Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Aug 17, 2012

Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran

Dalam usahanya menemukan pengetahuan yang baru, seorang ilmuwan selalu berusaha atas dasar pengetahuan yang benar. Tanpa didasari pengetahuan yang benar, pengetahuan yang dikembangkannya kemudian akan menjadi goyah dan dalam waktu yang singkat tidak dapat dipertahankan lagi sebagai pengetahuan yang sahih. Karena itu seorang ilmuwan sejati selalu menghadapi risiko dianggap sebagai pembangkang oleh masyarakat, apakah itu oleh orang awam, kelembagaan keagamaan, ataupun oleh suatu sistem pemerintahan. Andrei Sakharov misalnya ialah contoh tentang seorang ilmuwan yang bertaat-azas terhadap pendapatnya yang tidak disenangi pemerintah. Penderitaannya dalam buangan dapat dibaca di antaranya dalam buku yang ditulis istrinya yang juga ilmuwan, yaitu Elena Bonner.

Contoh klasik tentang pertentangan yang muncul antara ilmuwan dan agamawan ialah tentang penghukuman Galileo Galilei, yang bertentangan dengan pendapat agamawan mendukung pendapat Copernicus yang menyatakan bahwa bukan matahari yang beredar mengitari bumi, melainkan bumi yang beredar mengitari matahari. Demikian pula dapat dikemukakan larangan pemerintah Uni Soviet di bawah pimpinan Stalin untuk mengembangkan genetika berdasarkan teori Mendel, yang pemukanya ialah T. D. Lyssenko. Sebagai akibat diutamakannya pandangan Mitschurin yang mengatakan bahwa pengaruh lingkungan dapat diwariskan dari tetua ke zuriat, program pemuliaan tanaman di Uni Soviet mengalami hambatan karena dikembangkan atas dasar pe-ngetahuan yang tidak sahih.

T. D. Lyssenko bertindak mengucilkan genetika Mendel dari pengembangan ilmu di Uni Soviet dengan alasan ingin menyesuaikan biologi dengan falsafah kenegaraan. Sebagai akibatnya tokoh pemuliaan tanaman Rusia Vavilov, yang dihormati dalam kalangan internasional tersingkir dan tersungkur, walaupun sesungguhnya hanya dialah yang dapat menyelamatkan program pemuliaan tanaman gandum di Uni Soviet dari kehancuran.

Kejadian seperti itu tidak hanya mungkin terjadi di negara yang kurang bebas iklim berpikirnya. Di Inggris pun terjadi suatu malapetaka ilmiah karena ada seorang ahli psikologi kenamaan yang memalsu data penelitian agar orang percaya bahwa kemampuan seorang anak terutama ditentukan oleh sifat-sifat keturunan yang diwariskan dari tetua ke zuriat. Ahli psikologi itu adalah Cyril Burt yang di luar kekeliruannya yang fatal ini adalah seorang ilmuwan terhormat. Dengan menganut pendapat ini dapat diterima pandangan bahwa hanya anak orang yang pandai saja yang dapat menjadi orang yang pandai, sebab kepandaian itu adalah suatu ciri yang diwariskan secara genetik dari tetua ke zuriat. Akibatnya di Inggris sejak waktu yang dini telah diadakan pemisahan jalur pendidikan bagi mereka yang berkecenderungan akademik yang tinggi dari mereka yang berkecenderungan mekanis. Di Austria pun pendapat Burt ini pernah diterapkan. Akibatnya lebih banyak anak laki-laki disalurkan ke pendidikan kejuruan sejak lepas dari sekolah dasar dan kebanyakan mahasiswa perguruan tinggi yang tentunya bersifat akademik berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut adalah akibat bahwa pada usia lepas sekolah dasar seorang anak laki-laki memiliki kecenderungan mekanistik yang lebih tinggi daripada seorang anak perempuan.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur

Dengan adanya contoh-contoh akibat ketidakjujuran akademis seperti ini, dapatlah dipahami bahwa pendidikan menjadi ilmuwan penuh dengan rambu-rambu yang mengingatkan orang agar selalu mempertahankan kebenaran dan berani mengemukakan pendapat dengan jujur. Untuk itu saya ingin menampilkan beberapa pengalaman saya tentang perlunya seorang penuntut ilmu mempunyai keberanian menyatakan apa yang diyakininya secara jujur.

Pengalaman pertama saya yang selalu tidak dapat saya llipakan terjadi pada tahun 1950/1951. Ketika itu saya duduk di kelas dua Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor. Walaupun hanya sebuah sekolah kejuruan menengah atas, guru Limnologi saya itu yang juga adalah guru Zoologi saya di kelas satu adalah seorang sarjana Biologi. Ketika nyonya ahli Biologi itu memberi penjelasan mengenai peralihan energi hasil asimilasi fitoplankton ke dalam tubuh ikan herbivora, ada beberapa hipotesis kerjanya yang tidak dapat saya pahami. Sewaktu kemudian guru itu bertanya pada akhir pelajaran apakah ada murid yang tidak memahami pelajarannya, saya mengacungkan tangan saya dan memohonkannya untuk menerangkan kembali mengapa hipotesis kerja itu yang dipakai. Menurut pendapat saya hipotesis kerja itu belum tentu masuk akal.

Beliau pun mencoba menjelaskan lagi mengapa hipotesis awal itu yang dipilih sebagai landasan berpikir selanjutnya. Tiga kali beliau mencoba menjelaskannya kepada saya dengan cara yang berbeda, akan tetapi tetap saja saya tidak dapat memahaminya. Akhirnya, dengan setengah putus asa beliau menyatakan tidak mempunyai cara lain lagi untuk menjelaskannya kepada saya. Tetapi beliau masih sempat menyatakan terima kasihnya kepada saya atas keterusterangan saya untuk mengatakan bahwa saya masih tetap saja belum memahami penjelasannya itu. Saya merasa telah banyak menyusahkan beliau dan untuk mengobati hati beliau saya mengucapkan terima kasih juga. Saya katakan juga bahwa hipotesis kerja itu akan saya terima saja bulat-bulat sebagai suatu aksioma yang tidak lagi dipermasalahkan lebih lanjut. Kalau beliau menanyakan hal itu di dalam ujian, akan saya jawab sesuai dengan apa yang beliau terangkan, akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa saya mengerti apa yang beliau terangkan. Akan tetapi, saya juga mengharapkan, bahwa pada suatu ketika kalau beliau me¬nemukan jalan lain untuk menerangkan hal itu sekali lagi kepada saya, beliau berkenan melakukan hal tersebut, walaupun pelajaran Limnologi itu sudah selesai diujikan.

Di luar perkiraan saya, beberapa tahun kemudian, ke¬tika saya sudah duduk di tingkat tiga Fakultas Pertanian di Bogor, datanglah suratnya kepada saya dari Nederland. Di dalamnya beliau berkata bahwa selama ini saya tidak memahami apa yang diterangkannya itu tidak lain karena hipotesis awal yang dipakai itu memang salah. Pertanyaan saya di dalam kelas dahulu itu membuatnya selalu bertanya-tanya. Untuk memuaskan diri, beliau sudah mengadakan penelitian mengenai hal itu dan hasil percobaan menunjukkan bahwa hipotesis kerja itu tidak dapat dipertahankan. Hasil penelitian sudah diterbitkan dan makalahnya beliau kirimkan dengan pos laut. Pada akhir suratnya, beliau sekali lagi mengucapkan terima kasih karena telah mendapatkan masalah untuk dijadikan bahan penelitian. Beliau juga me¬ngatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya mungkin maju kalau kita bebas mempertanyakan bagian-bagian ilmu itu yang sudah dianggap sebagai kebenaran umum.

Sering saya bertanya-tanya dalam diri saya apa jadinya nasib saya kalau saja beliau itu berperilaku sebagai guru yang marah kepada muridnya yang mempertanyakan kebenaran pelajaran yang diberikan gurunya di depan kelas. Mungkin sekali saya akan dicap sebagai seorang pembangkang yang ingin menguji kemampuan dan kedalaman pengetahuan gurunya. Untunglah guru saya seorang il¬muwan yang pandangannya sangat terbuka. Hal itu pula yang menyebabkan saya berpendapat bahwa untuk pendidikan sains di SMA seorang guru harus lebih banyak bobot perilaku ilmuwannya.

Bahwa seorang ilmuwan itu diharapkan sekali kejujuran akademisnya saya alami juga ketika menghadapi ujian akhir lisan mempertahankan disertasi yang telah saya tulis. Ketika itu promotor saya sudah hampir menutup sidang. Tiba-tiba salah seorang penguji kiriman Sekolah Pascasarjana menginginkan untuk bertanya kembali. Ia bertanya kepada saya apakah saya tahu ikan yang namanya Chanos chanos. Di dalam diri saya berpikir apa urusannya ahli satwa liar itu bertanya mengenai ikan bandeng di dalam suatu ujian diser¬tasi mengenai statistika genetik. Tetapi saya jawab juga bahwa yang dimaksudkan dengan Chanos chanos itu adalah ikan bandeng yang di dalam bahasa Inggris biasa juga disebut milk-fish yang arti harfiahnya ialah ikan susu. Baru kemudian saya sadari bahwa pertanyaan yang diajukan dalam bidang ilmu yang sama sekali di luar bidang ilmu calon doktor yang diuji itu juga bertugas untuk meningkatkan kemampuannya menemukan ilham yang dapat diterapkn dalam bidang ilmunya sendiri, seperti halnya Pilkington menemukan ilham bagaimana caranya membuat lempeng kaca yang tidak perlu diupam dari lapisan sabun yang mengambang di bak cucipiring di dapur istrinya.

Kemudian ia bertanya lagi bagaimana caranya petambak ikan di Jawa membiakkan ikan bandeng agar mendapatkan nenernya. Dengan segera saya sadar bahwa ia ingin menjebak saya. Saya katakan bahwa apabila kita mampu menyuruh ikan bandeng betina bertelur di tambak dan ikan bandeng jantan menebarkan nutfah jantan ke atas telur itu, serta kemudian kita mampu menjaga agar telur yang telah dibuahi itu dapat menetas di dalam tambak, maka kita sebenarnya telah membuat terobosan atau revolusi di dalam ilmu pemeliharaan ikan. Ia tertawa, karena hingga sekarang nener bandeng hanya kita peroleh dengan menjaringnya di sepanjang pantai utara Jawa Timur pada musim tertentu. Akhir-akhir ini memang mereka di Filipina telah berhasil membuahkan nener di dalam lingkungan perairan tertutup. Sewaktu promotor saya hampir menutup sidang untuk kedua kalinya ada lagi penguji lain yang ingin bertanya. Sekali ini yang bertanya ialah salah seorang pembimbing disertasi saya yang adalah seorang ahli genetika. Ia bertanya apakah saya dapat menerangkan apa yang dimaksudkan dengan istilah genetika tertentu. Saya katakan bahwa istilah itu dipakai sebagai judul suatu buku yang baru saja diterbitkan oleh seorang pakar genetika dari Universitas Kalifornia. Bukunya baru saja saya bolak-balik di rak buku tempat memajang buku-buku baru di perpustakaan. Akan tetapi saya belum sempat membacanya karena saya sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian disertasi ini. Kalau saja saya tahu hal itu akan ditanyakan di sini, pasti buku itu saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi garis besar makna istilah itu disimak dari arti harfiahnya dalam bahasa Latin ada sangkut-pautnya dengan kekenyalan suatu masyarakat makhluk hidup menghadapi tantangan lingkungan yang disebabkan keragaman susunan genetik anggota populasi makhluk hidup itu.

Ia mengangguk tanda setuju. Tetapi ia ingin menanyakan satu hal lagi. Pertanyaannya yang penghabisan mem¬buat saya terdiam karena ia menanyakan arti suatu istilah yang belum pernah saya dengar. Setelah barangkali terdiam selama beberapa menit saya menyerah kalah. Saya sangka saya akan kembali ke Indonesia dengan sia-sia. Paling untung saya akan disuruh kembali tiga bulan kemudian sedangkan masa beasiswa saya sudah hampir habis. Tetapi anehnya ia hanya tertawa saja dan kemudian mengatakan agar jangan resah kalau saya tidak dapat menjawab per¬tanyaannya itu. Kemudian saya balik bertanya apa sebenar¬nya arti istilah yang ditanyakannya itu. Ia tertawa lagi terbahak-bahak. "Saya juga tidak tahu", katanya. "Mengapa tuan tanyakan kepada saya?" tanya saya lagi. "Siapa tahu kamu tahu!" katanya.

Rupanya gurubesar saya itu ingin menguji apakah saya memiliki kejujuran akademik dan berani menyatakan ketidaktahuan saya kalau saya tidak tahu mengenai sesuatu. Sampai sekarang, kalau peristiwa yang terjadi seperempat abad yang lalu itu saya kenang kembali, timbul pertanyaan dalam diri saya, apakah gurubesar saya itu tahu sifat orang Timur yang malu mengaku bahwa ia tidak tahu.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa

Sering sekali orang menduga bahwa penemuan seorang ilmuwan timbul karena ilham yang diperoleh secara tiba-tiba. Karena itu timbul pendapat bahwa keberhasilan se-orang ilmuwan hanyalah sebagian dari keberuntungannya saja. Yang benar adalah bahwa memang ilmuwan memperoleh penemuan sering sekali karena mendapat ilham. Akan tetapi ilham itu tidak akan menjadi ilham kalau ia tidak memiliki daya nalar yang kuat. Misalnya saja Alastair Pilkington, kepala bagian teknik suatu pabrik kaca di Inggris mendapatkan ilham bagaimana membuat lempeng kaca tanpa harus mengupamnya dari pengamatannya tentang lapisan tipis sabun di permukaan air pencuci piring sewaktu istrinya sedang bekerja di dapur. Ia meniru gejala fisika itu dengan mencoba menuangkan bahan gelas cair ke atas permukaan timah yang cair. Baik batas permukaan sabun dengan air yang lebih berat dari sabun, maupun batas permukaan lem¬peng gelas cair dengan timah cair yang lebih berat dari gelas cair, di bawah pengaruh gravitasi bumi samasama merupakan bidang datar. Untuk dapat menjadikan peristiwa terapungnya lapisan sabun di atas air menjadi ilham, Pilkington harus mampu melihat adanya persamaan antara lapisan sabun yang mengambang di atas permukaan air de¬ngan lapisan gelas cair yang mengambang di atas timah cair.

Tidak selamanya suatu ilham dapat diterapkan dengan segera menjadi suatu pengetahuan yang berguna. Dari berbagai pengamatan, Raymond Damadian yang adalah seorang dokter ahli penyakit dalam berkesimpulan bahwa sel-sel sumber tumor di dalam tubuh manusia mengandung kadar air dan kadar mineral terutama kalium dan natrium, yang berbeda. Kalau selama ini penelusuran ada tidaknya tumor dilakukan dengan menggunakan sinar-X yang membahayakan penderita, ia memimpikan suatu alat yang dapat membedakan kedua jenis sel itu tanpa membahayakan penderita. Cita-citanya itu sudah dimilikinya sejak ia masih seorang anak laki-laki remaja, ketika ia melihat sendiri bagaimana bibinya yang sangat dicintainya harus mengalami penderitaan yang sangat berat sebelum meninggal karena mengidap penyakit kanker payudara.

Pada tahun 1971 Damadian menerbitkan suatu makalah di dalam majalah Science yang menyatakan bahwa prinsip resonansi inti magnetik (Nuclear Magnetic Resonance - NMR) dapat digunakan untuk membedakan sel jaringan yang sakit karena tumor dari sel jaringan yang sehat. NMR itu sendiri ditemukan oleh dua orang Fisikawan Edward M. Purcell dari Universitas Harvard dan Felix Bloch dari Universitas Stan¬ford. Untuk penemuan itu yang dipublikasikan pada tahun 1946 di majalah Physical Review, keduanya memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1952. Pendapat Damadian itu setengah ditertawakan orang karena untuk mendapatkan alat NMR yang dapat merekam perbedaan yang dikatakannya itu harus dapat diciptakan magnet raksasa, sedangkan magnet raksasa yang digunakan orang pada waktu itu untuk alat NMR yang hanya dapat dimasuki benda sebesar tabung reaksi terdiri atas magnet buatan yang bersifat superkonduktor. Untuk itu perlu pendinginan dengan helium cair yang sudah barang tentu sangat mahal. Selain itu teori yang digunakan oleh Damadian mengenai susunan sel yang sehat dan sakit berasal dari ahli Fisiologi Ling, yang diragukan kebenarannya oleh sebagian besar masyarakat ilmuwan dalam bidang itu.

Akan tetapi Damadian tidak putus asa. Hanya semangatnya yang membara saja yang membuat beberapa pihak percaya kepadanya dan berani meminjamkan modal untuk proyek penelitiannya itu. Akhirnya ia mampu mem¬buat magnet raksasa permanen yang tidak perlu harus diumpani helium cair dan listrik. Berkat kegigihannya meneliti itu akhirnya terciptalah alat NMR yang cukup besar, yang dengan bantuan komputer mampu membuat citra jaringan tubuh manusia yang dimasukkan seutuhnya ke dalam alat tersebut, pada layar pemantau yang berwarna. Tetapi dari awal usahanya sampai ia berhasil ia memerlukan 12 tahun dan menghadapi berbagai macam kecaman dan ejekan. Bahkan ia pernah berusaha menghubungi Presiden Jimmy Carter untuk memohonkan bantuan dana penelitian di kediaman pribadi Presiden itu di Plains, Georgia. Akan tetapi permohonan bertemu saja tidak diperolehnya.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan

Seorang guru besar matematika di Fakultas Pertanian Bogor pada pertengahan tahun-tahun lima puluhan tersesat di Bandung dengan dua orang guru besar lain. Ketiganya bangsa Belanda dan tidak dapat berbahasa Indonesia, apalagi berbahasa Sunda. Untuk menanyakan arah yang benar kepada orang di tepi jalan dengan demikian bukanlah peker¬jaan yang mudah. Karena itu setelah terdiam sebentar sang guru besar matematika itu bertanya kepada kedua orang rekannya, apakah mereka tahu bagaimana bentuk denah kota Bandung. Kalau bentuknya memanjang, ada gunanya untuk mencoba-coba sendiri menemukan jalan yang benar, sebab kalau setelah menempuh satu arah tempat yang dituju tidak ditemukan juga, pasti arah yang benar adalah arah kebalikannya. Lain halnya kalau bentuk Bandung bundar seperti lingkaran. Kalau diketahui kemudian bahwa arah yang ditempuh salah, masih banyak lagi arah-arah yang lain yang harus dicoba. Dalam hal seperti ini katanya lebih baik berusaha bertanya kepada orang di tepi jalan, walaupun harus dengan menggunakan bahasa Tarzan, Sang Raja Semua Kera. Cerita itu pada tahun-tahun lima puluhan menimbulkan gelak dan tawa baik di kalangan guru besar lainnya, apalagi di kalangan mahasiswa, akan tetapi sebenarnya sang guru besar matematika telah berusaha berpegang pada prinsip pengambilan keputusan secara kuantitatif dengan menggunakan apa yang disebut sebagai fungsi kerugian. Kalau peluang menempuh arah yang salah sama dengan setengah, seperti pada kasus kota yang bentuknya memanjang, lebih baik mengambil risiko berbuat salah dengan menempuh arah yang salah daripada berusaha menerangkan dengan bahasa Tarzan apa yang ingin diketahui dari orang di tepi jalan tentang arah tujuan yang benar. Kebalikannya, kalau kota Bandung berbentuk melingkar, peluang menemukan arah yang benar dengan cara coba-coba sangat kecil sehingga kerugian karena kemubaziran membuang waktu menjadi besar. Pada keadaan seperti itu lebih menguntungkan mencoba bertanya-tanya dengan bahasa Tarzan kepada orang yang sedang duduk-duduk di tepi jalan. Yang dianggap aneh oleh orang awam itu dengan demikian sebenarnya hanyalah ketaatazasannya menerapkan prinsip ilmiah yang dianutnya terhadap permasalahan yang dihadapinya sehari-hari.

Dengan demikian di dalam kamus perilaku seorang ilmuwan sejati tidak akan ada tindakannya yang akan dilakukannya bertentangan dengan pengetahuan yang telah dihayatinya. Apabila ada misalnya seorang ilmuwan yang pernah mempelajari fisika, ia tidak akan mengebut dengan kendaraannya di jalan lintas-cepat Jagorawi dengan kecepatan 140 km/jam membuntuti sebuah bus dua meter di belakang ekornya. Pengetahuannya tentang kinematika akan mengatakan kepadanya bahwa pada kecepatan seperti itu ia tidak mungkin mempunyai waktu yang cukup untuk melambatkan laju kendaraannya apabila bus di depannya tiba-tiba menghadapi suatu hambatan.

Banyak orang yang mengemudi mobil yang bagus dan baru selalu mengekor di belakang kendaraan lain dengan kecepatan setinggi itu di jalan lintas-cepat Jagorawi. Banyak pula di antara mereka itu yang menguasai fisika dengan baik, tetapi tidak menerapkannya sewaktu mengemudi. Orang awam tidak menganggap mereka aneh bahkan menilai mereka itu sebagai pemberani. Akan tetapi dari segi perilaku mereka tidak dapat digolongkan sebagai seorang ilmuwan sejati walaupun misalnya mereka itu bergelar sarjana dalam bidang pengetahuan alam.

Seorang dosen Fakultas Kedokteran Hewan Bogor yang sedang melaksanakan tugas-belajarnya di luar negeri ternyata tertulari penyakit Kusta. Penyakit itu mungkin sekali diidapnya sebagai hasil infeksi sewaktu ia di Bogor sebelum berangkat ke luar negeri, mengadakan penelitian tentang penyakit kusta itu pada hewan. Setelah ketahuan mengidap tahap-tahap awal penyakit kusta, ia mendapatkan perawatan khusus dalam ruang terisolasi di rumah sakit perguruan tingginya. Pada waktu itu juga ia mengambil keputusan untuk memilih sebagai judul penelitiannya suatu perma¬salahan tentang penyakit kusta. Pada suatu ketika dalam rangka memenuhi persyaratan seminarnya ia menyajikan pembahasan tentang penyakit kusta. Setelah seminar selesai, yang hadir baru sadar bahwa apa yang diceritakannya sebagai hasil penelitiannya tentang pengaruh langsung dan pengaruh sampingan obat penyakit kusta sebagian besar telah dilakukannya dengan menggunakan tubuhnya sebagai kelinci percobaan.

Cerita itu mirip apa yang telah dilakukan oleh Profesor Francis Weld Peabody dari Sekolah Kedokteran Harvard. Pada bulan November tahun 1926 ia memberi kuliah tentang "Perawatan Orang Sakit". Kuliah ini dicetakulang berkali-kali karena jelasnya cara menerangkannya tentang perawat¬an penderita penyakit kanker yang tidak mungkin ditolong dengan operasi. Tidak ada orang yang sadar pada ketika itu bahwa apa yang diceritakannya berdasarkan pengalamannya sendiri. Teman semasa kecilnya William James bercerita ten¬tang bulan-bulan terakhir kehidupannya, bahwa Peabody telah menulis laporan rumah sakitnya yang terakhir satu hari sebelum ia meninggal dunia.

Cerita lain lagi yang serupa terjadi dengan Gertrude Mary Cox, ahli statistika dan perancangan percobaan yang juga menjadi pendiri Departemen Statistika di Universitas Negara Bagian Karolina Utara, Raleigh dan Universitas Karolina Utara, Chapel Hill. Pada usia lewat 80 tahun ia diserang penyakit kanker darah leukemia dan dirawat di Rumah Sakit Universitas Duke di Durham, Karolina Utara. Ia menawarkan dirinya menjadi sukarelawan menyoba semua obat baru yang diperkirakan dapat menyembuhkan penderita leukemia. Semua obat yang dicobanya dan apa yang dirasakannya setelah meminum obat itu dicatatnya dengan teliti. Ia pun selaku ahli perancangan percobaan menasehati para dokter tentang rancangan pengobatan yang harus dilakukan agar hasilnya dapat disimpulkan secara sahih. Setiap kali dokter datang memeriksanya pada pagi hari, yang pertama dimintanya ialah catatan pribadi Gertrude Cox, karena catatannya selaku ahli perancangan percobaan jelas lebih rapi dan cermat dibandingkan dengan catatan dokter itu sendiri. Setelah ia meninggal, keesokan harinya dokter datang lagi untuk mengambil buku catatan Gertrude yang maksudnya akan disimpan di dalam arsip penelitian. Ketika dokter itu membaca halaman terakhir buku catatan yang ditulis oleh Gertrude itu ia terkejut bercampur haru. Kalimat terakhir yang ditulis Gertrude ialah: "Dan sekarang sayalah yang menjadi petak percobaan!" Sampai akhir hayatnya Gertrude Cox adalah seorang ilmuwan sejati.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: Pendahuluan

Penemuan pengetahuan baru adalah kegiatan yang dinamakan penelitian. Pengetahuan baru itu kemudian akan ditambahkan ke kumpulan pengetahuan yang sudah ditemukan sebelumnya yang telah ditata sehingga tampak saling-hubungannya. Kumpulan pengetahuan yang telah mengalami penataan seperti ini disebut ilmu pe-ngetahuan atau sains. Akibatnya, orang yang melakukan kegiatan mendapatkan pengetahuan baru itu disebut juga ilmuwan.

Sering sekali seorang ilmuwan digambarkan sebagai manusia pelupa yang kelakuannya aneh. Misalnya ada cerita tentang guru besar zoologi yang membawa sebungkus roti di kantung jas kirinya dan bungkusan katak bahan praktikum di kantong kanannya. Sebelum memasuki laboratorium untuk memulai praktikum pada siang hari sang guru besar makan roti untuk makan siangnya. Betapa terkejutnya ia sewaktu akan memulai praktikum, ketika yang dikeluarkannya dari saku ternyata bukan katak melainkan roti. Rupanya yang dimakannya untuk makan siang adalah katak bahan praktikum. Pasti cerita itu hanya lelucon saja, tetapi yang benar kejadian di Bogor dengan dosen zoologi yang senang merokok sewaktu memberi kuliah ialah bahwa pada suatu ketika kapur yang masuk ke dalam mulut dan ujung rokok yang membara dituliskan ke papan tulis. Hal itu membuat semua mahasiswa tertawa dan sejak saat itu sang guru besar tidak pernah lagi menyulut rokok di dalam ruang kuliah.

Ilmuwan boleh jadi sering berperilaku pelupa, tetapi ketika ia sedang menghadapi pekerjaan yang memerlukan perhatian penuh, ia pasti tidak pernah pelupa. Kalau saja ia pelupa, umurnya tidak akan panjang karena tentu akan ada ledakan di laboratoriumnya yang membuat nyawanya melayang. Bahwa perilakunya aneh sebenarnya tidak aneh untuknya sendiri tetapi mungkin dapat dianggap aneh oleh orang yang tidak mengerti. Karena itu sebelum kita berbincang-bincang mengenai perkembangan ilmu ada baiknya kita mengikuti terlebih dahulu ceritacerita tentang ilmuwan yang sekaligus dapat memberikan gambaran kepada kita tentang perilaku mereka yang tidak lepas baik dari kegiatan mereka sehari-hari maupun dari sifat mereka sebagai manusia.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)
Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Jun 2, 2012

Kisah Brigadir Royadin dan Sultan HB IX


TRIBUNNEWS.COM - Cerita ini bermula dari artikel blogger Kompasiana, Aryadi Noersaid, yang dipostingkan 25 Juni 2011. Judulnya "Sultan HB IX & Polisi Pekalongan, The Untold Story". Versi Aryadi, ceritanya bertutur keberanian Brigadir Royadin, seorang polisi di Pekalongan menilang Sri Sultan HB IX.

Rebuwes (SIM) disorongkan ke tangan Ngarso Dalem (sapaan hormat untuk raja-raja Yogya) yang tengah nyetir sendirian dan melanggar di jalan satu arah pada tahun 60an itu. Bukannya marah, Sri Sultan HB IX menerima rebuwes itu, dan melanjutkan perjalanan.

Hari berikutnya giliran Royadin didamprat komandannya. Tapi polisi teguh itu bersikukuh hanya menjalankan peraturan. Tak lama berselang, Sri Sultan HB IX berkirim surat, minta Royadin dipindahkan ke Yogya supaya dekat dengannya.

Royadin menolak, dan memilih tetap dekat bersama keluarganya di Batang. Cerita versi Aryadi itu segera mengundang simpati dan beragam komentar. Terlebih artikel itu kemudian menyebar luas melalui milis, tautan media sosial, dan muncul di berbagai laman.

Benarkah Royadin dan kisah itu ada? Tribun Jogja menelusuri jejak Royadin di Batang. Hasilnya, sosok itu memang benar-benar pernah ada. Kisah serupa juga ditemukan, tapi kali ini versi dua anak kandung almarhum Royadin.

Keluarga almarhum Royadin tinggal di Gang Sriti RT 06/RW 06 No 53, Legoksari, Proyonanggan Tengah, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Rumah sederhana itu berada tak jauh dari ruas jalan utama Kabupaten Batang, Jalan Gajahmada.

Semua warga Legoksari ternyata mengenal nama Royadin, mantan polisi yang meninggal pada 14 Februari 2007 lalu dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Rumah itu berada di tengah kampung yang hanya bisa dijangkau jalan kaki atau sepeda motor itu.

Tribun bertemu anak ketiga Royadin bernama Supardiyo (57), dan anak kelima almarhum Murni Janasih (51). Total anak almarhum ada enam; Raminten, Budiati, Supardiyo, Bambang Sugeng, Murni Janasih, dan Sri Siti Handayani.

"Iya cerita Mas Didik (panggilan Aryadi) memang benar. Saya juga pernah diceritain, tapi saat itu bapak tugasnya di Semarang, bukan di Pekalongan. Sekitar tahun 1960an, pas ramai-ramainya PKI, " kata Diyo, panggilan Supardiyo, saat berbincang di ruang tamu rumah ayahnya, Selasa (10/4) siang.

Ayah lima anak itu mengenang cerita ayahnya sembari tersenyum kecil. Diyo mendengar kisah itu suatu saat ketika ayahnya pulang ke Batang. Ibu dan saudara-saudaranya tinggal di Legoksari, sedangkan ayahnya di asrama polisi di Jalan Admodirono, Semarang. Setiap akhir pekan ayahnya menengok keluarga di Batang.

Bersama saudara-saudaranya, Diyo mendengar ayahnya yang humoris bercerita baru menangkap penggede (orang besar) yaitu Sri Sultan HB IX di Semarang. Kisahnya dimulai saat di Semarang ada upacara dengan banyak pejabat negara yang datang ke Semarang.

Pertengahan 1960-an itu, Royadin bertugas di pos lantas yang seingatnya kalau tidak di pertigaan depan Stasiun Poncol Semarang, di Simpang Lima, ataupun daerah Jalan MT Haryono. Tiba-tiba Royadin melihat ada mobil melanggar jalan searah.

Ia langsung mencegat. Ternyata pengemudinya orang yang sama sekali tidak asing. Royadin tersentak, tapi ia tetap memilih menilang orang besar itu. Sultan HB IX menurut Royadin tidak marah dan memberikan surat-surat kelengkapan yang diminta sesuai peraturan.

Di mata Diyo dan saudara-saudaranya, Royadin ayah yang sederhana. Hidupnya lurus tidak pernah berbuat macam-macam. Bahkan, saat masih susah dan hanya bisa makan nasi jagung pun ayahnya tetap bertanggungjawab.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia rela menggadaikan apapun. Bahkan saat itu untuk memenuhi kebutuhan rumah, ayahnya sempat menggadaikan sarung dan tidak jarang pakaian dinasnya di pegadaian.

Kenangan akan ayahnya pun membekas di hati Murni Janasih (51). Baginya ayahnya sosok yang bersahaja. Tidak terlalu keras ataupun lembut. Ia tidak pernah melihat ayahnya berkeluh kesah dan bertindak macam-macam.

Data yang dihimpun Tribun, Royadin lahir di Batang, 1 Desember 1926. Ia bertugas sebagai polisi selama 21 tahun 1 bulan. Pernah bertugas di Boyolali, lalu pindah ke Semarang dan pulang kembali ke Batang sebagai Kapolsek Warungasem, Batang hingga pensiun.

Pada 14 Februari 2007, dalam usia ke 81 tahun Royadin berpulang di rumah yang dibangunnya dengan hasil keringatnya sendiri. Ia dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya di Kepuh, Priyonanggan Tengah, Batang.

Tidak ada yang istimewa dengan makamnya. Hanya ada tulisan Royadin bin Slamet yang berdampingan makam istrinya yang meninggal dua tahun setelahnya. Anak-anaknya kini tersebar di Batang, Semarang, dan Purworejo. (www.tribunjogja.com)

Sumber: tribunnews.com

May 27, 2012

Menyembunyikan Facebook Timeline dan Mengembalikan Facebook Klasik


UHANGKAYO - Facebook Timeline merubah tampilan profil menjadi lebih hidup dan lebih bergaya, namun kehadiran Facebook Timeline tidak disambut baik oleh semua para Facebookers. Beberapa orang masih menyukai the old fashion Facebook, sementara Facebook sendiri 'memaksa' Facebookers untuk menggunakan versi Timeline.

Bagi Facebookers yang masih ingin bertahan dengan Facebook klasik, sebuah software (ekstensi browser) kecil yang bernama TimelineRemove dapat menyembunyikan Timeline dan mengembalikan pada versi Facebook klasik. Ekstensi ini tidak menampilkan Facebook klasik secara permanen, namun hanya menyembunyikan Timeline pada browser yang terinstal ekstensi ini. Jika anda membuka profil Facebook anda pada komputer lain, Timeline akan tetap muncul kecuali komputer tersebut terinstal ekstensi TimelineRemove ini.

Karena tidak permanen, dengan men-disable ekstensi TimelineRemove, profil Facebook anda akan kembali pada versi Facebook Timeline.

Instal ekstensi TimelineRemove yang sesuai dengan browser Anda:
  • Instal TimelineRemove untuk Mozilla Firefox disini.
  • Instal TimelineRemove untuk Google Chrome disini.
  • Instal TimelineRemove untuk Safari disini.
  • instal TimelineRemove untuk Internet Explorer disini.
Beberapa browser lawas tidak support TimelineRemove, upgrade browser anda pada link berikut:

May 13, 2012

Pendugaan Nilai Ekonomi Jasa Lingkungan Kawasan Hutan Konservasi di Wilayah Administrasi Lembah Kerinci


UHANGKAYO - Kompensasi jasa lingkungan yang diberikan oleh kawasan hutan telah menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Hal ini sepertinya juga sedang hangat-hangatnya dibicarakan di Lembah Kerinci dengan 51% wilayahnya merupakan hutan konservasi yang berada dalam pengelolaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Keberadaan hutan konservasi ini seringkali dianggap sebagai penghambat pembangunan bagi dua administrasi di lembah Kerinci. Kalau melihat dari sejarah perkembangan kawasan binaan (kota), selalu dimulai dari suatu kawasan kosong yang mampu mendukung kehidupan jangka panjang bagi suatu masyarakat, dan hutan menjadi pilihan bagi nenek moyang suku Kerinci. Adanya hutan adat maupun hutan larangan merupakan suatu bentuk pengakuan dari para pendahulu pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakatnya.

Besarnya tekanan dunia pada masyarakat sekitar hutan untuk menjaga hutan agar tetap lestari, bukanlah hal yang adil apabila masyarakat di belahan dunia lain dengan bebas mengeluarkan berbagai gas berbahaya bagi lingkungan melalui berbagai aktivitas industri mereka. Terlebih terdapat kesenjangan ekonomi yang besar antara masyarakat industri dengan masyarakat sekitar hutan.

Hal ini menjadi dasar lahirnya Protokol Kyoto tahun 1997, walaupun sebenarnya pada pertemuan-pertemuan tentang pemanasan global sebelumnya telah dibicarakan. Inti dari Protokol Kyoto merupakan usaha untuk menurunkan tingkat Gas Rumah Kaca sehingga berada pada level yang aman bagi kehidupan. Ada tiga mekanisme utama, yaitu: 1) Joy Implementation, 2) Clean Development Mecanism, 3) Emission Trading.

Emission trading menjadi pembicaraan yang hangat bagi negara-negara berkembang yang memiliki hutan alam yang luas untuk meminta imbal jasa dari hutan mereka. GRK sendiri bersifat global, sehingga jika suatu negara menemisikan GRK, negara lain juga dapat merasakan dampaknya. Negara-negara berkembang yang notabene belum ‘terkontaminasi’ oleh kegiatan industri memiliki hutan yang luas yang mampu 'melenyapkan’ keberadaan GRK di udara. Inilah menjadi dasar tuntutan masyarakat sekitar hutan (negara) untuk meminta imbal jasa dari keberadaan hutan mereka pada negara industri maju.

Namun, jasa lingkungan yang diberikan oleh kawasan hutan yang berada dibawah pengelolaan negara memiliki sistem birokrasi yang berbelit, sehingga seringkali tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Hal ini sangat berbeda dengan kawasan hutan yang berada dibawah pengelolaan adat, beberapa hutan adat telah berhasil diperjuangkan untuk mendapatkan kompensasi bagi masyarakat sekitarnya, seperti masyarakat Nagari Paninggahan.

Berapa Sih Nilai Ekonomi Jasa Lingkungan Hutan Konservasi di Lembah Kerinci?

Sementara, menunggu keberhasilan perjuangan para elit yang berada diatas untuk mendapatkan kompensasi dari jasa lingkungan yang diberikan oleh semua hutan konservasi di Indonesia. Ada baiknya kita menghitung kecil-kecilan berapa harga hutan konservasi di Lembah Kerinci (administrasi kabupaten maupun kota).

Untuk menghitung manfaat secara ekonomi dari suatu sistem alam bukanlah hal yang mudah, atau hampir tidak mungkin karena banyak aspek yang saling memiliki keterkaitan yang erat, mulai dari jasad renik yang ada di dalam tanah, air, hingga lingkungan diudara. Hal ini tentu saja berbeda dengan menilai hasil atau produk barang industri, yang dapat dihitung mulai dari modal bahan baku, upah pekerja, lamanya proses pembuatan, kemudian menjadi suatu produk akhir. Saking kompleksnya suatu sistem alam, penilaian manfaat ekonomi sistem alam seringkali dilakukan melalui pendekatan substitusi pada satu faktor (seperti pendekatan substitusi dengan biaya kesehatan pernafasan), serta mengabaikan faktor lainnya.

Saya mencoba menggunakan pendekatan spasial, melalui perangkat lunak CITYgreen (trial version) yang dikembangkan oleh American Forest. Di Indonesia, perangkat lunak (registered) ini telah digunakan oleh beberapa mahasiswa (tingkat sarjana maupun pascasarjana) untuk menyelesaikan tugas akhir mereka.

Nilai ekonomi yang didapat dari analisis CITYgreen pada suatu ruang hijau diharapkan dapat menjadi salah satu faktor penentu dalam perencanaan wilayah, bahwa ruang hijau memiliki nilai yang tidak kalah penting dibandingkan peruntukkan lahan untuk sektor pertanian, perdagangan, maupun bisnis. Lahan yang dipenuhi oleh pepohonan (hutan kota maupun hutan alam) bahkan menjadi faktor yang paling penting bagi suatu wilayah karena menjadi penentu bagi keberlanjutan wilayah tersebut.

Peta yang saya gunakan berasal dari Peta Administratif Wilayah Kabupaten Kerinci yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Peta ini berbentuk file dengan ekstensi jpg dan berukuran A0. Agar dapat digunakan dalam analisis, terlebih dahulu saya melakukan georeference. Luas digitasi Lembah Kerinci yang saya dapatkan dari peta hasil georeference ini hanya 3.742 km2, sedangkan luas hutan konservasi di wilayah administrasi Lembah Kerinci sebesar 2.289 km2. Nilai ini berbeda dengan luas resmi yang dikeluarkan oleh Kabupaten Kerinci (tahun 2006) sebesar 4.200 km2, dengan 51% atau 2.150 km2 merupakan lahan konservasi. Hanya ada dua kemungkinan untuk penjelasan diatas, 1) hasil georeference saya yang salah, atau 2) Lembah Kerinci perlu melakukan survey ulang terhadap wilayah administrasi mereka.

Namun, sekedar untuk melihat gambaran nilai ekonomi kawasan hutan konservasi, saya lakukan resize luas polygon administrasi Lembah Kerinci maupun hutan konservasi agar sesuai dengan informasi resmi. Analsisis dengan CG inipun hanya pada aspek Carbon Storage and Sequestration (Simpanan dan Rosot Karbon) serta Air Pollution Removal (Kualitas Udara), dan walaupun analisis CG melalui pendekatan spasial, namun resize polygon dari wilayah analisis untuk dua analisis ini tidak memberikan perbedaan hasil analisis yang signifikan.


Hasil analisis dari CG menunjukkan bahwa simpanan karbon melebihi 28,6 juta ton, dengan rosot mencapai 81.300 ton/tahun. Nilai ini bisa dikonversi kedalam Rupiah apabila telah ditetapkan harga karbon untuk hutan Indonesia. Sedangkan potensi hutan konservasi ini  membersihkan udara dari O3 mencapai 16,7 juta pon per tahun, atau setara dengan 51,3 juta dollar. Berikut adalah rekapitulasi hasil analisis dengan CG.


Tabel diatas merupakan nilai ekonomi yang mampu diberikan oleh hutan konservasi hanya dari simpanan karbon dan kemampuan hutan untuk membersihkan udara dari berbagai kontaminan. Nilai ekonomi yang diberikan dari simpanan karbon masih menunggu keputusan harga perdagangan karbon internasional untuk hutan Indonesia. Satu bentuk perdagangan karbon yang sukses adalah pada masyarakat Nagari Paninggahan yang memiliki 28 ha lahan kritis, dengan harga imbal jasa sebesar 280 juta untuk 10 tahun. Sebagai catatan, kerjasama ini terjadi pada lahan dibawah pengelolaan hutan adat, bukan dibawah pengelolaan pemerintah. Jika berkaca pada kesuksesan diatas dengan mengesampingkan tonase simpanan karbon, maka 2.150 km2 atau 215.000 ha luas hutan konservasi di administrasi Lembah Kerinci berharga 215 M per tahun. Nilai ini belum lagi dijumlahkan dengan Air Pollution Removal yang mencapai 1 T. Wow… jumlah yang menggiurkan, sangat menggiiiuuuurkan ...

Perhitungan nilai ekonomi dengan CG hanya pada Carbon Storage dan Air Pollution Removal saja, belum pada aspek pencegahan longsor, penghematan listrik, produksi O2, dan sebagainya. Berapa angka (nilai ekonomi) yang akan keluar jika dilakukan analisis secara teliti dan mencakup aspek jasa lingkungan lainnya? Bisa jadi nilainya lebih besar, atau bisa juga lebih kecil?

Nilai ekonomi dari jasa lingkungan ini juga dapat dibandingkan dengan nilai ekonomi yang akan diperoleh apabila lahan konservasi tersebut dikonversi menjadi lahan pertanian, perkebunan, atau sebagai kawasan perdagangan. Nilai ekonomi manakah yang lebih besar? Ini bisa menjadi sebuah ide untuk tugas akhir mahasiswa.

Apa anda berminat untuk mencari tahu?

Sambil menunggu keberhasilan perjuangan para elit diatas, sekarang yang penting adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mengembangkan kreativitas dalam mengelola administrasi Lembah Kerinci (termasuk kawasan konservasi) yang bergelar "Piece of Heaven Land".

May 7, 2012

the Wisdom of Einstein


"Any intelligent fool can make things bigger, more complex, and more violent. It takes a touch of genius -- and a lot of courage -- to move in the opposite direction."

"Imagination is more important than knowledge."

"Gravitation is not responsible for people falling in love."

"I want to know God's thoughts; the rest are details."

"The hardest thing in the world to understand is the income tax."

"Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one."

"The only real valuable thing is intuition."

"A person starts to live when he can live outside himself."

"I am convinced that He (God) does not play dice."

"God is subtle but he is not malicious."

"Weakness of attitude becomes weakness of character."

"I never think of the future. It comes soon enough."

"The eternal mystery of the world is its comprehensibility."

"Sometimes one pays most for the things one gets for nothing."

"Science without religion is lame. Religion without science is blind."

"Anyone who has never made a mistake has never tried anything new."

"Great spirits have often encountered violent opposition from weak minds."

"Everything should be made as simple as possible, but not simpler."

"Common sense is the collection of prejudices acquired by age eighteen."

"Science is a wonderful thing if one does not have to earn one's living at it."

"The secret to creativity is knowing how to hide your sources."

"The only thing that interferes with my learning is my education."

"God does not care about our mathematical difficulties. He integrates empirically."

"The whole of science is nothing more than a refinement of everyday thinking."

"Technological progress is like an axe in the hands of a pathological criminal."

"Peace cannot be kept by force. It can only be achieved by understanding."

"The most incomprehensible thing about the world is that it is comprehensible."

"We can't solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them."

"Education is what remains after one has forgotten everything he learned in school."

"The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing."

"Do not worry about your difficulties in Mathematics. I can assure you mine are still greater."

"Equations are more important to me, because politics is for the present, but an equation is something for eternity."

"If A is a success in life, then A equals x plus y plus z. Work is x; y is play; and z is keeping your mouth shut."

"Two things are infinite: the universe and human stupidity; and I'm not sure about the the universe."

"As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain, as far as they are certain, they do not refer to reality."

"Whoever undertakes to set himself up as a judge of Truth and Knowledge is shipwrecked by the laughter of the gods."

"I know not with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones."

"In order to form an immaculate member of a flock of sheep one must, above all, be a sheep."

"The fear of death is the most unjustified of all fears, for there's no risk of accident for someone who's dead."

"Too many of us look upon Americans as dollar chasers. This is a cruel libel, even if it is reiterated thoughtlessly by the Americans themselves."

"Heroism on command, senseless violence, and all the loathsome nonsense that goes by the name of patriotism -- how passionately I hate them!"

"No, this trick won't work...How on earth are you ever going to explain in terms of chemistry and physics so important a biological phenomenon as first love?"

"My religion consists of a humble admiration of the illimitable superior spirit who reveals himself in the slight details we are able to perceive with our frail and feeble mind."

"Yes, we have to divide up our time like that, between our politics and our equations. But to me our equations are far more important, for politics are only a matter of present concern. A mathematical equation stands forever."

"The release of atom power has changed everything except our way of thinking...the solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker."

"Great spirits have always found violent opposition from mediocrities. The latter cannot understand it when a man does not thoughtlessly submit to hereditary prejudices but honestly and courageously uses his intelligence."

"The most beautiful thing we can experience is the mysterious. It is the source of all true art and all science. He to whom this emotion is a stranger, who can no longer pause to wonder and stand rapt in awe, is as good as dead: his eyes are closed."

"A man's ethical behavior should be based effectually on sympathy, education, and social ties; no religious basis is necessary. Man would indeeded be in a poor way if he had to be restrained by fear of punishment and hope of reward after death."

"The further the spiritual evolution of mankind advances, the more certain it seems to me that the path to genuine religiosity does not lie through the fear of life, and the fear of death, and blind faith, but through striving after rational knowledge."

"Now he has departed from this strange world a little ahead of me. That means nothing. People like us, who believe in physics, know that the distinction between past, present, and future is only a stubbornly persistent illusion."

"You see, wire telegraph is a kind of a very, very long cat. You pull his tail in New York and his head is meowing in Los Angeles. Do you understand this? And radio operates exactly the same way: you send signals here, they receive them there. The only difference is that there is no cat."

"One had to cram all this stuff into one's mind for the examinations, whether one liked it or not. This coercion had such a deterring effect on me that, after I had passed the final examination, I found the consideration of any scientific problems distasteful to me for an entire year."

"...one of the strongest motives that lead men to art and science is escape from everyday life with its painful crudity and hopeless dreariness, from the fetters of one's own ever-shifting desires. A finely tempered nature longs to escape from the personal life into the world of objective perception and thought."

"He who joyfully marches to music rank and file, has already earned my contempt. He has been given a large brain by mistake, since for him the spinal cord would surely suffice. This disgrace to civilization should be done away with at once. Heroism at command, how violently I hate all this, how despicable and ignoble war is; I would rather be torn to shreds than be a part of so base an action. It is my conviction that killing under the cloak of war is nothing but an act of murder."

"A human being is a part of a whole, called by us _universe_, a part limited in time and space. He experiences himself, his thoughts and feelings as something separated from the rest... a kind of optical delusion of his consciousness. This delusion is a kind of prison for us, restricting us to our personal desires and to affection for a few persons nearest to us. Our task must be to free ourselves from this prison by widening our circle of compassion to embrace all living creatures and the whole of nature in its beauty."

"Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts." (Sign hanging in Einstein's office at Princeton)

    Copyright: Kevin Harris 1995
    Source: stanford.edu