Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Feb 18, 2012

Permintaan Terakhir

Aku terpengkur diatas tanah merah yang masih basah itu, basah karena hari baru hujan, ditambah oleh air mata yang aku cucurkan di atas perkuburan yang terletak di tepi hutan, jauh dari kota itu. Perkataannya yang terakhir masih mendengung di telingaku, ucapan orang yang baru kukenal ini, tetapi sungguhpun demikian seseorang yang telah jadi perintis jalan bagiku.

Demikianlah asal mulanya aku mulai bergiat mencoba menggambar, membayangkan penghidupan diatas layar penghidupan dengan tak mengacuhkan caci pujian, tetapi terus berusaha tak putus-putusnya, hanya dengan seorang guru yang tinggi perasaan keseniannya, yang tak kenal lelah akan muridnya. Terkadang, kalau terlambat pensilku di atas kain, tak berdaya, tak berjiwa lagi. Akan terus, aku kenang kembali gambar “Guru Dan Murid” itu dan berkata aku kepada diriku, “Tidak aku tak hendakkan bayangkan hidup, tiruan hidup, tetapi aku berkendak hidup semata-mata.”

Ah, berapapun uang akan kubayar, untuk belajar kenal dengan perintis jalanku itu, jikalau ada padaku, tetapi…didalam hatiku aku takut akan menemuinya. Betapa dambanya aku kadang-kadang akan membawa “ciptaan-ciptaan” ku kepadanya, mempersembahkan kerja yang jauh dari sempurna itu, mengatakan “Ini hasil cucur peluhku, cacilah aku, katakanlah aku tak ada kepandaian, buanglah pekerjaanku kedalam bandar sampah,” tetapi hatiku takut, takut akan perkataan-perkataan itu, jika sekiranya nanti betul dilemparkannya ke mukaku.

Tak dapat tiada aku akan patah, … , tak dapat akan bangkit lagi, sebab terasa olehku, aku bergantung kepada guruku seperti seseorang bergantung di akar yang tidak kelihatan pangkalnya, sedangkan dibawahnya lembah yang dalam.

Oleh karena itu, aku jauhkan diriku padanya, dan dengan tumpuan batin gambar yang telah terguris, tak dapat dihapus dari kalbuku itu, aku akan capai tingkat yang tinggi dalam dunia kesenian. Dan ketika aku mesti bercerai dangan “Guru”ku, karena diundang orang ke luar negri, coraknya masih gilang-cemerlang, biarpun tak gemerlapan seperti dahulu lagi.

Ketika aku kembali pulang, tiga tahun kemudian, tak ada kedengaran namanya lagi. Aku tanyakan ke sana-sini, seorang pun tak tahu. Hingga pada suatu hari, ketika aku duduk di serambi muka rumahku, lalu seorang berjual gambar. Ia berhenti di muka rumahku, melepaskan lelah, menghapus peluhnya, dan karena aku senantiasa memperhatikan buah seni yang tersembunyi, aku hampiri orang itu. Seorang pembeli sedang menawar sebuah gambar yang aku kenal, yang telah jadi teladan bagiku, yaitu gambar “Guru Dan Murid.”

Kalau sekiranya aku tak kenal betul akan ciptaan “guru”ku, niscaya aku akan terperdaya oleh tiruan itu. Sipembeli tadi menawar satu rupiah, sedangkan si penjual meminta serupiah setengah.

Mendengar harga yang disebut-sebut itu, mendidih darahku, bukan buatan marahku.

“Tunggu dulu,“ aku berseru, ”Tahukah Tuan-tuan, bahwa gambar ini sepuluh tahun yang lampau harganya seribu rupiah, dan sekarang Tuan-tuan berani menjual atau membeli serupiah setengah?”

“Tetapi gambar ini kemarin baru siap.” Jawab tukang jual itu.

Ketika itu jelas padaku, bahwa catnya masih baru, hilanglah marahku, hanya sekarang berganti dengan perasaan benci yang tidak terhingga, benci terhadap orang yang meniru ini yang menjual jiwa dan sukma seorang ahli seni yang besar. Dan ketika kulihat gambar-gambar lain itu pun pernah kulihat dahulu, dan sesudah kuperhatikan seketika, nyatalah padaku, bahwa ini barang tiruan semata-mata.

“Bang!” kataku kepada orang penjual itu, “Kalau Abang bawa aku ke tempat orang yang membuat ini, aku beri Abang nanti persen lima rupiah.” Segera orang itu mau dan kami pun berangkatlah menuju sebuah kampung tak jauh dari kota. Tak lain maksudku, hanyalah hendak mengata-ngatai si peniru si peniru yang tak berperasaan itu.

Di tengah jalan aku perhatikan terus gambar itu dan makin lama kulihat, makin terharu pikiranku , karena barang tiruan itu tak dapat disangkal, diperbuat oleh tangan yang cakap dan tumbuhlah syakwasangka dalam hatiku yang membuat hatiku berdebar.

Setiba kami di sebuah kampung yang belum penah aku jejak, dibawa aku oleh sipenjual tadi di sebuah pondok bambu, rendah dan teratur tampaknya.

“Silakan Tuan,” katanya dan berseru dari luar ke dalam “Tuan, ini ada tamu!”

Dari dalam rumah itu kedengar suara yang lemah, tak tegak lagi. “Suruhlah masuk Din!”

Aku masuk dan sejurus kemudian aku tertegun, hatiku berdebar, tak salah lagi, yang duduk di atas balai-balai ini ialah guruku, telah agak tua tampaknya, kupiahnya berkerumuk di atas kepalanya dan dari sana-sini tersembur dari dalam tutupnya kepalanya itu rambut putih. Tak tahan hatiku lagi, aku meniarap di bawah lututnya, tak sadarkan diri. Ketika aku angkat kepalaku, heran aku melihat wajahnya yang tenang itu, sedikit pun tak terlihat keheranan di mukanya yang pucat itu.

“Kaulah yang aku nanti, Nak.” Katanya, “Harapan inilah yang memberi aku tenaga untuk hidup terus.”

“Aku yakin,” sambungnya lagi, “Gambarku yang satu ini akan memutuskan penderitaanku. Lihatlah kita sekarang, tak ubahnya seperti gambarku dahulu. Aku kenal akan kau, Anakku. Aku turuti engkau semenjak cahayamu mulai terang bersinar dan aku mengerti, engkaulah yang akan menggantikan kedudukanku dalam kesenian Indonesia yang sepi ini. Sekarang aku bersukur kepada Yang Maha Esa.”

Oleh : Usmar Ismail
Dikutip dari : Gema Tanah Air Indonesia Balai Pustaka, Jakarta 1982

Legenda Danau Kerinci



UHANGKAYO - Konon menurut cerita Danau Kerinci tidak seperti sekarang ini. Asal muasalnya adalah dari sebuah danau yang sangat besar sehingga diberi nama Danau Gedang. Pada waktu itu Lembah Kerinci belum ada, karena masih tertutup oleh permukaan Danau Gedang tersebut. Ada satu kisah yang menceritakan terjadinya Danau dan Lembah Kerinci sehingga mejadi seperti sekarang ini.

Kisahnya berawal dari dua orang kakak beradik yang tinggal di sebuah rumah di kaki Gunung Kerinci. Mereka yatim piatu, sang kakak bernama Calungga sedang adiknya bernama Calupat. Sang kakak berwatak pemberang, kasar dan berani. Sedangkan adiknya berwatak halus serta cerdas. Sifat itu dipengaruhi oleh sepasang mustika yang diwariskan oleh orangtua mereka. Calungga mendapat batu merah sedang Calupat mendapat batu putih. Batu merah akan membuat pemiliknya menjadi pemberani dan memiliki kesaktian luar biasa, sementara batu putih membawa keberuntungan dan kejayaan bagi pemiliknya.

Pada suatu hari ketika sedang berburu di hutan, Calunga menemukan sebuah telur yang sangat besar, sebesar kelapa dangan kulit yang putih berkilau.  Karena tertarik Calungga membawa telur tersebut pulang. Calupat juga merasa heran pada telur yang dibawa kakaknya, Calupat mengusulkan untuk menyimpan telur itu selama tiga hari sambil ia minta petunjuk pada Dewa. Tetapi sewaktu Calupat sedang memancing, telur tersebut direbus oleh Calungga yang sudah tidak tahan ingin merasakan telur itu. Kemudian telur itu dimakan Calungga sampai habis, dan tertidur kekenyangan.

Ketika adiknya pulang, Calungga terbangun dengan rasa haus yang luar biasa sehingga diminumnya semua air yang ada dirumah. Tetapi rasa haus itu tidak hilang meski badanya sudah gembung oleh air. Calungga lalu pergi ke sungai dan minum sepuasnya sehingga tubuhnya makin menggelembung dan memanjang. Keesokan harinya Calupat pergi ke sungai dan mendapati kakaknya sudah berubah wujud. Di badan Calungga muncul sisik-sisik sebesar nyiru dengan warna berkilauan. Saat itu Calungga masih terus minum air sehingga sungai disekitar Gunung Berapi banyak yang kering. Konon sungai-sungai itu sekarang disebut Sungai Kering.

Ketika melihat Calupat, Calungga segera menyuruh adiknya pergi jauh. Karena takut, Calupat pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih harus bepisah dengan kakak yang disayanginya itu. Tak lama kemudian Calungga yang sudah berubah wujud menjadi seekor naga mengucapkan mantera-mantera. Seketika bumi bergetar, hujan badai turun dengan disertai guntur yang menggelegar. Air bah muncul dimana-mana sehingga menggenangi tempat Naga Calungga. Naga memutarkan badannya lalu berenang menuju Danau Gedang. Konon tempat naga mengisar dan memutar sekarang dikenal sebagai Danau Bento. Sedangkan sisik naga yang terkelupas berubah mejadi ikan yang bernama Simambang Bulan yang dianggap sebagai nenek moyang ikan Semah.

Tiga musim berlalu, Calupat kembali ke Danau Gedang, di tepi Danau Gedang ia berdiri dan memanggil-manggil kakaknya. Seketika dari air muncul seekor naga yang tak lain adalah kakaknya.  Sambil menangis gembira Calupat menceritakan keinginannya untuk pergi ke tempat dimana banyak orang tinggal (suatu desa). Calungga mengabulkan keinginan adiknya, ia menggendong Calupat di punggungnya lalu berenang mengarungi danau hingga sampai ke sungai sempit tempat keluarnya air danau dan tidak cukup untuk badannya yang besar. Namun dengan kesaktian Naga Calungga menjebol sungai tersebut sambil terus berenang menuju hilir hingga tiba di sebuah negri di pinggir sungai. Di tempat itu Calupat kemudian menetap. Beberapa tahun kemudian karena kepandaian dan sifatnya yang baik ia menjadi pemimpin di negri tersebut. Naga Calungga sendiri setelah mengantarkan adiknya lalu menyelam ke dalam sungai dan pergi entah kemana.

Sementara itu karena saluran pelepasan jebol oleh Naga Calungga, air Danau Gedang melimpah sehingga permukaan danau surut dan terbentuklah dataran luas yang sekarang dikenal dengan Dataran Kerinci. Danau Gedang yang tersisa berubah nama menjadi Danau Kerinci, dan sungai tempat keluarnya naga Calungga adalah sungai yang dikenal sebagai Sungai Batang Merangin.

Dituturkan oleh: Nenek Aminah_alm, Sungai Penuh
Dikutip dari: Kantor TNKS Sungai Penuh, 2004

Feb 17, 2012

Rumah Amfibi Pertama di Inggris sebagai Model Mengatasi Masalah Banjir

uhangkayo - Baca Architects baru-baru ini memperoleh persetujuan untuk membangun rumah amfibi pertama di tepi Sungai Thames, Inggris! Rumah tes ini akan menjawab isu tentang banjir yang semakin meningkat - yang merupakan masalah yang hampir terjadi di seluruh dunia akibat perubahan iklim. Saat terjadi pasang, rumah modern ini akan ikut naik dan mengambang, sehingga penghuninya tetap aman.

Rumah nyaman yang berukuran 738 kaki persegi (red: sekitar 68,5 m persegi) akan dibangun berdekatan dengan garis pantai sungai, yang hanya berjarak 32 kaki (red: 9,75 m). Tim Baca telah melakukan penelitian bertahun-tahun dengan model rumah yang tetap aman dan dapat ‘bersahabat’ dengan kondisi banjir. Perusahaan ini adalah pemimpin dalam arsitektur tepi air (waterfront* architecture), dan ini adalah tapak yang ideal untuk mengembangkan rumah tahan banjir.




Selama masa-masa kering, rumah akan berada tetap di fondasinya. Tetapi jika terjadi banjir, seluruh struktur akan terangka dari docknya, dan mengambang bersama dengan air banjir. Rumah itu akan dibangun di daerah rawan banjir yang disebut Zona Banjir 3b, yang terletak di sebuah pulau kecil di Sungai Thames Buckinghamshire.


Seperti kebanyakan rumah di Buckinghamshire, rumah ini akan didesain dengan atap bernada tradisional serta dengan karakteristik lain seperti halnya rumah yang terdapat di wilayah tersebut. Meskipun pada bagian luar akan sedikit berbeda sesuai dengan rancangan, rumah akan menjadi sangat efisien dalam penggunaan energi,  karena banyak isolasi dan performa kaca jendela. Taman sekitarnya akan ditanami sebagai baris pertama pertahanan terhadap banjir, dan rumah akan mulai bereaksi saat air mencapai titik tertentu, setelah memberikan pesan peringatan kepada penghuni.


Façade dari kayu ringan akan ditempatkan antara empat tonggak vertikal yang akan membuat struktur tetap ditempat. Pembangunan rumah ini direncanakan pada akhir tahun ini, dan akan menjadi sebuah model yang baik untuk menangani masalah banjir di seluruh dunia.

Sumber: inhabitat.com

Glosarium Uhangkayo: waterfront

Pengertian waterfront dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Sedangkan, urban waterfront mempunyai arti suatu lingkungan perkotaan yang berada di tepi atau dekat wilayah perairan, misalnya lokasi di area pelabuhan besar di kota metropolitan (Wrenn, 1983). Dari kedua pengertian tersebut maka definisi waterfront adalah suatu daerah atau area yang terletak di dekat/berbatasan dengan kawasan perairan dimana terdapat satu atau beberapa kegiatan dan aktivitas pada area pertemuan tersebut. - archilia.

Feb 9, 2012

Wisata Kiamat: Dimana Anda akan Merayakan Hari Kiamat

Dimana ada kehancuran, disana ada kesempatan.

Kalender suku maya memprediksikan kiamat terjadi pada tanggal 21 Desember 2012.
uhangkayo - 21 Desember 2012 menandai akhir siklus sistem penanggalan suku Maya. Ada yang merasa ketakutan akan ramalan ini, namun yang ada juga yang mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan.

“Pemerintah Meksiko mengharapkan 52 juta wisatawan berkunjung ke lima negara bagian – Chiapas, Yucatan, Quintana Roo, Tabasco dan Campeche, selama 12 bulan ke depan,” kata Latin American Herald Tribune.

Menurut laporan pemerintah, harapan ledakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari kampanye pariwisata Presiden Meksiko Felipe Calderon: "Mundo Maya 2012," untuk mempromosikan Meksiko sebagai daerah tujuan wisata yang unik.

Jadi, jika Anda bertanya-tanya kemana dollar terakhir yang akan Anda habiskan sebagai manusia yang bernafas atau sekedar melihat mimik manusia menghadapai kedatangan 21 Desember 2012, anda dapat mengunjungi beberapa daerah di Meksiko berikut ini:

Tapachula, Mexico
"Gravestone of Izapa", merupakan salah satu Stele yang pertama kali ditemukan di Izapa, sekarang dipindahkan ke Mexico City

Kota sederhana ini terletak di daerah perbatasan antara Meksiko dan Guatemala. Kota ini telah memasang jam besar di tengah kota untuk menghitung mundur hari hingga tanggal 21 Desember 2012. Perhitungan mundur jam digital setinggi 2,5 meter telah dimulai sejak tanggal 21 Desember 2011. Setelah Anda melihat jam, berkunjunglah ke beberapa situs arkeologi Maya, Izapa, di mana batu "Pohon Kehidupan" ditemukan pada tahun 1950.

Cancun dan Playa del Carmen, Mexico
Pastikan pesan terakhir Anda terbaca
Resor yang berada antara Cancun dan Playa Del Carmen menawarkan kepada wisatawan untuk menitipkan pesan dan foto kedalam sebuah botol yang akan dikubur selama 50 tahun. Selain itu, menurut situs resmi Cancun, telah disiapkan pusat upacara yang besar di reruntuhan Tulum, Palenque dan Chichen untuk menyambut kedatangan ribuan wisatawan kiamat, yang akan menjadi saksi sejarah yang hanya terjadi selama 5.125 tahun. Promosi wisata yang ditawarkan bermotifkan kiamat, "apapun yang anda yakini, datanglah dan jadilah bagian dari sebuah pengalaman yang sangat bersejarah." Ujar dewan pariwisata.

Mérida, Yucatán, Mexico
Museum ini sedang dibangun dan akan dibuka pada akhir musim panas.
Sebagai alternatifnya, anda dapat mengunjungi museum baru Maya yang akan dibuka di di Yucatan pada bulan Juni 2012. Pemerintah Yucatan mengeluarkan anggaran sebesar biaya 411 juta peso (US $ 30 juta),  untuk membangun Merida Museum Maya, bagi 750.000 artefak suku Maya.

Xunantunich, Cayo District, Belize
Menuju api penyucian.
Pada tanggal 21 Desember 2012 anda disarankan menuju Distrik Cayo di Belize. Situs bersejarah Xunantunich akan menjadi tuan rumah festival dengan konser yang diadakan di sekitar rerentuhan tersebut. Terdapat juga obor api seperti pada Olimpiade, yang akan dibawa menuju empat sisi situs, untuk di jaga dalam 5.125 tahun kedepan.

Calakmul reserve, Campeche, Mexico
Mari berharap hotel berada disekitarnya dan bukan di atas.
Ingin tahu di mana untuk tinggal selama perayaan? Anda dapat mencoba Calakmul reserve di Campeche. Pemerintah Meksiko berencana untuk membangun sebuah hotel untuk wisatawan di situs arkeologi Calakmul, negara bagian Campeche. Hotel ini dibangun untuk mengakomodasi para wisatawan yang tertarik dengan kebudayaan dan sejarah kuno suku Maya.

Sumber: cnngo.com

Feb 6, 2012

Menikmati 'Hidup' ala Mongolia di The Highland Park Resort Hotel Bogor


UHANGKAYO - Pernahkah anda membayangkan diri anda sebagai seorang mongol yang hidup di alam terbuka dan hanya bernaung dibawah sebuah tenda untuk menghindari terik matahari atau dinginnya malam? Jika anda pernah memimpikan untuk menjalani hidup seperti itu, The Highland Park Resort telah menyediakan fasilitas bagi anda untuk mencicipi kehidupan ala mongolian.

Anda tidak perlu benar-benar menjalani hidup seperti orang mongol, yang berhadapan dengan tanah, bau, atau lalat dimana-mana. Camp ini telah ditata sedemikian rupa sehingga anda dapat menikmati layanan layaknya hotel bintang 5. Fasilitas yang disediakan oleh Mongolian Camp berupa king size bed, AC (Air Conditioner), TV layar LCD 32 inci, kamar mandi dan toilet pribadi dengan fasilitas air panas dan dingin, serta lantai marmer.

The Highland juga menyediakan fasilitas lain yang dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga, seperti: waterboom mini, taman bunga (Anthurium, Lily, Chrysant, etc), outbound (flying fox and high ropes), restoran, ruang keluarga, jogging track, dan lain sebagainya.




Anda dapat menikmati 'kehidupan' ala orang mongol, dengen mengeluarkan Rp.2.000.000 per malam untuk Camp Standard, atau Rp.2.500.000 per malam untuk Camp Deluxe. Harga ini telah termasuk pajak, sarapan untuk 2 orang, wellcome drink, gratis internet, serta anda dapat menggunakan kolam renang.

Mongolian Camp
Camp Deluxe
Camp Deluxe


Lokasi Mongolian Camp


Mongolian Camp berada pada ketinggian 800 mdpl dengan fasilitas bintang 5 dan pertama di Asia Tenggara. Mongolian Camp ini berada dalam kawasan Highland Park Resort Hotel, Ciapus-Bogor, yang tidak jauh dari objek wisata air terjun Curug Nangka.


Peta lokasi Mongolian Camp


Lihat Peta Lebih Besar

Informasi selengkapnya tentang the Highland Park Resort Bogor klik disini.

Jan 24, 2012

Kunjungan Bapak BJ Habibie ke Garuda Indonesia

Kunjungan Bapak BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia, Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta, 12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai "balasan" pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan..................

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

"Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!" beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata "Dik" kemudian secara lancar beliau  elanjutkan................."Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan 'how to build commercial aircraft' bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan 'teknologi' berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri..............N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami 'Dutch Roll' (istilah penerbangan untuk pesawat yang 'oleng') berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi 'Fly by Wire' bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri 'apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?'

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya. Dik tahu................di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.............

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa................

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.....................?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun. - BJ Habibie.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!"

Pak Habibie menghela nafas.......................

Ini pandangan saya (red: penulis) mengenai cerita pak Habibie di atas;


Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan "track ball atau touch pad" sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama................. N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir.............kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya....................

"Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia".

"Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
  • Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten
  • C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis
  • D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu! Itu saja!"
Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

"Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik............. organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik.................."

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu...........................

"Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ........... ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........................"

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam.............................seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................

"Dik, kalian tau.................2 minggu setelah ditinggalkan ibu............suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu......... Ainun......... Ainun ................. Ainun.............. saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat 'Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini..............' mereka bilang 'Kita (para dokter) harus tolong Habibie'.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

  1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
  2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus...............
  3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang ketiga............................"

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ...................... ia melanjutkan pembicaraannya;

"Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun..............dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun ari Jerman ke tanah air Indonesia.............

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat............. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia"

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata..............................

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

"Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.....................

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu............semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif..................."
(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capt. Novianto Herupratomo
==========================================
uhangkayo.webs.com:
  • Saya mendapatkan berita ini dari suatu milis, dan ternyata sudah beredar luas di beberapa blog.
  • Setelah membaca saya ingin meneruskan di blog ini dibawah label Pahlawan, deddicated to Pahlawan yang membuat bumi ini menjadi dunia yang nyaman untuk di huni.
  • Saya berharap anda menemukan ‘sesuatu’ setelah membaca (hanya) sepenggal kisah dari beliau. Seperti yang ditulis oleh Capt. Novianto Herupratomo: "banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun".

Jan 22, 2012

Unit Conversion Tool, Itung A kemudian Ubah ke B dengan Cepat dan Akurat

uhangkayo - Uhangkayo punya software bagus nie, kecil tapi powerfull, sederhana tapi bermanfaat, dan sangat cocok bagi orang yang punya kesibukan teramat sangat (red: pemalas..hehe). Namanya Unit Conversion Tool, mudah untuk digunakan, cepat, dan sangat akurat dalam meng-convert dari satu unit ukuran ke unit ukuran lain, dari satu sistem ke sistem yang lain.

Unit Conversion Tool sangat cocok bagi pelajar maupun mahasiswa, bahkan pekerja yang suka itung-itungan. Program ini mencakup 2100 unit dalam 78 kategori, seperti panjang, luas, kecepatan, massa, volume, waktu, kepadatan, tenaga, tekanan udara, energi, daya, aliran, suhu, sudut, cahaya, pecahan, transfer data, dan lain sebagainya..

Ga ada tutorial, karena hanya dengan sekali klik agan-agan sudah bisa memahami cara kerjanya. Bisa dioperasikan pada Windows XP, Win Vista, Win 7 (32/64bit).

Silakan sedot gan, ane kasih gratis... :).

Dapatkan Unit Conversion Tool klik disini.

___
Dikutip dari uhangkayo.webs.com

Jasa Lingkungan Hutan Konservasi sebagai Potensi Pembangunan Kerinci (Bagian 2)


Manfaat Intangible Hutan di Wilayah Administratif Lembah Kerinci (Kota dan Kabupaten)

Beberapa penelitian lainnya juga telah dilakukan oleh para peneliti lingkungan, untuk menghitung manfaat intangible yang diberikan oleh tegakan hutan, namun belum dapat memberikan standarisasi nilai (dalam ekonomi) yang dapat berlaku secara umum. Hal ini dilakukan mengingat tingginya tingkat kompleksitas suatu sistem alam, yang masing-masing komponen memiliki hubungan yang sangat erat, mulai dari mikroorganisme yang ada di dalam tanah, tanah itu sendiri, jenis yang akan menentukkan karakteristik tumbuhan/pohon itu sendiri, hingga satwa yang hidup didalamnya. Sehingga penelitian mengenai jasa lingkungan ini dilakukan dengan menyederhanakan dan/atau menghitung faktor tertentu yang dianggap penting, dan nilai yang dihasilkan juga akan lebih rendah dari nilai yang sesungguhnya. Namun, dengan mengabaikan beberapa faktor saja, telah memberikan gambaran betapa pentingnya manfaat intangible hutan.

Hasil dari penelitian manfaat yang diberikan oleh 1 ha hutan atau lebih spesifik pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat memberikan manfaat, diantaranya:
  • Menghasilkan 0,6 ton oksigen untuk dikonsumsi oleh 1.500 penduduk per hari agar dapat bernafas dengan lega.
  • Membuang 2,5 ton CO2 per tahun dari atmosfer atau 6kg CO2/batang per tahun.
  • Menyimpan 900 m kubik air tanah per-tahun.
  • Meredam suara 7 desibel per 30 meter jarak dari sumber suara, pada frekuensi kurang dari 1000 CPS.
  • Menurunkan suhu 5-8 derajat celsius.
Nilai tersebut diatas bukanlah sebuah standar yang berlaku umum. Namun, nilai yang dihasilkan dari penelitian diatas, dapat digunakan sebagai gambaran tentang manfaat yang dihasilkan dari 214.999,6 ha wilayah hutan konservasi yang terdapat di administratif Lembah Kerinci, atau 191.822 Ha di administratif Kabupaten Kerinci dan 23.177,6 ha di administratif Kota Sungai Penuh.

Kompensasi bagi Negara yang Menjaga Hutan - Menggantungkan Hidup pada Perdagangan Karbon?

Kawasan hutan memiliki simpanan karbon yang luar biasa tinggi dan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pohon didalamnya. Negara maju yang notabene adalah negara industri merupakan penyumbang gas berbahaya (terutama karbon) yang dapat mengancam kehidupan makhluk hidup apabila melewati ambang batas. Oleh karena pentingnya hutan sebagai ‘penampung’ dan ‘pembersih’ gas-gas berbahaya dari hasil kegiatan industri, maka beberapa Negara maju bersedia membayar sejumlah kompensasi kepada negara berkembang yang memiliki hutan alam yang luas, selain itu kompensasi yang diberikan juga merupakan salah satu syarat bagi negara maju tersebut untuk melanggengkan kegiatan industri mereka.

Kegiatan ini dikenal dengan istilah Perdagangan Karbon (Carbon Trade). Perdagangan karbon merupakan bentuk kompensasi yang diberikan oleh negara-negara industri maju sebagai penghasil karbon pada negara-negara yang memiliki hutan luas sebagai penyimpan karbon. Di bawah kesepakatan Protokol Kyoto, negara industri maju penghasil emisi karbon dioksida diwajibkan membayar kompensasi kepada negara miskin dan atau berkembang atas oksigen yang dihasilkan dari hutan pada negara tersebut.

Hingga saat ini belum ada kesepakatan harga untuk satu ton karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan alam. Beberapa isu yang berkembang menyebutkan bahwa 1 ton karbon berkisar antara 2-15 dollar per ton, bahkan beberapa sumber menyebutkan mencapai 40 dollar per ton. Dengan asumsi 1 ha hutan alam mampu menyimpan 254 ton karbon, dengan nilai hanya 2 dollar per ha, maka nilai hutan kawasan konservasi (yang berada di wilayah berada di wilayah administratif Lembah Kerinci) seluas 214.999,6 ha mencapai Rp.3.654.993.200. Nilai yang sangat menggiurkan.

Namun untuk mewujudkan perdagangan karbon ini, masih jauh panggang dari api. Negara industri seperti Amerika merupakan pembangkang utama untuk merealisasikan kesepakatan ini. Dan seandainya perdagangan karbon telah ditetapkan oleh 'dunia', dengan hanya dengan membuka mata pada kondisi nasional yang masih caruk-maruk, ketidaksiapan pemerintah dalam mengelola carbon trading, serta dengan segala istilah tetek bengek yang intinya adalah pemotongan dana pada setiap anak tangga dari level atas hingga level bawah. Yang akan terjadi adalah ruang yang semakin jauh antar rakyat dengan pemerintah (pengelola perdagangan karbon), petinggi-petinggi pemerintah akan makin kaya dari pemotongan dan rakyat akan tetap (semakin) miskin. Sehingga rakyat Kerinci tetap tidak bisa menikmati sepenuhnya manfaat yang diberikan oleh jasa lingkungan hutan konservasi di Lembah Kerinci. Kalaupun hasil 'mengemis' pada negara maju ini sampai pada level masyarakat kecil, paling hanya menyentuh masyarakat di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Barangkali juga akan menimbulkan kecemburuan sosial antar desa, dan memperbesar celah konflik dengan pengelola hutan konservasi.
Lalu apa yang bisa diharapkan hanya dari 'mengemis' yang bisa dipadankan dengan suatu bentuk pembodohan. Kerinci hanya menjadi semakin manja.
Ini tentu hanya sebuah dugaan dengan melihat berbagai faktor yang ada, namun mari berharap jika terwujud perdagangan karbon maka dapat berlangsung dengan baik.

Membangun Kerinci; Kembangkan Kreatifitas, Jadikan 'Ancaman' sebagai Peluang

Besarnya arus modernisasi serta pola pikir yang telah mengakar pada setiap lapisan masyarakat bahwa sesuatu haruslah bernilai secara ekonomi, serta dengan berbagai peraturan yang melekat di kawasan konservasi seolah membuat hutan konservasi ini hanya sebagai faktor 'penghambat' bagi pembangunan Kerinci. Mengingat besarnya manfaat intangible yang dapat diberikan oleh hutan bahkan dinikmati oleh negara di belahan bumi lain, melalui analisis WOTS UP secara kasar, maka sangat disayangkan jika hutan konservasi ini sampai rusak atau mengalami konversi sebagai perkebunan hanya demi kepentingan ekonomi sesaat. Namun tidak adanya manfaat ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat tentu menambah kesan bahwa keberadaan hutan konservasi hanya 'menghambat' pembangunan Kerinci. Jika ini dibiarkan terus, maka akan menimbulkan ketidakharmonisan antar masyarakat, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan, seperti yang telah berlangsung selama ini dan bukan tidak mungkin akan semakin runcing pada masa yang akan datang.

Baik Pemda maupun Pengelola Kawasan hendaknya dapat menemukan satu solusi yang mampu menjembatani kepentingan masing-masing pihak. Pengelola kawasan hendaknya lebih gencar dalam memberikan sosialisasi manfaat (intangible) hutan ditinjau dari sisi ekonomi bagi masyarakat, terutama dengan pendekatan substitusi, seperti biaya kesehatan yang harus dikeluarkan apabila udara maupun air tercemar. Tentu akan lebih baik apabila dapat menyajikan dalam bentuk angka atau dalam Rupiah, berdasarkan penelitian-penelitian fakta-fakta yang ada.

Pemerintah daerah juga dapat membuka mata dan belajar pada beberapa kota lain yang mengalami degradasi akibat pengelolaan yang hanya melihat dari aspek ekonomi saja, yang mementingkan peningkatan PAD, tetapi mengabaikan aspek ekologi maupun sosial. Beberapa kota telah berbenah akibat pendekatan dalam pembangunan kota yang tidak mengikuti kaidah alam, seperti Curitiba di Brazil dengan menggandakan Ruang Terbuka Hijau. Atau Singapura sebuah negara kecil yang memanjakan pejalan kaki dengan membangun jalur pedestrian yang manusiawi.

Dengan kondisi alam Kabupaten Kerinci saat ini, terlebih pemerintahan Kabupaten Kerinci yang baru terbentuk, menjadi langkah awal yang sangat baik untuk mewujudkan pembangunan Kerinci yang berkelanjutan dari aspek ekonomi, sosial, dan ekologis. Melalui pendekatan perencanaan dan pengelolaan yang baik, Kerinci memiliki potensi menjadi kota yang maju secara ekonomi dengan memanfaatkan aspek ekologi, dan kota yang sehat dengan tetap terjaganya fungsi ekologi, dan menadi rumah bagi masyarakatnya, serta tetap mempertahankan identitas Kerinci yang sesungguhnya.
Kawasan hutan konservasi yang berada diwilayah administratif Lembah Kerinci dengan berbagai peraturan yang membatasi, sesungguhnya memiliki potensi untuk menjadi kekuatan yang dapat mendongkrak pembangunan Kerinci. Tinggal sekarang yang dibutuhkan adalah bagaimana me-manage 'ancaman' menjadi sebuah potensi.


___
Dikutip dari uhangkayo.webs.com

Jasa Lingkungan Hutan Konservasi sebagai Potensi Pembangunan Kerinci (Bagian 1)

Pengantar

UHANGKAYO - Berbicara tentang hutan konservasi bukan hal yang sederhana, karena ada banyak kelompok kepentingan yang terlibat. Terlebih jika kita melihat fungsi hutan sebagai Paru-paru Dunia, berarti ada makhluk hidup dibelahan bumi lain yang juga menimati manfaat yang diberikan. Sehingga bukan hanya masyarakat sekitar, pemerintah setempat, maupun pengelola kawasan atau Kementerian Kehutanan yang memiliki kepentingan di kawasan konservasi tersebut. Tulisan ini hanya mencoba melihat dari jasa lingkungan yang dapat diberikan oleh hutan konservasi.

Hutan konservasi yang terdapat di wilayah administrasi Lembah Kerinci memberikan jasa lingkungan yang tidak terhingga bagi masyarakat Kerinci, bahkan negara lain, sehingga tidak heran apabila hutan alam ini menjadi bagian dari Paru-paru Dunia. Kata paru-paru pada manusia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kata nafas, bernafas berarti menghirup dan membuang udara, untuk membersihkan darah dengan oksigen dari udara yang dihisap. Udara yang segar mengandung banyak oksigen yang akan memberikan kualitas hidup yang baik bagi makhluk hidup.

Berbeda dengan paru-paru pada manusia, hutan sebagai paru-paru dunia memiliki fungsi kebalikan. Hutan membersihkan udara dari berbagai gas yang berbahaya bagi manusia dan menghasilkan oksigen (O2 ). Oksigen ini hanya dapat dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan berklorofil, dengan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen, dengan bantuan sinar matahari. Proses ini dikenal sebagai fotosintesis atau dirumuskan dengan:

6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2


Selain itu, hutan juga menjadi pemasok ketersediaan air bersih, membentuk iklim mikro, menghindari terjadinya longsor, peredam kebisingan, penepis bau, habitat satwa, dan segudang manfaat lainnya, hingga pemanfaatan sebagai potensi pendidikan dan rekreasi.

Manfaat Intangible dan Tangible Hutan

Manfaat intangible merupakan manfaat yang tidak dapat atau sulit untuk diukur, manfaat ini hanya berupa jasa lingkungan. Sedangkan nilai yang dapat diukur (secara ekonomi) seperti pemanfaatan flora, kayu, rotan, hingga fauna dari hutan dikenal dengan manfaat tangible. Tidak adanya alat atau standar untuk mengukur nilai ekonomi dari manfaat intangible ini, membuat hutan seringkali hanya dilihat dari sisi tangible saja, yaitu sebagai penghasil kayu atau sebagai lahan pertanian. Perbedaan sudut pandang antara masyarakat/pemerintah yang berorientasi pada nilai ekonomi, dengan pengelola Taman Nasional yang menjaga keutuhan kawasan agar dapat berfungsi sebagai penyedia jasa lingkungan, seringkali memicu konflik. Masing-masing pihak memiliki kepentingan dari sudut pandang yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memberikan manfaat bagi masyarakat yang ada.

Manfaat tangible maupun intangible memiliki sifat yang berbeda dalam waktu, cakupan, dan jenis manfaat yang diberikan. Manfaat tangible cenderung memberikan hasil yang lama dan berjangka, misal suatu lahan perkebunan atau pertanian, pemanenan hanya dapat dilakukan apabila telah mencapai umur tertentu dan panen berikutnya harus mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Cakupan manfaat tangible yang diberikan bersifat lokal, yang menikmati hanya kalangan tertentu seperti pemilik lahan, para pekerja, dan pemerintah setempat. Manfaat tangible ini juga bersifat sempit yang hanya dapat dinilai dari sisi ekonomi saja sebagai penghasil kayu, kulit manis, maupun berbagai hasil pertanian lainnya.

Sedangkan manfaat intangible dapat dinikmati lebih cepat dan tersedia sepanjang waktu selama hutan tetap terjaga, seperti udara dan ketersedian air bersih sepanjang tahun. Cakupan manfaat intangible juga sangat luas, bukan hanya penduduk lokal, tapi juga secara nasional bahkan internasional dapat menikmatinya. Selain itu, manfaat intangible dari kawasan hutan tidak terbatas, bukan hanya sebagai pemasok udara dan air bersih, namun juga dapat meredam kebisingan, mengurangi bahaya hujan asam, iklim mikro, habitat satwa, mengurangi stress, penahan angin, hingga menjadi potensi ekowisata.

Nilai Ekonomi Manfaat Intangible


Manfaat intangible ‘tidak berwujud’ dan bukanlah berupa angka-angka, sehingga seringkali dianggap remeh oleh penduduk setempat, bahkan negara-negara maju seringkali mengabaikannya. Namun, manfaat intangible hutan dinikmati setiap saat terutama oleh masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan. Seperti udara bersih, ketersediaan air bersih sepanjang tahun, suhu udara yang sejuk. Kecendrungan atau anggapan suatu pembangunan yang berhasil hanya ditandai dengan hadirnya 'hutan beton' yang menggantikan hutan alam, dan meningkatnya pendapatan penduduk yang juga berdampak pada tingginya PAD bagi pemerintah setempat. Yang semuanya adalah suatu bentuk tekanan ekonomi pada sisi ekologis. Namun fakta dewasa ini, berbagai kota yang 'maju' mulai berbenah diri dan mulai melihat aspek lain dalam pembangunannya, agar mencapai suatu keberlanjutan fungsi ekonomi, sosial, dan ekologis. Kota yang secara ekonomi maju, secara ekologis sehat, dan merupakan rumah bagi masyarakatnya.

Tekanan yang masih besar pada aspek ekologis, membuat para ahli lingkungan mencoba berbagai pendekatan dalam menghitung manfaat intangible hutan, sehingga manfaat intangible yang berupa jasa lingkungan ini dapat keluar dalam bentuk angka-angka atau berupa nilai Rupiah. Salah satu model pendekatan yang digunakan adalah melalui metode substitusi, metode ini membandingkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh suatu masyarakat yang hidup tanpa hutan dengan masyarakat yang hidup di sekitar hutan.

Contoh metode substitusi adalah adalah dari pendekatan biaya kesehatan, yaitu membandingkan jumlah orang sakit dengan jenis penyakit tertentu (penyakit pernafasan) pada daerah yang memiliki tingkat pencemaran udara yang tinggi, seperti di perkotaan dibandingkan dengan daerah-daerah yang masih alami yang memiliki kualitas udara yang bersih. Secara statistik masyarakat yang hidup di daerah perkotaan/terpolusi lebih sering terkena penyakit pernafasan, ini berarti masyarakat perkotaan akan mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya berobat. Sedangkan masyarakat yang hidup di daerah yang masih alami atau disekitar hutan hampir tidak pernah terkena penyakit pernafasan, sehingga masyarakat sekitar hutan tidak akan mengeluarkan biaya untuk berobat karena penyakit tersebut.
Perbandingan biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat yang hidup di daerah tanpa hutan dengan yang hidup di daerah sekitar hutan merupakan harga atau nilai ekonomi untuk jasa lingkungan dari hutan.
Begitu juga dengan ketersediaan air bersih, pada daerah-daerah yang masih alami seringkali ditemukan mata air bersih yang tersedia sepanjang tahun dan bisa langsung diminum. Hal ini tentu berbeda dengan daerah perkotaan, Ibukota Jakarta saat ini mengalami krisis ketersediaan air bersih, air tanah yang terdapat di Jakarta merupakan air payau. Ini terjadi karena daratan Jakarta mengalmi intrusi air laut akibat hilangnya hutan Mangrove sebagai penahan air laut. Selain itu, air yang dijual dalam kemasan merupakan suatu cara untuk mengukur manfaat intangible hutan dari sudut pandang ekonomi. Minimal uang yang dikeluarkan untuk segelas air kemasan adalah Rp.1.000,-
Jika hutan di bumi hilang, bukan tidak mungkin udara bersih juga akan dikomersialkan dalam bentuk kemasan seperti air kemasan yang sering kita jumpai di pasar saat ini. Suatu saat nanti anak cucu kita akan merogoh kocek hanya untuk menghirup udara bersih.
Manfaat lain dari ketersediaan hutan adalah pada kemampuannya membentuk suatu iklim mikro atau memberikan efek menyejukkan, dimana suhu udara didaerah yang berpohon lebih rendah dibandingkan pada daerah yang tidak memiliki pohon. Iklim mikro yang dibentuk oleh pepohonan ini akan berdampak pada penggunaan energi listrik, sehingga penghuni rumah tidak membutuhkan AC (Air Conditioner) atau kipas angin. Dengan tidak adanya penggunaan alat-alat listrik tersebut maka akan menurunkan tagihan listrik. Di daerah perkotaan yang minim Ruang Terbuka Hijau (RTH) seperti di Jakarta, hampir setiap rumah memiliki alat listrik untuk menyejukkan ruangan, rumah-rumah mewah setidaknya memiliki 2-5 unit AC, bahkan yang hidup di bawah kolong jembatan setidaknya memiliki satu unit kipas angin.

Penelitian yang lebih seksama telah dilakukan oleh Milantara (2011) yang melihat hubungan antara keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan pemakaian energi listrik untuk penggunaan AC, hasil yang didapat adalah perumahan yang memiliki RTH sebesar 8,50% mampu memberikan penghematan listrik tahunan lebih dari 40 juta rupiah atau terjadi penghematan tagihan listrik per rumah sebesar 2,3%. Sedangkan perumahan lain yang memiliki 6% RTH mampu menghemat pemakaian energi listrik sebesar 0,88% per rumah, dengan area pengembangan yang lebih luas maka penghematan total perumahan ini hingga 90 juta rupiah per tahun.
Kondisi diatas tentu saja berbeda dengan masyarakat yang hidup disekitar hutan. Hutan Lembah Kerinci yang terjaga baik tentu akan dapat menghindari masyarakat Kerinci untuk mengeluarkan sejumlah biaya kesehatan atau tagihan listrik.


___
Dikutip dari uhangkayo.webs.com