Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Nov 19, 2012

Peta Jalan dan Distribusi Desa di Lembah Kerinci Tahun 2003 (©LembahKerinci)

Jalan merupakan salah-satu unsur vital dalam pembangunan. Walaupun kondisi jalan menuju dan di dalam Lembah Kerinci terkenal buruk, namun bagaimanapun dibutuhkan sebuah peta untuk menunjukkan jalan-jalan di Lembah Kerinci. Berikut adalah Peta Jalan Lembah Kerinci, beserta dengan beberapa desa dan wilayah konservasi yang berada di administrasi Lembah Kerinci.

Data yang digunakan merupakan data tahun 2003, namun hingga saat ini (sepertinya) belum ada penambahan ruas jalan baru (kalau ada, mohon pembaca untuk memberi info ya… :)).

Jika Anda jeli, mungkin Anda akan menemukan beberapa 'kejanggalan' dalam peta ini, seperti 2 jalur sungai yang mengalir berdekatan. Dua sungai yang terlihat ini merupakan satu sungai besar, jadi dilapangan anda tidak akan menemukan adanya daratan di antara dua sungai yang berdekatan ini. Di pinggir Danau Kerinci juga anda akan menemukan sungai yang terbentuk mengikuti Danau Kerinci, serta jalan yang seolah berada di atas Danau Kerinci. Dilapangan tidak ada sungai yang mengalir mengelilingi serta tidak ada jalan yang berada di atas Danau Kerinci.

Sekarang tahun 2012, sudah cukup banyak desa yang memekarkan diri sehingga Anda tidak akan menemukan nama-nama desa yang baru terbentuk setalah tahun 2003.

Kesalahan ini merupakan file-file (asli dari sumbernya) yang tidak klop saat di overlay serta belum terupdatenya nama dan spasial desa-desa yang baru terbentuk. Saya sendiri belum sempat untuk memperbaiki (hehe,,,maap ya..). Namun, secara keseluruhan Peta Jalan Lembah Kerinci ini dirasa cukup menjadi sebuah panduan untuk melihat gambaran jalur jalan dan distribusi desa.

Peta Jalan dan Distribusi Desa di Lembah Kerinci Tahun 2003 (©LembahKerinci).


Dapatkan dengan mengklik tombol di bawah ini


Password: uhangkayo.webs.com
©LembahKerinci

Nov 4, 2012

Peta Jalan Kota Padang (©LembahKerinci)

Berada di daerah yang baru, tentunya cukup memusingkan bagi siapapun juga. Meskipun terbilang dekat dari kampung kelahiranku, namun aku tetap tidak familiar dengan kota ini. Namun, teknologi Google Map (Mobile) membantu dalam menemukan lokasi spesifik jika anda selalu terhubung dengan internet. Ini tentu membutuhkan biaya ekstra untuk.

Berikut adalah peta Kota Padang hasil mozaik dari Google Map berukuran 12.020 px X 12.030 px, yang dapat dimiliki dan disimpan dalam komputer maupun untuk dicetak.

Peta Jalan Kota Padang 12.020 x 12.030 (klik disini untuk mendapatkannya) (©LembahKerinci).

Peta Jalan Kota Padang ini juga telah aku convert ke file .map (dengan koordinat geografis) agar dapat dibuka di hape melalui software OziExplorer*) dari perangkat mobile GPS anda.

Peta Jalan Kota Padang dari Mobile GPS dengan OziExplorer.

Download Peta Jalan Kota Padang:
  1. ukuran 12.020 x 10.030 (file png).
  2. mobile version **)

  3. *) OziExplorer adalah perangkat lunak GPS yang dapat dijalankan pada hadware dengan GPS receiver seperti Magellan, Garmin, Lowrance, Eagle, Brunton/Silva and MLR. Lebih detil tentang OziExplorer klik disini.
    **) ekstrak file ke direktori OziExplorer di gadget/hape Anda, biasanya ".../OziExplorer 2/Maps"

Baca juga: pengalaman ditilang di Padang

Oct 26, 2012

Trik Para Penjual Kamera (DSLR) di M2M


Memiliki DSLR merupakan impian bagi hampir semua penggila foto, untuk membekukan waktu, menangkap sisi indah yang tercipta, kemudian menyimpan keabadiannya pada dalam suatu 'wadah'.

Dengan segala fitur dan kelebihan yang dimiliki oleh DSLR, menyebabkan kamera jenis ini terbilang mahal dibandingkan kamera pocket, harga terendah di pasaran sekitar 4j hingga mencapai puluhan juta untuk kelas profesional. Anggapan bahwa harga menentukkan kualitas barangkali berlaku untuk gadget ini. Tapi di toko-toko, harga satu tipe DSLR yang mahal belum tentu lebih bagus daripada DSLR tipe lain. Saat transaksi inilah dituntut kejelian Anda sebagai pembeli, karena jika tidak, bisa jadi Anda membeli DSLR dengan harga yang jauh lebih mahal. Namun, jika ada seorang expert atau setidaknya sudah cukup lama bersinggungan dengan DSLR, tentu Anda akan menjatuhkan pilihan pada kemera yang lebih baik (bukan yang lebih mahal).

Sekitar dua minggu lalu saya belanja DSLR. Setelah membandingkan dengan tipe-tipe lain pilihan jatuh pada Canon EOS 600D, dengan harga yang bisa dikatakan sudah cukup stabil, selain itu sisa dana bisa digunakan untuk berinvestasi pada lensa. Dari beberapa toko yang saya singgahi, saya perhatikan pola (baca: trik) menjual yang sama. Pada awalnya tawar-menawar berlangsung untuk tipe yang saya minta, namun berakhir pada penawaran tipe lain dari penjual, yaitu Canon Rebel T3 dan Kiss X. Mereka meyakinkan tipe ini lebih unggul (fitur maupun kualitas) dibandingkan dengan EOS 600D, hal ini diperkuat dengan harga juga lebih mahal. Padahal kedua tipe tersebut dibawah tipe EOS 600D, harga yang sesungguhnya pun lebih murah.

Tulisan berikut merupakan hasil penalaran dari pengamatan/pengalaman langsung berinteraksi dengan para penjual. Semoga bisa menjadi pedoman bagi teman-teman (amatir) dalam bertransaksi.

Apakah Anda 'Anak Kemarin Sore'?

Saat belanja, informasi pengetahuan Anda tentang DLSR akan di gali. Pertanyaan-pertanyaan sederhana (seperti: "sebelumnya pakai jenis kamera apa?", "teman-temannya pakai kamera apa?", "untuk dipakai sendiri atau untuk yang lain?") akan menjadi penetu untuk menjustifikasi apakah Anda seorang profesional atau amatir. Saat Anda di 'cap' sebagai 'anak kemarin sore', akan sangat mudah bagi Anda untuk menerima bahwa satu tipe (atau merk) lebih bagus dari tipe lain.

Walaupun Anda telah menentukan pilihan pada satu tipe DSLR (misalkan DSLR A), Anda tetap akan digoyahkan dengan tipe lain (DSLR B). DSLR B yang ditawarkan ini merupakan tipe yang lebih rendah dari DSLR A yang anda inginkan, namun di tawarkan dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasaran. Beberapa pembuktian akan disajikan kepada Anda untuk membuat anda percaya bahwa DSLR B lebih baik daripada DSLR A. Anda diijinkan untuk mengambil foto dari masing-masing tipe dan membandingkan kualitas hasilnya.

Sebagai contoh, anda akan diminta untuk memfoto orang yang sedang berjalan di luar toko. Dari hasil foto tersebut anda akan diperlihatkan bahwa hasil foto dari DSLR A terlihat blur dibandingkan dengan DSLR B yang mereka tawarkan. Pada dua toko kamera, saya mendapati teknik menjual yang sama dalam cara meyakinkan bahwa DSLR B lebih bagus. Satu toko juga menunjukkan bahwa kualitas foto (yang terlihat pada LCD) dari DSLR B lebih bagus. Untuk lebih meyakinkan Anda, harga yang ditawarkan juga lebih tinggi dari DSLR A, namun tidak terlalu jauh melebih budget Anda, dengan selisih lebih tinggi ± Rp.500K,- Anda mendapatkan kamera yang lebih baik (yaitu DSLR B) versi penjual. Sepertinya hukum "harga tidak pernah bohong" menjadi salah satu 'senjata' untuk meyakinkan Anda. Selain kualitas foto dan harga, faktor pabrikan akan menjadi 'alat' berikutnya untuk meyakinkan Anda bahwa DSLR B lebih bagus karena produksi luar negeri.

Senjata Makan Tuan

Sepintas dari 3 aspek bujuk rayu mereka jelaskan sempat membuat saya terlena (eciee..). Namun, ada beberapa poin yang kalau dicermati ternyata kita sebagai pembeli adalah TO (target operasi), atau dengan bahasa yang menyakitkan "kita adalah orang bodoh" yang siap diterkam atau siap diombang ambing oleh gelombang laut (hadeuh..pujangga nian). Walaupun amatir, namun terdapat beberapa keganjalan dalam tawar-menawar, yang pada dasarnya secara tidak sadar penjual telah menunjukkan bahwa mereka menjual barang jauh lebih mahal dari harga standar untuk tipe yang lebih rendah.

Hasil foto yang blur;
Pada beberapa kali jepretan, tipe kamera yang mereka tawarkan juga menampilkan objek yang blur. Namun, setelah melalui beberapa setingan oleh mereka, hasil foto kembali menampilkan kemampuanya mem'beku'kan objek yang bergerak (pejalan kaki). Ini sudah menjadi nilai minus bagi penjual, dengan logika sederhana, jika DSLR yang ditawarkan bisa menciptakan foto blur namun juga bisa membekukan objek yang bergerak, bukan berarti DSLR yang anda inginkan juga bisa melakukan hal yang sama.

Hal lain yang membedakan DSLR dengan Kamera Pocket (yang biasa saya gunakan) adalah kemampuannya dalam mengatur shutter speed. Secara sederhana Shutter Speed adalah  waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Pengaturan pada shutter speed inilah yang menentukan blur tidaknya objek yang bergerak.

Hasil (Warna) Foto pada LCD
Saya hanya menjumpai ini pada satu toko saja, yang saya yakini ini adalah DSLR bekas atau memang sudah tidak mampu berkerja sebagaimana mestinya. Karena pada toko lain, dengan tipe kamera yang sama hasil fotonya terlihat 'natural'.

Kualitas Produk Luar Negeri
Dengan alasan produk luar negeri lebih bagus memang sulit untuk disangkal (setidaknya bagi diri saya sendiri), namun karena garansi yang diberikan bukan dari service center resmi menimbulkan keraguan. Pertama, barang BM, atau bisa jadi rekondisi/bekas pakai. Kedua, jaminan garansi tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Harga
Harga awal dari tipe yang mereka tawarkan (DSLR B) lebih tinggi daripada harga DSLR A. Namun, jika Anda bertahan pada DSLR A yang Anda inginkan dari awal, perlahan harga DLSR B yang mereka tawarkan akan terus menurun hingga mereka menjual dengan harga DSLR A. Bagaimanapun juga, harga DSLR B yang mereka tawarkan itu harganya jauh lebih rendah dari DSLR A, dengan begitu mereka akan buntung besar jika anda memilih DSLR B.

Merk (Tipe) Dagang
Untuk merk dagang Canon, kamera DSLR dengan tipe yang sama dapat memiliki merk/tipe dagang yang berbeda, contoh untuk Canon EOS 600D memiliki spesifikasi yang sama dengan Canon Rebel T3i atau Canon Kiss X5. Tidak begitu jelas apakah terdapat perbedaan (kualitas atau bahan) yang signifikan antara merk/tipe dagang tersebut. Namun, perbedaan ini menunjukkan wilayah jual, merk dagang EOS 600D dipasarkan di Indonesia, sedangkan EOS Kiss X5 dipasarkan di Jepang, dan EOS Rebel T3i di pasarkan di Amerika. Ini tentu akan berpengaruh pada garansi, sepengetahuan saya Garansi resmi untuk Canon Indonesia dipegang oleh Datascript. Browsinglah untuk mengetahui spesifikasi tipe yang mereka tawarkan, meskipun didepan penjual. Sedangkan untuk merk Nikon, saya belum sempat eksplorasi di mbah Google.

Canon EOS Rebel T3i, EOS Kiss X5, dan EOS 600D; Beda Nama, Satu Spesifikasi.


Penting:
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi pada beberapa toko kamera di M2M Jakarta, hanya beberapa toko saja dan bukan justifikasi pada semua toko. Jika Anda ragu belanja di toko mana, silakan browsing untuk menemukan toko-toko yang trustable. 

Oct 6, 2012

Download Peta Wisata Lembah Kerinci

Download Peta Wisata Alam Lembah Kerinci (Part 1)

Download ukuran A2 (420 X 594 cm) klik disini.

Ada banyak titik yang tidak (belum) dimasukkan dalam peta ini, mohon partisipasi masyarakat Lembah Kerinci untuk memberikan informasi terkait dengan potensi objek wisata di masing-masing desa, baik itu berupa pemandangan alam, sejarah, seni-budaya.

Silakan buka laman http://goo.gl/J8RZF, dan klik sesuai dengan Kecamatan. Mohon informasi potensi objek wisata ini dapat ditulis di kolom komentar pada masing-masing Kecamatan. Terimakasih.



Lihat juga:
Gerakan Peduli Wisata Lembah Kerinci Produk #2: Selayang Pandang Wisata Lembah Kerinci (Buku Saku), disini.

Aug 17, 2012

Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan

Dari pembahasan pengalaman hidup ilmuwan seperti telah tersurat di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan baru sebagai sasaran perburuan seorang ilmuwan diperoleh sebagai hasil petualangan para ilmuwan mengkhayal di alam nalar. Pengetahuan baru itu hanya dapat diciptakan oleh para ilmuwan apabila mereka mempunyai daya-khayal dan daya-cipta yang asli, diupam oleh pengamatan-pengamatan yang kebenarannya selalu diuji berulang-ulang. Selain itu lingkungan sosial ilmuwan itu juga harus dapat menenggang dan menerima ilmuwan itu sebagai orang yang harus dapat berpikir dan bernalar tanpa kendala, apabila memang diharapkan dari ilmuwan itu bahwa ia akan menghasilkan pengetahuan baru yang benar secara ilmiah.

Ada kalanya pengetahuan baru itu kemudian ditambahknn ke kumpulan pengetahuan lain yang sudah lebih dahulu ditemukan, akan tetapi ada kalanya pula pengetahuan baru itu menyebabkan ada beberapa butir pengetahuan lama yang akhirnya dinyatakan tidak benar. Kumpulan pengetahuan yang butir pengetahuannya selalui diperbaharui itu oleh para ilmuwan digolong-golongkan dan ditata sehingga menghasilkan pernyataan-pernyataan yang berlaku secara umum. Kumpulan pengetahuan yang telah ditata dengan aturan tertentu ini disebut sains atau ilmu pengetahuan. Karena butir pengetahuan yang menyusun khazanah ilmu pengetahuan ini seperti telah dikatakan sebelumnya selalu berubah-ubah dari masa ke masa, maka sebagai akibatnya ilmu pengetahuan selalu mengalami perubahan dan perkembangan dari masa ke masa.

Tujuan kita dalam mempelajari Perkembangan Ilmu Pengetahuan ialah untuk meniti sejarah. Dengan melihat ke belakang kita telusuri berbagai peradaban manusia di dunia ini yang datang silih berganti membawa berbagai penemuan baru yang akhirnya berkembang menjadi sains dan teknologi yang kita kenal sekarang. Setelah melihat ke belakang, mudah-mudahan kita dapat memandang jauh ke muka de¬ngan menggunakan pengalaman masa lalu sebagai tuntunan agar dapat mempunyai pandangan terbuka menghadapi tuntutan perubahan zaman yang pasti akan kita hadapi di masa depan.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan

Lepas dari persoalan apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan bakat itu, kita dapat bertanyatanya apa saja yang membuat seorang anak akhirnya berminat untuk menjadi il¬muwan dalam bidang tertentu. Dari berbagai riwayat hidup ilmuwan yang dapat kita baca dapat disimpulkan bahwa peranan lingkungan kekeluargaan sangat penting dalam membangkitkan sikap ilmiah. Sikap ilmiah itu muncul ka¬rena lingkungan-didiknya itu tidak mematikan sikap ingin tahu yang dimilikinya sebagai seorang anak.

Sikap ingin tahu itu mula-mula diterapkan oleh seorang anak terhadap dirinya sendiri, dan sesudah menjadi manusia dewasa, sebagai peneliti ia sering menggunakan dirinya sen¬diri sebagai obyek penelitian. J. B. S. Haldane misalnya, yang ayahnya adalah seorang ahli oseanografi yang menciptakan alat penyelam untuk penyelidikan bawah laut, secara sukarela menjadi kelinci percobaan untuk menguji keampuhan alat penyelam ciptaan ayahnya tersebut. Sifat pemberani J. B. S. Haldane itu mungkin sekali juga didorong oleh rasa percaya diri yang sangat kuat, yang sering sering berubah menjadi perasaan anggap enteng terhadap kemampuan orang lain. Hal itu diungkapkan oleh John Maynard Smith, seorang ilmuwan biologi ternama, dengan menyatakan bahwa sebagai teman sekolah ia takut bergaul terlalu dekat dengan J. B. S. Haldane, yang selalu membuatnya merasa rendah diri.

Sekaligus juga dapat dikemukakan bahwa sering sekali seorang ilmuwan terkenal berasal dari latar belakang keluarga ilmuwan juga, seperti halnya dengan J. B. S. Haldane, serta banyak pemenang hadiah Nobel Amerika Serikat yang beragama Protestan dan Katolik. Hanya pemenang hadiah Nobel Amerika Serikat yang berasal dari golongan etnik Yahudi banyak juga yang berasal dari latar belakang bukan ilmuwan. Alasan yang ditemukan Harriet Zuckerman untuk hal itu ialah bahwa dalam suasana pendidikan Yahudi prestasi akademik sangat dihargai lepas dari latar belakang keluarga. Hal itu juga dapat disimpulkan dari riwayat hidup Feynman.

Pengaruh adanya guru sains yang memikat juga sangat jelas dalam pembentukan minat dan kemampuan seseorang agar menjadi ilmuwan yang ternama. Kebanyakan pemenang hadiah Nobel Amerika Serikat dalam bidang sains, dalam perjalanan hidupnya biasanya pernah menjadi murid atau magang menjadi peneliti di bawah asuhan seorang ilmuwan lain yang adalah pemenang hadiah Nobel atau pada suatu ketika di kemudian hari menjadi pemenang hadiah Nobel. Selain itu terutama bagi ilmu-ilmu yang rumit seperti ma¬tematika dan fisika, banyak sekali ilmuwan itu tertarik ke bidang ilmu itu karena mempunyai guru bidang ilmu itu yang sangat mengagumkan sewaktu mereka belajar di sekolah menengah atas. Tampaklah betapa pentingnya peran guru dalam mengembangkan minat muridnya untuk menjadi ilmuwan sains, terutama apabila muridnya bukan berasal dari keluarga yang latar-belakangnya bukan bercorak akademis.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Mnausia yang Tidak Sempurna

Dalam usaha memburu ilmu, seorang ilmuwan selalu berusaha mendapatkan nama dengan berusaha menemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu terhadap ilmuwan lain di dalam bidangnya, selain menganggapnya sebagai rekan sejawat, ia juga menganggapnya sebagai saingan. Ada kalanya pengetahuan yang diperoleh seorang ilmuwan membantu il¬muwan lain untuk mendapatkan penemuan baru yang lain jenisnya. Akan tetapi apabila dua orang ilmuwan secara tidak sadar bekerja dan menemukan suatu pengetahuan baru yang sama, tidak jarang antara kedua ilmuwan itu muncul sikap bermusuhan karena merasa kurang dihargai. De¬mikianlah antara Raymond Damadian dengan Lauterbur ter¬jadi perang dingin karena mereka mempunyai pandangan yang mirip dalam hal penggunaan NMR untuk bidang kedokteran.

Demikian pula antara Fisher dan Neyman terjadi permusuhan besar karena cara mereka menangani suatu permasalahan statistika yang sama sangat berbeda prinsipnya. Permusuhan besar itu makin menghebat lagi karena cara Neyman mendebat Fisher sangat kaku, sedangkan sebenarnya yang mengusahakan sehingga Neyman mendapatkan pekerjaan adalah Fisher sendiri.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran

Dalam usahanya menemukan pengetahuan yang baru, seorang ilmuwan selalu berusaha atas dasar pengetahuan yang benar. Tanpa didasari pengetahuan yang benar, pengetahuan yang dikembangkannya kemudian akan menjadi goyah dan dalam waktu yang singkat tidak dapat dipertahankan lagi sebagai pengetahuan yang sahih. Karena itu seorang ilmuwan sejati selalu menghadapi risiko dianggap sebagai pembangkang oleh masyarakat, apakah itu oleh orang awam, kelembagaan keagamaan, ataupun oleh suatu sistem pemerintahan. Andrei Sakharov misalnya ialah contoh tentang seorang ilmuwan yang bertaat-azas terhadap pendapatnya yang tidak disenangi pemerintah. Penderitaannya dalam buangan dapat dibaca di antaranya dalam buku yang ditulis istrinya yang juga ilmuwan, yaitu Elena Bonner.

Contoh klasik tentang pertentangan yang muncul antara ilmuwan dan agamawan ialah tentang penghukuman Galileo Galilei, yang bertentangan dengan pendapat agamawan mendukung pendapat Copernicus yang menyatakan bahwa bukan matahari yang beredar mengitari bumi, melainkan bumi yang beredar mengitari matahari. Demikian pula dapat dikemukakan larangan pemerintah Uni Soviet di bawah pimpinan Stalin untuk mengembangkan genetika berdasarkan teori Mendel, yang pemukanya ialah T. D. Lyssenko. Sebagai akibat diutamakannya pandangan Mitschurin yang mengatakan bahwa pengaruh lingkungan dapat diwariskan dari tetua ke zuriat, program pemuliaan tanaman di Uni Soviet mengalami hambatan karena dikembangkan atas dasar pe-ngetahuan yang tidak sahih.

T. D. Lyssenko bertindak mengucilkan genetika Mendel dari pengembangan ilmu di Uni Soviet dengan alasan ingin menyesuaikan biologi dengan falsafah kenegaraan. Sebagai akibatnya tokoh pemuliaan tanaman Rusia Vavilov, yang dihormati dalam kalangan internasional tersingkir dan tersungkur, walaupun sesungguhnya hanya dialah yang dapat menyelamatkan program pemuliaan tanaman gandum di Uni Soviet dari kehancuran.

Kejadian seperti itu tidak hanya mungkin terjadi di negara yang kurang bebas iklim berpikirnya. Di Inggris pun terjadi suatu malapetaka ilmiah karena ada seorang ahli psikologi kenamaan yang memalsu data penelitian agar orang percaya bahwa kemampuan seorang anak terutama ditentukan oleh sifat-sifat keturunan yang diwariskan dari tetua ke zuriat. Ahli psikologi itu adalah Cyril Burt yang di luar kekeliruannya yang fatal ini adalah seorang ilmuwan terhormat. Dengan menganut pendapat ini dapat diterima pandangan bahwa hanya anak orang yang pandai saja yang dapat menjadi orang yang pandai, sebab kepandaian itu adalah suatu ciri yang diwariskan secara genetik dari tetua ke zuriat. Akibatnya di Inggris sejak waktu yang dini telah diadakan pemisahan jalur pendidikan bagi mereka yang berkecenderungan akademik yang tinggi dari mereka yang berkecenderungan mekanis. Di Austria pun pendapat Burt ini pernah diterapkan. Akibatnya lebih banyak anak laki-laki disalurkan ke pendidikan kejuruan sejak lepas dari sekolah dasar dan kebanyakan mahasiswa perguruan tinggi yang tentunya bersifat akademik berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut adalah akibat bahwa pada usia lepas sekolah dasar seorang anak laki-laki memiliki kecenderungan mekanistik yang lebih tinggi daripada seorang anak perempuan.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian

Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur

Dengan adanya contoh-contoh akibat ketidakjujuran akademis seperti ini, dapatlah dipahami bahwa pendidikan menjadi ilmuwan penuh dengan rambu-rambu yang mengingatkan orang agar selalu mempertahankan kebenaran dan berani mengemukakan pendapat dengan jujur. Untuk itu saya ingin menampilkan beberapa pengalaman saya tentang perlunya seorang penuntut ilmu mempunyai keberanian menyatakan apa yang diyakininya secara jujur.

Pengalaman pertama saya yang selalu tidak dapat saya llipakan terjadi pada tahun 1950/1951. Ketika itu saya duduk di kelas dua Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor. Walaupun hanya sebuah sekolah kejuruan menengah atas, guru Limnologi saya itu yang juga adalah guru Zoologi saya di kelas satu adalah seorang sarjana Biologi. Ketika nyonya ahli Biologi itu memberi penjelasan mengenai peralihan energi hasil asimilasi fitoplankton ke dalam tubuh ikan herbivora, ada beberapa hipotesis kerjanya yang tidak dapat saya pahami. Sewaktu kemudian guru itu bertanya pada akhir pelajaran apakah ada murid yang tidak memahami pelajarannya, saya mengacungkan tangan saya dan memohonkannya untuk menerangkan kembali mengapa hipotesis kerja itu yang dipakai. Menurut pendapat saya hipotesis kerja itu belum tentu masuk akal.

Beliau pun mencoba menjelaskan lagi mengapa hipotesis awal itu yang dipilih sebagai landasan berpikir selanjutnya. Tiga kali beliau mencoba menjelaskannya kepada saya dengan cara yang berbeda, akan tetapi tetap saja saya tidak dapat memahaminya. Akhirnya, dengan setengah putus asa beliau menyatakan tidak mempunyai cara lain lagi untuk menjelaskannya kepada saya. Tetapi beliau masih sempat menyatakan terima kasihnya kepada saya atas keterusterangan saya untuk mengatakan bahwa saya masih tetap saja belum memahami penjelasannya itu. Saya merasa telah banyak menyusahkan beliau dan untuk mengobati hati beliau saya mengucapkan terima kasih juga. Saya katakan juga bahwa hipotesis kerja itu akan saya terima saja bulat-bulat sebagai suatu aksioma yang tidak lagi dipermasalahkan lebih lanjut. Kalau beliau menanyakan hal itu di dalam ujian, akan saya jawab sesuai dengan apa yang beliau terangkan, akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa saya mengerti apa yang beliau terangkan. Akan tetapi, saya juga mengharapkan, bahwa pada suatu ketika kalau beliau me¬nemukan jalan lain untuk menerangkan hal itu sekali lagi kepada saya, beliau berkenan melakukan hal tersebut, walaupun pelajaran Limnologi itu sudah selesai diujikan.

Di luar perkiraan saya, beberapa tahun kemudian, ke¬tika saya sudah duduk di tingkat tiga Fakultas Pertanian di Bogor, datanglah suratnya kepada saya dari Nederland. Di dalamnya beliau berkata bahwa selama ini saya tidak memahami apa yang diterangkannya itu tidak lain karena hipotesis awal yang dipakai itu memang salah. Pertanyaan saya di dalam kelas dahulu itu membuatnya selalu bertanya-tanya. Untuk memuaskan diri, beliau sudah mengadakan penelitian mengenai hal itu dan hasil percobaan menunjukkan bahwa hipotesis kerja itu tidak dapat dipertahankan. Hasil penelitian sudah diterbitkan dan makalahnya beliau kirimkan dengan pos laut. Pada akhir suratnya, beliau sekali lagi mengucapkan terima kasih karena telah mendapatkan masalah untuk dijadikan bahan penelitian. Beliau juga me¬ngatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya mungkin maju kalau kita bebas mempertanyakan bagian-bagian ilmu itu yang sudah dianggap sebagai kebenaran umum.

Sering saya bertanya-tanya dalam diri saya apa jadinya nasib saya kalau saja beliau itu berperilaku sebagai guru yang marah kepada muridnya yang mempertanyakan kebenaran pelajaran yang diberikan gurunya di depan kelas. Mungkin sekali saya akan dicap sebagai seorang pembangkang yang ingin menguji kemampuan dan kedalaman pengetahuan gurunya. Untunglah guru saya seorang il¬muwan yang pandangannya sangat terbuka. Hal itu pula yang menyebabkan saya berpendapat bahwa untuk pendidikan sains di SMA seorang guru harus lebih banyak bobot perilaku ilmuwannya.

Bahwa seorang ilmuwan itu diharapkan sekali kejujuran akademisnya saya alami juga ketika menghadapi ujian akhir lisan mempertahankan disertasi yang telah saya tulis. Ketika itu promotor saya sudah hampir menutup sidang. Tiba-tiba salah seorang penguji kiriman Sekolah Pascasarjana menginginkan untuk bertanya kembali. Ia bertanya kepada saya apakah saya tahu ikan yang namanya Chanos chanos. Di dalam diri saya berpikir apa urusannya ahli satwa liar itu bertanya mengenai ikan bandeng di dalam suatu ujian diser¬tasi mengenai statistika genetik. Tetapi saya jawab juga bahwa yang dimaksudkan dengan Chanos chanos itu adalah ikan bandeng yang di dalam bahasa Inggris biasa juga disebut milk-fish yang arti harfiahnya ialah ikan susu. Baru kemudian saya sadari bahwa pertanyaan yang diajukan dalam bidang ilmu yang sama sekali di luar bidang ilmu calon doktor yang diuji itu juga bertugas untuk meningkatkan kemampuannya menemukan ilham yang dapat diterapkn dalam bidang ilmunya sendiri, seperti halnya Pilkington menemukan ilham bagaimana caranya membuat lempeng kaca yang tidak perlu diupam dari lapisan sabun yang mengambang di bak cucipiring di dapur istrinya.

Kemudian ia bertanya lagi bagaimana caranya petambak ikan di Jawa membiakkan ikan bandeng agar mendapatkan nenernya. Dengan segera saya sadar bahwa ia ingin menjebak saya. Saya katakan bahwa apabila kita mampu menyuruh ikan bandeng betina bertelur di tambak dan ikan bandeng jantan menebarkan nutfah jantan ke atas telur itu, serta kemudian kita mampu menjaga agar telur yang telah dibuahi itu dapat menetas di dalam tambak, maka kita sebenarnya telah membuat terobosan atau revolusi di dalam ilmu pemeliharaan ikan. Ia tertawa, karena hingga sekarang nener bandeng hanya kita peroleh dengan menjaringnya di sepanjang pantai utara Jawa Timur pada musim tertentu. Akhir-akhir ini memang mereka di Filipina telah berhasil membuahkan nener di dalam lingkungan perairan tertutup. Sewaktu promotor saya hampir menutup sidang untuk kedua kalinya ada lagi penguji lain yang ingin bertanya. Sekali ini yang bertanya ialah salah seorang pembimbing disertasi saya yang adalah seorang ahli genetika. Ia bertanya apakah saya dapat menerangkan apa yang dimaksudkan dengan istilah genetika tertentu. Saya katakan bahwa istilah itu dipakai sebagai judul suatu buku yang baru saja diterbitkan oleh seorang pakar genetika dari Universitas Kalifornia. Bukunya baru saja saya bolak-balik di rak buku tempat memajang buku-buku baru di perpustakaan. Akan tetapi saya belum sempat membacanya karena saya sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian disertasi ini. Kalau saja saya tahu hal itu akan ditanyakan di sini, pasti buku itu saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi garis besar makna istilah itu disimak dari arti harfiahnya dalam bahasa Latin ada sangkut-pautnya dengan kekenyalan suatu masyarakat makhluk hidup menghadapi tantangan lingkungan yang disebabkan keragaman susunan genetik anggota populasi makhluk hidup itu.

Ia mengangguk tanda setuju. Tetapi ia ingin menanyakan satu hal lagi. Pertanyaannya yang penghabisan mem¬buat saya terdiam karena ia menanyakan arti suatu istilah yang belum pernah saya dengar. Setelah barangkali terdiam selama beberapa menit saya menyerah kalah. Saya sangka saya akan kembali ke Indonesia dengan sia-sia. Paling untung saya akan disuruh kembali tiga bulan kemudian sedangkan masa beasiswa saya sudah hampir habis. Tetapi anehnya ia hanya tertawa saja dan kemudian mengatakan agar jangan resah kalau saya tidak dapat menjawab per¬tanyaannya itu. Kemudian saya balik bertanya apa sebenar¬nya arti istilah yang ditanyakannya itu. Ia tertawa lagi terbahak-bahak. "Saya juga tidak tahu", katanya. "Mengapa tuan tanyakan kepada saya?" tanya saya lagi. "Siapa tahu kamu tahu!" katanya.

Rupanya gurubesar saya itu ingin menguji apakah saya memiliki kejujuran akademik dan berani menyatakan ketidaktahuan saya kalau saya tidak tahu mengenai sesuatu. Sampai sekarang, kalau peristiwa yang terjadi seperempat abad yang lalu itu saya kenang kembali, timbul pertanyaan dalam diri saya, apakah gurubesar saya itu tahu sifat orang Timur yang malu mengaku bahwa ia tidak tahu.

Baca juga:
Petualang di Alam Nalar: 00. Pendahuluan
Petualang di Alam Nalar: 01. Sekali Ilmuwan Tetap Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 02. Imuwan Tidak Pernah Putus Asa
Petualang di Alam Nalar: 03. Ilmuwan adalah Penegak Kebenaran
Petualang di Alam Nalar: 04. Ilmuwan Harus Berani Menyatakan Pendapat Secara Jujur
Petualang di Alam Nalar: 05. Ilmuwan Juga Manusia yang Tidak Sempurna
Petualang di Alam Nalar: 06. Siapa Saja yang Berbakat Ilmuwan
Petualang di Alam Nalar: 07. Kesimpulan


oleh: Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion (Wikipedia | TokohIndonesia)Dikutip dari buku: Pengantar ke Ilmu-imu Pertanian