untuk menunjang pengembangan kawasan tersebut sesuai konsep yang direncanakan, Dasra menjanjikan Pemkab akan membantu realisasi  konsep tersebut dengan mengalokasikan anggaran.

Salah satunya pembangunan fasilitas yang berbasis kerakyatan seperti Program Nasional Pengembangan Masyarakat (PNPM) dan program-program lainnya.

"Pemerintah akan membantu menyiapkan fasilitas, sarana dan prasaran pendukung, seperti pembuatan dermaga, gazebo, selasar, kios souvenir dan kuliner, lalu peningkatan kualitas jalan, penyediaan perahu wisata, dan penyuluhan keparwisataan kepada masyarakat. Kita harapkan 2011 sudah bisa dimulai," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi keberadaan biduk-biduk atau perahu sampan milik nelayan warga Koto Petai. Perahu itu nantinya bisa menjadi aset yang bagus untuk wahana rekreasi menjelajahi pinggir danau.

Bahkan perlu dipikirkan pengembangan pembuatan perahu berlantai kaca tembus pandang sehingga wisatawan bisa menyaksikan kehidupan biota di dalam air danau.

Untuk itu masyarakat bisa saja mulai menebar benih ikan-ikan hias air tawar di pantai ini untuk selanjut bisa dinikmati wisatawan.

Peranhu bermotor, juga bisa diadakan, bahkan "water boom" juga bisa dibangun di sini, karena pantai ini sudah menjadi kolam renang alami yang aman.

Anak-anak bisa bermain dan mandi dengan tenang, bahkan lebih aman dibanding mandi di pantai air laut yang asin mengandung garam.

Oleh karena itu, dukungan dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengangkat potensi ini dengan memelihara lingkungan di sepanjang pantai yang indah tersebut.

"Sebanyak 50 ribu bibit pohon yang telah ditanam untuk menjaga abrasi pantai hendaknya terus dipelihara," tambah Dasra.

Sumber: Tribunews,  12 Desember 2010

3. Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci ~ FMPDK 
Tari Masal sebagai Pembuka Festival Danau Kerinci.
Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK), yang juga dikenal sebagai festival danau merupakan event tahunan untuk memajukan pariwisata Kerinci. FMPDK yang berpusat di Danau Kerinci, dilaksanakan pada pertengahan tahun selama 10 hari. Pembukaan acara ini dilakukan dengan menampilkan tari masal. Tarian ini ditata sedemikian rupa khusus ditampilkan pada acara-acara helatan besar. Tari ini ditata dengan konfigurasi menggambarkan keadaan geografis Kerinci yang berbentuk kawah (landai). Gerak yang ditarikan merupakan gabungan dari gerak tari tradisional Kerinci seperti Tari Rangguk dan Tari Iyo-Iyo.

Pada dasarnya festival danau merupakan suatu event wisata yang menyajikan kumpulan dari berbagai seni budayamasyarakat Kerinci. Seni budaya masyarakat Kerinci umumnya dilakukan hanya pada waktu tertentu akan menyulitkan bagi para wisatawan untuk menyaksikan. Dengan adanya festival danau hampir semua seni budaya Kerinci dapat disaksikan dalam satu periode.

Festival Danau tahun 2003 menyajikan event-event sebagai berikut:

A. Khasanah Seni Budaya:
  • Tari Tradisional sebagai Warisan Budaya nenek moyang yang masih dilestarikan, diantaranya Tari Ritual, Tari Kreasi Baru, dan Tari Daerah Lainnya.
  • Sike Rebana adalah salah satu bentuk perpaduan antara Dakwah Islamiah dengan Unsur Seni yang terwujud dalam keharmonisan antara gerak dengan pukulan rebana dan suara nyanyian. Sike Rebana Kabupaten Kerinci telah dikenal di mancanegara.
  • Seruling Bambu yang merupakan salah satu musik warisan budaya.
  • Pesta Beduk adalah lambang kesucian bagi yang beragama Islam, beduk yang digunakan adalah beduk kuno dan antik yang penuh mistik.
  • Lagu Daerah Aliran Melayu sebagai warisan budaya yang menuntut kepiawaian bersajak dan berpantun dalam berdendang.
  • Kontes Makanan dan Jajanan Khas
B. Pesta Budaya
  • Pawai Budaya yang menampilkan corak pakaian adat dan Rekreasi Seni Budaya Kerinci.
  • Upacara Naik Mahligai merupakan suatu upacara penobatan ‘Belian Salih’ dari Desa Siulak Kecamatan Gunung Kerinci.
  • Upacara Pengangkatan Depati merupakan penobatan gelar adat (pemimpin adat). Penobatan ini digelar dalam suatu acara Kenduri Sko.
  • Upacara Lukah Gilo yang sarat akan unsur magic. Lukah (alat penangkap ikan) ini mengandung kekuatan yang luar biasa, beberapa orang akan berusaha untuk menghentikan gerakannya.
  • Upacara Ratib Seman merupakan kegiatan yang menganggungkan Asma Tuhan untuk mendapatkan berkah dari Allah.

C. Kegiatan Olah Raga
  • Lintas Alam yang bertujuan untuk menambah rasa cinta akan alam.
  • Volly Danau yang dilaksanakan di Pantai Indah koto Petai.
D. Perlombaan

Selain berbagai bentuk acara-acara tradisional (pesta budaya), FMPDK juga mengadakan Kegiatan Olah Raga seperti Lintas Alam, dan Volley Pantai (Danau) yang dilakukan di Pantai Indah Koto Petai. Berbagai perlombaan ikut menyemarakkan kegiatan FMPDK seperti: Lomba Sike Rebana, Lomba Tari Kreasi Daerah, Lomba Pencak Silat Seni dan Bela Diri, Lomba Pemilihan Bujeang-Gadoih, Lomba Biduk Hias, Lomba Bendi Hias, dan lain-lain.

Sumber: uhangkayo.webs.com

Mar 16, 2013

Halte Bus TransJakarta via Google Maps

Bus TransJakarta merupakan salah satu usaha Pemerintah DKI untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di daerahnya. Denga hanya membayar Rp.3.500,- kita bisa mengelilingi Jakarta menggunakan bus ini, tentunya dengan pindah bus pada beberapa halte yang telah ditentukan.

Bagi Anda yang belum begitu tau persinggahan (baca: halte) Bus Transjakarta ini, anda dapat menyimak cuplikan dari Google Maps berikut ini.


Credit ditujukan bagi Pembuat.

Untuk melihat pada jendela yang lebih besar, klik disini.
Download KML untuk di buka di Google Earth, klik disini.

Lihat juga Halte dan Jalur Bus Transjakarta dalam bentuk file JPG berikut.

Jalur dan Halte Bus TransJakarta, klik disini untuk ukuran besar.

Konversi File KML ke SHP

UHANGKAYO.webs.com - Setelah berhasil menggambar poligon pada Google Earth, langkah berikutnya adalah merubah ekstensi *.kmz ke file *.shp agar dapat dianalisis lebih jauh sesuai dengan kebutuhan. Melalui bantuan software Global Mapper (GM) kita dapat merubah ekstense file tersebut dengan mudah. Berikut adalah langkah-langkahnya:



1) Buka Global Mapper.

2) Buka file Bandara Soekarno-Hatta.kmz yang kita buat pada tutorial sebelumnya. Caranya, dari menu File > Open Data File(s) atau klik Open Your Own Data Files.

3) GM akan menampilkan file KML sesuai dengan hasil digitasi online pada Google Earth.

4) Tahap berikutnya adalah mengekspor file KML ini menjadi file SHP agar dapat di buka di software ArcView atau ArcMap. Caranya: klik menu File > Export Vector Format. Sehingga akan muncul jendela baru Select Export Format, pilih Shapefile.

5) Setelah mengklik tombol OK, akan keluar jendela baru Shapefile Export Options. Pada tab File Selection beri ceklist Export Areas, karena file kita berbentuk polygon. Simpan pada folder yang telah Anda siapkan. Untuk tab Gridding dan tab Exports Bounds dapat diabaikan saja.

6) Buka folder dimana Anda menyimpan file SHP hasil konversi, Anda akan melihat terdapat 4 file baru dengan nama yang sama Bandara Soekarno-Hatta, namun berbeda ekstensi. Sampai tahap ini konversi dari KML ke SHP telah selesai.

7) Untuk memeriksa hasil konversi SHP, buka file Bandara Soekarno-Hatta.shp pada ArcView atau ArcMap. Setelah terbuka dengan baik, langkah selanjutnya adalah mengolah file tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda.


Mar 3, 2013

Menggambar Polygon di Google Earth


UHANGKAYO.webs.com - Google telah lama berkiprah dalam menampilkan citra satelit melalui perangkat lunaknya bernama Google Earth (GE). Beberapa wilayah perkotaan telah menampilkan citra satelit dengan resolusi yang tinggi Quik Bird bahkan GeoEye.

GE juga telah banyak digunakan tidak hanya kalangan profesional yang bergerak di bidang pemetaan namun juga oleh dunia ilmiah untuk menemani dalam berbagai penelitian mereka. Salah satu keunggulan dari Google Earth adalah mampu menampilkan nilai koordinat, sehingga sangat memudahkan bagi penggunanya untuk lebih memahami lokasi wilayah mereka atau Area of Interest (AOI). Namun, misalkan data (citra satelit) yang ditampilkan oleh GE masih beresolusi rendah, maka (perusahaan) Anda dapat memesan kepada pihak penyedia citra satelit resolusi tinggi yang sesuai dengan minat wilayah Anda (AOI).

Referensi koordinat yang terdapat di GE ini juga dapat mempermudah para pengguna untuk menggambarkan batasan AOI dari citra yang akan dipesan. Berikut adalah langkah-langkah membuat polygon pada AOI di software Google Earth:

1) Buka software Google Earth Anda, pada contoh ini kita akan menggambar polygon untuk Bandara Soekarno-Hatta sebagai AOI.

2) Klik ikon "Add Polygon" atau bisa juga di akses dari menu "Add" > "Polygon" atau dengan menggunakan kombinasi Ctrl+Shift+G pada keyboard.


3) Pada jendela "Google Earth - New Polygon", ketik nama AOI Anda pada kolom "name:". Pada contoh ini, nama AOI adalah "Bandara Soekarno-Hatta".

4) Masih dalam keadaan jendela "Google Earth - New Polygon" yang aktif. Arahkan kursos mouse pada batas AOI terluar, kemudian klik pada masing-masing titik/sudut AOI. GE akan otomatis menutup AOI anda yang Anda klik tadi. Klik tombol "Delete" pada keyboard untuk menghapus titik yang salah.

5) Jika AOI telah tertutup dengan sempurna oleh polygon yang Anda buat, maka klik tombol Oke.

6) Akan muncul nama polygon yang anda buat pada kolom "Places". Simpan file polygon ini dalam ekstensi *.kmz atau *.kml, caranya klik kanan pada layer "Bandara Soekarno-Hatta" > "Save Place As..."

7) Selesai.

Secara teknis, dengan berhasilnya anda menyimpan file kedalam bentuk *.kmz atau *.kml, pekerjaan anda telah selesai. Anda dapat mendistribusikan file ini kepada jasa penyedia citra satelit resolusi tinggi untuk membeli citra yang anda Inginkan, atau anda juga dapat menyewa jasa download citra Satelit Google Earth. Namun, jika Anda berencana untuk mengolah sendiri hasil digitasi dari GE ini, silakan baca artikel Konversi File KML ke SHP.


Mengedit Polygon

Anda juga dapat mengedit polygon yang Anda buat, atau untuk melihat informasi tentang luas polygon tersebut, caranya:

- Klik kanan pada layer "Bandara Soekarno-Hatta" > "Properties".

- Klik pada menu "Style, Color", untuk merubah warna dan tingkat transparan polygon.

- Menu "Measurements", menampilkan informasi tentang keliling beserta luas polygon dalam berbagai satuan.

Mar 1, 2013

Pariwisata Lembah Kerinci: Referensi (Bagian 2)

Penulis: Milantara 

UHANGKAYO.webs.com - Artikel kali ini hanya mencoba mendeskripsikan tentang "Referensi Wisata" yang berisi tentang rujukan-rujukan dari berbagai literatur.

4. Pengembangan Pariwisata

Pariwisata adalah satu kesatuan tersendiri, ia hidup bukan karena adanya aspek lain yang telah berdiri terlebih dahulu, justru pariwisatalah yang menghidupan aspek/sektor lain, inilah yang sering disebut bahwa pariwisata bersifat multiplier effect. Namun bagaimanapun pariwisata kadang membutuhkan sarana wisata dan prasarana penunjang lainnya untuk mem-boost perkembangan wisata.

Peta Potensi Wisata Lembah Kerinci, klik disini untuk lebih jelas.

Dalam bukunya, Soekadijo menulis pariwisata dapat dilihat dari dua aspek, yaitu: 1) parwisata sebagai mobilitas spasial, dan 2) pariwisata sebagai industri. Membaca penjelasan yang ada di buku tersebut, maka dapat diinterpretasikan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah 'menghadirkan' wisatawan pada suatu daerah tujuan wisata, dengan syarat utama adalah adanya kecocokan/kesesuaian pada supply dengan demand. Dan ini juga yang menjadi tolak ukur keberhasilan pada aspek mobilitas spasial.

Pengembangan pariwisata dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan supply dan/atau pendekatan demand. Pendekatan supply menitikberatkan pada aspek potensi yang dimiliki oleh suatu daerah, sedangkan pendekatan demand dilakukan dengan sebaliknya yaitu dengan melihat trend wisata yang sedang terjadi. Masing-masing pendekatan mewajibkan syarat yang berbeda, seperti umum untuk menghadirkan wisatawan mengunjungi suatu daerah yang tidak memiliki kesesuaian potensi dengan motif dari wisatawan tentu akan membutuhkan dana yang tidak sedikit, terutama dalam penyediaan objek dan atraksi yang sesuai dengan motif wisatawan yang sedang trend.

Hall (2000) menulis bahwa suatu kawasan harus memiliki tiga faktor utama berupa atraksi, fasilitas, dan aksesabilitas agar dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Soekadijo (2000) juga menulis bahwa terdapat beberapa determinan yang dapat menciptakan pariwisata yaitu atraksi wisata, jasa wisata, dan transferabilitas, serta pemasaran. Atraksi wisata, jasa wisata, dan transferabilitas merupakan syarat mutlak untuk pariwisata, yang berarti kalau ada pariwisata ketiga determinan tersebut pasti ada, akan tetapi tidak sebaliknya, calon wisatawan masih harus diberitahu bahwa ada atraksi wisata, ada angkutan ke tempat atraksi, dan ada jasa yang tersedia kalau mengadakan perjalanan kesana. Kegiatan ini merupakan pemasaran yang merupakan syarat memadai. Syarat mutlak besama-sama dengan syarat memadai barulah menimbulkan hasil, yaitu pariwisata. Sehingga untuk mengembangkan suatu daerah menjadi tujuan wisata haruslah terpenuhi semua kriteria tersebut.

Pilihan pendekatan mana yang akan digunakan dalam perencanaan pengembangan pariwisata tentu harus memperhatikan berbagai aspek mulai dari aspek supply, demand, SDM, kapital hingga politik. Namun dengan berbegai keterbatasan, tentunya keberhasilan suatu pengembangan pariwisata haruslah menghindari ego pengelola/perencana, dan melihat secara lebih bijak pada semua faktor.

Sedangkan sebagai suatu industri wisata, maka penekanannya lebih pada aspek ekonomis, yang mencakup produsen, produk serta konsumen yang menikmati. Pariwisata sebagai sebuah industri menjadi sesuatu yang lebih kompleks dibandingkan dengan industri lainnya, karena industri pariwisata merupakan industri jasa pelayanan yang terdiri dari tindakan dan interaksi yang merupakan kontak sosial secara langsung antara produsen dan konsumen.

Kompleksitas industri pariwisata juga diakibatkan karena bukan hanya hanya satu 'produsen' saja yang berperan, namun melibatkan banyak 'produsen' dari berbagai sektor. Seorang wisatawan tentunya akan menggunakan jasa transportasi untuk mengunjungi suatu DTW, jasa penginapan saat berada di DTW, hingga menikmati objek dan atraksi wisata, serta berbagai 'produsen' lainnya. Sehingga dibutuhkan adanya sinergi yang baik antar masing-masing 'produsen' yang terlibat untuk dapat memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat.

Produk Wisata

Disamping itu, terdapat perbedaan antara produk wisata dengan produk umum lainnya (manufaktur). Mengutip dari Soekadijo (2000) diantaranya yang terpenting adalah: Pertama, produk wisata tidak dapat dipindahkan, namun harus dinikmati di lokasi produk tersebut diproduksi; Kedua, wujud produk wisata ditentukan oleh konsumen sendiri, yaitu wisatawan. Wisatawanlah yang memilih objek/atraksi, angkutan, penginapan, hingga lama tinggal; Ketiga, pengalaman merupakan satu-satunya yang diperoleh oleh konsumen (wisatawan) yang membeli produk wisata.

Hal senada juga disampaikan oleh Suyitno (2001), ia memberikan beberapa batasan produk wisata, yaitu:

  • Tidak berwujud (intangible) dalam artian wisata hanya memberikan kesan atau pengalaman kepada wisatawan.
  • Wisata tidak dapat diukur secara kuantitatif (unmeasurable), pengukuran melalui kelas wisata, seperti deluxe, standard, economy, atau bedasar budget.
  • Wisata merupakan produk yang tidak tahan lama dan mudah kadaluarsa (perishable) serta masa jual terbatas.
  • Tidak dapat disimpan (unstorable) .
  • Melibatkan konsumen (wisatawan) dalam proses produksinya.
  • Proses produksi dan konsumsi terjadi dalam waktu yang sama.
5. Analisis Perencanaan Pariwisata

Dalam perencanaan pariwisata, pada umumnya analisis yang digunakan hanya sebatas analisis SWOT (WOTS-UP) saja. Hal ini berdampak pada tingginya nilai subjektifitas yang berarti ego planner menempati andil yang besar. Sehingga diperlukan satu analisis lain untuk mengawali analisis SWOT ini. Analisis skoring dapat menjadi awal yang baik untuk menentukan parameter-parameter yang termasuk dalam kelompok Strengths (S), Weaknesses (W), Opportunities (O), atau Threats (T).

Dikutip oleh Gunn (1993) dari Rose (1984), planning is a multimensional activity and seeks to be integrative. It embraces social, economic, political, psychological, antropological, and technological factors. It si concerned with the past, present and future.

Ada cukup banyak metode skoring yang beredar dalam menilai suatu potensi suatu kawasan, salah satunya adalah melalui Kriteria Penilaian dan Pengembangan Obyek Wisata Alam dari Departemen Kehutanan dengan SK Dirjen PHKA No. 51/Kpts/DJ – VI/93 tanggal 11 Mei 1993 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Daerah Operasi Obyek Wisata Alam. Dalam buku Ekoturisme (Avenzora 2008), metode ini telah dilakukan oleh Milantara (2005) untuk menilai salah satu potensi objek wisata di Taman Nasional Kerinci Seblat. Kriteria Penilaian ini berbentuk tabel yang terdiri atas 10 kriteria yang mampu mengkombinasikan beberapa kepentingan yang dimaksud, masing-masing kriteria ini memiliki bobot yang berbeda.

Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Alat yang dapat dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrik SWOT. Rangkuti (2000) menulis bahwa analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan Strengths dan Oppurtinities, namun secara bersamaan dapat meminimalkan Weaknesses dan Threats. Matrik SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana lingkungan eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi perusahaan, agar dapat disesuaikan dengan lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) yang dimiliki. Analisis ini menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis.

Matriks SWOT


Referensi:
Avenzora R. 2008. Ekoturisme: Teori dan Praktek. Nias: BRR NAD.
Cooper C, J Fletcher, D Gilbert, S Wanhill, R Shepherd (editor). 1998. Tourism: Principles and Practice Second Edition. England: Pearson Education Limited.
Godfrey K, C Jackie. 2000. the Tourism Development Handbook. London-New York: Cassell.
Gunn CA. 1993. Tourism Planning: Basic, Concepts, Cases. Washington: Taylor & Francis.
Gunn CA. 1997. Vacationscape: Developing Tourist Areas. Washington: Taylor & Francis.
Hall CM. 2000. Tourism Planning: Policy, Processes, and Relationship. England: Pearson Education Limited.
Rangkuti F. 2000. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Soekadijo RG. 2000. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata sebagai “Systemic Linkage”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Suyitno. 2001. Perencanaan Wisata. Yogyakarta: Kanisius.

Pariwisata Lembah Kerinci: Referensi (Bagian 1)

Penulis: Milantara  


UHANGKAYO.webs.com - Artikel kali ini hanya mencoba mendeskripsikan tentang "Referensi Wisata" yang berisi tentang rujukan-rujukan dari berbagai literatur.

1. Definisi dalam Dunia Wisata

Undang-undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan mendefinisikan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Sedangkan wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Undang-undang No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan tersebut juga memberikan banyak definisi tentang istilah yang terdapat dalam dunia wisata. Untuk mendapatkan UU ini, silakan download disini atau klik disini.
World Tourism Organization (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai “the activities of persons travelling to and staying in places outsides  their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”. Kemudian Yoeti (2000) mendefinisikan pariwisata sebagai segala sesuatu yang “berhubungan dengan wisata terutama pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait dengan bidang tersebut”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008) pariwisata adalah kata benda yang diartikan “berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi”. Sedangkan dalam Oxford English Dictionary kata tourism lebih mengacu pada kata wisata yang diartikan tentang “perjalanan untuk mengisi waktu luang (leisure time)”.

Hornby dalam Suyitno (2001) menyatakan bahwa wisata adalah sebuah perjalanan di mana seseorang dalam perjalanannya singgah sementara di beberapa tempat dan akhirnya kembali lagi ke tempat asal dimana ia mulai melakukan perjalanan. Suyitno (2001) menyimpulkan bahwa wisata berbeda dengan perjalanan dalam hal:

  • Pemakaian waktu yang relatif cepat.
  • Melibatkan komponen wisata seperti objek wisata, toko cinderamata.
  • Wisata dilakukan dengan mengunjungi objek dan atraksi wisata daerah.
  • Tujuan wisata untuk mendapatkan kesenangan.
  • Tidak untuk mencari nafkah di tempat tujuan.
2. Supply Wisata

Sumberdaya (supply) wisata dapat dipahami sebagai semua dan apa saja yang karenanya dapat menarik orang untuk datang. Sumberdaya wisata dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu: sumberdaya utama yang merupakan sumberdaya yang mempunyai daya tarik paling kuat dan biasanya mewakili faktor kunci yang membuat wisatawan datang. Kedua, sumberdaya pendukung yang merupakan sumberdaya pelengkap yang menambah daya tarik bagi pengunjung, tapi bukan alasan utama kehadiran wisatawan (Godfrey dan Clarke, 2000). Senada dengan Godfrey dan Clarke, Soekadijo (2000) menulis ada modal kepariwisataan yang dapat menahan wisatawan selama berhari-hari dan dapat berkali-kali dinikmati, bahkan pada kesempatan lain wisatawan mungkin kembali lagi ke tempat yang sama. Atraksi ini adalah atraksi penahan. Sebaliknya, ada juga atraksi yang hanya dapat menarik kedatangan wisatawan yang diistilahkan dengan atraksi penangkap wisatawan (tourist catcher), yang hanya sekali dinikmati kemudian ditinggalkan oleh wisatawan.

Lebih jauh Soekadijo (2000) menulis bahwa ada tiga modal kepariwisataan yang menjadi daya tarik bagi pengunjung, pertama potensi alam baik itu alam fisik, flora dan/atau faunanya. Kedua, berupa potensi budaya yang berkaitan dengan act dan artifact (tingkah laku dan hasil karya), seperti segala kebiasaan yang hidup dalam masyarakat hingga peninggalan-peningalan atau tempat-tempat bersejarah. Ketiga berupa potensi manusia itu sendiri, seperti kegiatan perlombaan maupun sekedar ingin bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat (idola).

Hubungan antara Supply dan Demand Wisata (Gunn 1997).

Gunn (1997) dalam bukunya Vacationscape memberikan definisi supply wisata sebagai pengembangan fisik dan program yang bertujuan menyediakan kebutuhan dan keinginan wisatawan. Kemudian ia menggambarkan fungsional sistem dalam wisata. Pertama, gambar tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara demand dan supply. Kedua, model yang ia buat juga menunjukkan bahwa supply dibangun dari 5 komponen: atraksi, pelayanan & fasilitas, transportasi, informasi, dan promosi. Pada komponen Transportasi, Gunn (1997) menjelaskan bukan hanya sarana angkutan saja, namun juga pada prasarana seperti jalan. Dan ini sedikit berbeda dengan yang di tulis oleh Soekadijo (2000), dalam hal ini Soekadijo membatasi prasarana pariwisata (jalan, bandara, atau fasilitas fisik lainnya) sebagai sesuatu yang diperlukan untuk pembangunan pariwisata, namun bukan pariwisata.

3. Demand Wisata

Permintaan wisata adalah jumlah orang yang melakukan perjalanan, atau ingin melakukannya, menggunakan fasilitas dan pelayanan wisata pada tempat yang jauh dari rumah dan jauh dari tempat kerja mereka (Mathieson dan Wall, 1982 dalam Cooper et al, 1998). Selanjutnya Cooper et al menuliskan bahwa terdapat tiga komponen dasar yang mempengaruhi total permintaan wisata:

  1. Permintaan efektif atau permintaan aktual (effective or actual demand) adalah sejumlah orang yang yang benar-benar melakukan perjalanan, yaitu wisatawan. Komponen permintaan ini yang biasanya dan mudah untuk diukur.
  2. Permintaan tertahan (suppressed demand) merupakan sejumlah orang yang tidak melakukan perjalanan karena beberapa alasan. Permintaan tertahan dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, permintaan potensial (potential demand) yang menunjukkan orang yang akan melakukan perjalanan pada waktu tertentu pada masa yang akan datang jika keadaan mereka berubah. Seperti tingkat belanja meningkat, atau mungkin tersedianya biaya lebih untuk liburan mereka. Kedua permintaan yang ditunda (deffered demand) karena masalah pada lingkungan penawaran, seperti kapasitas akomodasi yang kurang, kondisi cuaca atau mungkin kegiatan teroris.
  3. Terakhir adalah orang yang tidak ingin untuk melakukan perjalanan atau tidak dapat melakukan perjalanan. Kategori ini termasuk kedalam tanpa permintaan (no demand).
Ada beberapa faktor yang dapat membuat orang melakukan perjalanan atau dapat disebut sebagai motif wisata. Cooper et al (1998) dan Soekadijo (2000) mengutip sebuah tulisan McIntosh et al (1995) bahwa motif perjalanan dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu:
  1. Dorongan fisik (physical motivators), yaitu motif yang berhubungan dengan keinginan untuk menyegarkan tubuh dan jiwa, dengan tujuan kesehatan, seperti olahraga, istirahat dan sebagainya. Motif ini sepertinya berhubungan dengan aktifitas yang akan mengurangi ketegangan (tension).
  2. Dorongan budaya (cultural motivator), yang dapat dikenali dari keinginan untuk melihat dan mengetahui kebudayaan lain, untuk mengetahui penduduk asli suatu daerah dengan keseharian mereka, musik, kesenian, cerita rakyat, tarian, dan sebagainya.
  3. Dorongan interpersonal (interpersonal motivator), yang berhubungan dengan keinginan untuk bertemu keluarga, teman, dan untuk mencari pengalaman baru yang berbeda. Perjalanan merupakan sarana untuk melepaskan rutinitas.
  4. Dorongan status atau prestise (status and prestige motivators), yang termasuk pada keinginan untuk melanjutkan pendidikan (pengembangan diri, perbaikan diri). Dorongan seperti ini lebih memfokuskan diri pada pengakuan dan perhatian dari orang lain, dengan kata lain gengsi (status) akan naik.

Feb 28, 2013

Pariwisata Lembah Kerinci: Pengantar

 
Penulis: Milantara
 
UHANGKAYO.webs.com - Pariwisata, adalah salah satu kata yang paling sering didengar, terutama saat berbicara tentang peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Lanskap Lembah Kerinci menawarkan keindahan alam yang luar biasa, yang tidak hanya diakui oleh masyarkat setempat namun juga diakui oleh sejumlah wisatawan mancanegara maupun lokal yang pernah mengunjungi Lembah Kerinci. Sehingga secara tidak langsung memperkuat mindset yang telah ada dalam masyarakat Lembah Kerinci, bahwa Lembah Kerinci memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW). Hal ini tentunya diikuti dengan harapan akan terjadinya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata. Akan tetapi, hingga saat ini sektor pariwisata belum memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Lembah Kerinci, sehingga bagi masyarakat Lembah Kerinci, kata pariwisata memberi  'stimulan' negatif.

Dikutip dari situs bahasa.net:
According to the Lonely Planet's GuideBook, Kerinci is "one of the most beautiful places in Sumatra." Despite its beauty, it remains one of the less known places of Sumatra. There is very little tourism, although the regional government has recently made some efforts to attract more visitors to this beautiful place. Most people come here to climb the active vulcano Gunung Kerinci or to explore the Kerinci Seblat National Park - one of the strongholds of endangered species like the Sumatran tiger and Sumatran rhinoceros. But Kerinci has more to offer than there two major attractions.

Lembah Kerinci dengan topografi yang bergunung menawarkan sejumlah fenomena alam yang beragam dan unik, seperti Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh, air terjun, hingga mata air panas alam. Selain itu, Lembah Kerinci  yang terisolasi juga menawarkan sejumlah flora dan fauna endemik. Dari segi antropologi, diduga masyarakat Lembah Kerinci lebih tua dari suku bangsa Inca (Indian) di Amerika, walaupun asal muasalnya belum jelas . Namun hingga saat ini, kekayaan kondisi Lembah Kerinci ini belum mampu menarik sejumlah wisatawan untuk berkunjung.


Dalam artikel tentang Wisata Lembah Kerinci ini, terbagi kedalam enam tulisan, yaitu:


1. Definisi, Supply, dan Demand
Undang-undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan mendefinisikan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. ~> klik disini untuk membaca lebih detil


2. Analisis dan Pengembangan Wisata
Suatu kawasan harus memiliki tiga faktor utama berupa atraksi, fasilitas, dan aksesabilitas agar dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Sedangkan untuk menciptakan pariwisata dibutuhkan pemasaran. ~> klik disini untuk membaca lebih detil


3. Usaha Pembangunan
Namun, saat ini sudah ada pembicaraan dengan investor, yang siap membangun 1.000 home stay di Kerinci. "Kita masih melakukan penjajakan terlebih dahulu, kalau memang sama-sama menguntungkan akan kita laksanakan," bebernya.  ~> klik disini untuk membaca lebih detil


4. Potensi Demand
Katja_nsk (Novosibirsk, Russia: Lembah Kerinci - “A place to be for nature lovers”.  We went to Kerinci Valley to climb Mt. Kerinci (which was fantastic, see separate review), but we discovered that there were so much more to it! ~> klik disini untuk membaca lebih detil


5. Potensi Pasar
Beberapa objek wisata di Lembah Kerinci telah mulai dilirik oleh para pengusaha, tidak sedikit dari agen tour dan travel menawarkan paket wisata menuju objek wisata di Lembah Kerinci. Hanya saja objek wisata yang ditawarkan pada umumnya berada pada kawasan dataran tinggi Lembah Kerinci. ~> klik disini untuk membaca lebih detil


6. Analisis
Sumberdaya Manusia (atau) pengelola memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan Pariwisata Lembah Kerinci. Karena, disinilah titik awal keberhasilan atau kegagalan pembangunan pariwisata. ~> klik disini untuk membaca lebih detil

Dec 30, 2012

NEW Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci ©LembahKerinci

Tahun Baru 2013 sudah mulai nonggol nie..

Apa sobat-sobat sudah mempersiapkan rencana untuk tahun 2013 yang akan menjelang ini? Namun ada baiknya rencana kegiatan tersebut sobat sesuaikan dulu dengan kalender 2013, agar apapun rencana sobat tidak berantakan. Dapatkan Kalender Meja 2013 dengan wallpaper lanskap Lembah Kerinci dapat secara gratis dibawah ini, asli buatan blog tercinta ©LembahKerinci. Print kalender ini pada kerta foto ukuran A4, lipat pada garis horizontal, kemudian lem pada tempat yang telah ditentukan.

Selain dapat menjadi penghias meja yang unik, kalender ini juga dapat membentu sobat lebih mengagumi keindahan alam Lembah Kerinci.




Dapatkan "New Kalender Meja 2013 Wallpaper Lembah Kerinci" selengkapnya, pada tombol dibawah ini.



Menjaga Kelestarian Alam


"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian.  Maka daripadanya mereka makan”. (Q.S. Yasin [36]  :  33)

Hutan merupakan karunia Ilahi kepada manusia, sebagai sumber kehidupan. Ia memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan. Dalam hutan tumbuh berbagai macam tanaman, baik kayu maupun non kayu. Dengan kayu, manusia dapat membangun tempat tinggal, membuat perabotan rumah tangga serta berbagai jenis peralatan lainnya. Dalam hutan juga terdapat buah-buahan dan sayur-sayuran sebagai sumber zat gizi nabati serta tanaman obat-obatan.

Pandangan Islam Tentang Hutan

Dari sudut pandang Islam, hutan dengan segala sebagai bagian dari ciptaan-Nya. Hutan dan alam semesta ini ditundukkan oleh Allah SWT demi melayani kebutuhan manusia yang telah dinobatkan oleh Allah sebagai Khalifah, dengan firman-Nya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Q.S. Al Baqarah [2] : 30).

Manusia sebagai khalifah adalah hamba Allah SWT yang wajib menjaga dan memelihara bumi ini serta mengelolanya dengan arif dan bijaksana, tidak boleh melampaui batas. “Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat balk, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash [28] : 77).

Selanjulnya Allah SWT juga berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Rumm [30] : 41)

Manusia bukan pemilik hutan, pemilik sejatinya hanyalah Allah. Manusia hanya pemanfaat, hak guna pakai. Mohammad Qutb, didalam bukunya “Manhaj Tarbiyah fi al-Islam”, menerangkan bahwa fungsi khalifah itu memiliki tugas:
  1. Beribadah kepada Allah.
  2. Membangun kemakmuran di bumi atau dengan kata lain melestarikan kehidupan di bumi.

Sebagai pengambil manfaat manfaat dari alam, harus memperhatikan kelestariannya dan keberlangsungannya bagi generasi yang akan datang. Kerusakan apapun yang dilakukan manusia di tempat manapun di bumi ini akan menimbulkan dampak di tempat lain. Pengelolaan yang baik dan pemeliharaan nya adalah suatu keharusan. Oleh sebab itu pemeliharaan atas sumber-sumber perekonomian seperti hutan adalah erat hubungannya dengan kehidupan manusia yang bergantung kepada sumber daya alam pada umumnya. Allah berfirman, “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Al Jatsiyah [45] :  13).

Kita Dilarang Melakukan Pengrusakan

Syari'at Islam menolak kita untuk melakukan pengrusakkan. Penyia-nyiaan tanah pertanian dan  membiarkan nya sedemikian rupa yang dapat merugikan diri atau orang lain dipandang sebagai pengingkaran atas nikmat Allah serta tidak bersyukur atas nikmat tersebut.

Dalam konferensi lingkungan hidup PBB di Stockholm Swedia tahun 1972 dikatakan bahwa lingkungan adalah sebagai tempat cadangan sumber daya materi dan sosial kapan dan dimana saja dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam adalah hilang nya pengertian ibadah dalam diri ummat dimana urusan keduniaan dan kemasyarakatan dikesampingkan dari pemahaman agama. Padahal Allah SWT sebetulnya menetapkan integritas pemahaman ibadah termasuk didalamnya untuk kepentingan dunia dan untuk kepentingan akhirat.

Islam tidak hanya mencukupkan berbagai kuantitas sumber-sumber alami sebagai sumber kenikmatan, dan tidak pula hanya sekedar menerangkan urgensi dan peranan penting yang dapat dilakukan oleh sumber-sumber tersebut, tetapi lebih dari itu mengisyaratkan kemestian menjaga sumber-sumber ini terjamin dan dapat dinikmati sampai ke generasi yang akan datang.

Interaksi dengan sumber-sumber ini harus berlangsung berdasarkan hukum-hukum dan ketentuan yang dijadikan oleh Allah untuk kelangsungan kehidupan manusia. Allah memerintahkan kita untuk selalu memutar pandangan kepada lingkungan temporal serta berusaha menyingkapkan hukum-hukum Allah.

Kesimpulan

Dari uraian tersebut diatas, jelaslah bahwa alam semesta pada umumnya hutan dan lingkungan hidup pada khususnya diciptakan Allah untuk kemaslahatan ummat manusia. Kita harus menjaga keseimbangan, kelestarian dan keberlangsungan lingkungan tersebut untuk diri kita dan untuk masa depan generasi yang akan datang. Antara manusia dan lingkungan hidup seperti hutan, udara dan air adalah saling membutuhkan yang satu dengan yang lain agar tercapai kehidupan yang harmonis bahkan alam semesta itu dipersembahkan untuk kemaslahatan ummat manusia. Memperlakukan hutan dan lingkungan hidup tidak hanya sekeclar komoditas ekonomi yang di eksploitasi sedemikan rupa tanpa mengindahkan akibat-akibat yang akan merugikan semua pihak bukanlah bagian dari ajaran Islam.

Islam mengajarkan sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya, “Bahwa kita diwajibkan oleh Allah untuk berbuat Ihsan terhadap segala sesuatu, termasuk kepada flora dan fauna” (H.R. Muslim). Bahkan Allah SWT meminta jika menyembelih binatang sekalipun, tajamkanlah pisaunya, ringankanlah penderitaan dari binatang yang akan disembelih tersebut. Jika ditanganmu ada satu bibit pohon sekalipun esok hari akan kiamat, maka tanamkanlah.

Realitas yang kita hadapi hari ini betapa para kapitalis telah memporak-porandakan hutan dan lingkungan hidup yang menyebabkan terjadi bencana di mana-mana, tidak hanya sekedar merusak ekosistem, tetapi malah telah membinasakan jutaan umat manusia.

 
 
 


Penulis: Amlir Syaifa Yasin, MA
Dikutip dari: Buletin Da'wah No. 50 Thn. XXXIX 30 Muharram 1434 H (14 Des 2012 M)
Penerbit: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Prov. DKI Jakarta