Kerinci Regency in 3D

Peta wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh dalam Tiga Dimensi, oleh Milantara - uhangkayo.webs.com.

Koto Petai - Danau Kerinci

Perahu-perahu Nelayan Koto Petai - uhangkayo.webs.com.

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci yang Menjulang diantara Awan Putih dan Langit Biru (foto: Jeremy Holden, FFI) - uhangkayo.webs.com.

Rumah Larik

Rumah Larik, Rumah Tradisional Masyarakat Lembah Kerinci - uhangkayo.webs.com.

Sungai Penuh

Senja di Batas Kota Sungai Penuh - uhangkayo.webs.com.

sideCategory1

Feb 18, 2012

Permintaan Terakhir

Aku terpengkur diatas tanah merah yang masih basah itu, basah karena hari baru hujan, ditambah oleh air mata yang aku cucurkan di atas perkuburan yang terletak di tepi hutan, jauh dari kota itu. Perkataannya yang terakhir masih mendengung di telingaku, ucapan orang yang baru kukenal ini, tetapi sungguhpun demikian seseorang yang telah jadi perintis jalan bagiku.

Demikianlah asal mulanya aku mulai bergiat mencoba menggambar, membayangkan penghidupan diatas layar penghidupan dengan tak mengacuhkan caci pujian, tetapi terus berusaha tak putus-putusnya, hanya dengan seorang guru yang tinggi perasaan keseniannya, yang tak kenal lelah akan muridnya. Terkadang, kalau terlambat pensilku di atas kain, tak berdaya, tak berjiwa lagi. Akan terus, aku kenang kembali gambar “Guru Dan Murid” itu dan berkata aku kepada diriku, “Tidak aku tak hendakkan bayangkan hidup, tiruan hidup, tetapi aku berkendak hidup semata-mata.”

Ah, berapapun uang akan kubayar, untuk belajar kenal dengan perintis jalanku itu, jikalau ada padaku, tetapi…didalam hatiku aku takut akan menemuinya. Betapa dambanya aku kadang-kadang akan membawa “ciptaan-ciptaan” ku kepadanya, mempersembahkan kerja yang jauh dari sempurna itu, mengatakan “Ini hasil cucur peluhku, cacilah aku, katakanlah aku tak ada kepandaian, buanglah pekerjaanku kedalam bandar sampah,” tetapi hatiku takut, takut akan perkataan-perkataan itu, jika sekiranya nanti betul dilemparkannya ke mukaku.

Tak dapat tiada aku akan patah, … , tak dapat akan bangkit lagi, sebab terasa olehku, aku bergantung kepada guruku seperti seseorang bergantung di akar yang tidak kelihatan pangkalnya, sedangkan dibawahnya lembah yang dalam.

Oleh karena itu, aku jauhkan diriku padanya, dan dengan tumpuan batin gambar yang telah terguris, tak dapat dihapus dari kalbuku itu, aku akan capai tingkat yang tinggi dalam dunia kesenian. Dan ketika aku mesti bercerai dangan “Guru”ku, karena diundang orang ke luar negri, coraknya masih gilang-cemerlang, biarpun tak gemerlapan seperti dahulu lagi.

Ketika aku kembali pulang, tiga tahun kemudian, tak ada kedengaran namanya lagi. Aku tanyakan ke sana-sini, seorang pun tak tahu. Hingga pada suatu hari, ketika aku duduk di serambi muka rumahku, lalu seorang berjual gambar. Ia berhenti di muka rumahku, melepaskan lelah, menghapus peluhnya, dan karena aku senantiasa memperhatikan buah seni yang tersembunyi, aku hampiri orang itu. Seorang pembeli sedang menawar sebuah gambar yang aku kenal, yang telah jadi teladan bagiku, yaitu gambar “Guru Dan Murid.”

Kalau sekiranya aku tak kenal betul akan ciptaan “guru”ku, niscaya aku akan terperdaya oleh tiruan itu. Sipembeli tadi menawar satu rupiah, sedangkan si penjual meminta serupiah setengah.

Mendengar harga yang disebut-sebut itu, mendidih darahku, bukan buatan marahku.

“Tunggu dulu,“ aku berseru, ”Tahukah Tuan-tuan, bahwa gambar ini sepuluh tahun yang lampau harganya seribu rupiah, dan sekarang Tuan-tuan berani menjual atau membeli serupiah setengah?”

“Tetapi gambar ini kemarin baru siap.” Jawab tukang jual itu.

Ketika itu jelas padaku, bahwa catnya masih baru, hilanglah marahku, hanya sekarang berganti dengan perasaan benci yang tidak terhingga, benci terhadap orang yang meniru ini yang menjual jiwa dan sukma seorang ahli seni yang besar. Dan ketika kulihat gambar-gambar lain itu pun pernah kulihat dahulu, dan sesudah kuperhatikan seketika, nyatalah padaku, bahwa ini barang tiruan semata-mata.

“Bang!” kataku kepada orang penjual itu, “Kalau Abang bawa aku ke tempat orang yang membuat ini, aku beri Abang nanti persen lima rupiah.” Segera orang itu mau dan kami pun berangkatlah menuju sebuah kampung tak jauh dari kota. Tak lain maksudku, hanyalah hendak mengata-ngatai si peniru si peniru yang tak berperasaan itu.

Di tengah jalan aku perhatikan terus gambar itu dan makin lama kulihat, makin terharu pikiranku , karena barang tiruan itu tak dapat disangkal, diperbuat oleh tangan yang cakap dan tumbuhlah syakwasangka dalam hatiku yang membuat hatiku berdebar.

Setiba kami di sebuah kampung yang belum penah aku jejak, dibawa aku oleh sipenjual tadi di sebuah pondok bambu, rendah dan teratur tampaknya.

“Silakan Tuan,” katanya dan berseru dari luar ke dalam “Tuan, ini ada tamu!”

Dari dalam rumah itu kedengar suara yang lemah, tak tegak lagi. “Suruhlah masuk Din!”

Aku masuk dan sejurus kemudian aku tertegun, hatiku berdebar, tak salah lagi, yang duduk di atas balai-balai ini ialah guruku, telah agak tua tampaknya, kupiahnya berkerumuk di atas kepalanya dan dari sana-sini tersembur dari dalam tutupnya kepalanya itu rambut putih. Tak tahan hatiku lagi, aku meniarap di bawah lututnya, tak sadarkan diri. Ketika aku angkat kepalaku, heran aku melihat wajahnya yang tenang itu, sedikit pun tak terlihat keheranan di mukanya yang pucat itu.

“Kaulah yang aku nanti, Nak.” Katanya, “Harapan inilah yang memberi aku tenaga untuk hidup terus.”

“Aku yakin,” sambungnya lagi, “Gambarku yang satu ini akan memutuskan penderitaanku. Lihatlah kita sekarang, tak ubahnya seperti gambarku dahulu. Aku kenal akan kau, Anakku. Aku turuti engkau semenjak cahayamu mulai terang bersinar dan aku mengerti, engkaulah yang akan menggantikan kedudukanku dalam kesenian Indonesia yang sepi ini. Sekarang aku bersukur kepada Yang Maha Esa.”

Oleh : Usmar Ismail
Dikutip dari : Gema Tanah Air Indonesia Balai Pustaka, Jakarta 1982

Legenda Danau Kerinci



UHANGKAYO - Konon menurut cerita Danau Kerinci tidak seperti sekarang ini. Asal muasalnya adalah dari sebuah danau yang sangat besar sehingga diberi nama Danau Gedang. Pada waktu itu Lembah Kerinci belum ada, karena masih tertutup oleh permukaan Danau Gedang tersebut. Ada satu kisah yang menceritakan terjadinya Danau dan Lembah Kerinci sehingga mejadi seperti sekarang ini.

Kisahnya berawal dari dua orang kakak beradik yang tinggal di sebuah rumah di kaki Gunung Kerinci. Mereka yatim piatu, sang kakak bernama Calungga sedang adiknya bernama Calupat. Sang kakak berwatak pemberang, kasar dan berani. Sedangkan adiknya berwatak halus serta cerdas. Sifat itu dipengaruhi oleh sepasang mustika yang diwariskan oleh orangtua mereka. Calungga mendapat batu merah sedang Calupat mendapat batu putih. Batu merah akan membuat pemiliknya menjadi pemberani dan memiliki kesaktian luar biasa, sementara batu putih membawa keberuntungan dan kejayaan bagi pemiliknya.

Pada suatu hari ketika sedang berburu di hutan, Calunga menemukan sebuah telur yang sangat besar, sebesar kelapa dangan kulit yang putih berkilau.  Karena tertarik Calungga membawa telur tersebut pulang. Calupat juga merasa heran pada telur yang dibawa kakaknya, Calupat mengusulkan untuk menyimpan telur itu selama tiga hari sambil ia minta petunjuk pada Dewa. Tetapi sewaktu Calupat sedang memancing, telur tersebut direbus oleh Calungga yang sudah tidak tahan ingin merasakan telur itu. Kemudian telur itu dimakan Calungga sampai habis, dan tertidur kekenyangan.

Ketika adiknya pulang, Calungga terbangun dengan rasa haus yang luar biasa sehingga diminumnya semua air yang ada dirumah. Tetapi rasa haus itu tidak hilang meski badanya sudah gembung oleh air. Calungga lalu pergi ke sungai dan minum sepuasnya sehingga tubuhnya makin menggelembung dan memanjang. Keesokan harinya Calupat pergi ke sungai dan mendapati kakaknya sudah berubah wujud. Di badan Calungga muncul sisik-sisik sebesar nyiru dengan warna berkilauan. Saat itu Calungga masih terus minum air sehingga sungai disekitar Gunung Berapi banyak yang kering. Konon sungai-sungai itu sekarang disebut Sungai Kering.

Ketika melihat Calupat, Calungga segera menyuruh adiknya pergi jauh. Karena takut, Calupat pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih harus bepisah dengan kakak yang disayanginya itu. Tak lama kemudian Calungga yang sudah berubah wujud menjadi seekor naga mengucapkan mantera-mantera. Seketika bumi bergetar, hujan badai turun dengan disertai guntur yang menggelegar. Air bah muncul dimana-mana sehingga menggenangi tempat Naga Calungga. Naga memutarkan badannya lalu berenang menuju Danau Gedang. Konon tempat naga mengisar dan memutar sekarang dikenal sebagai Danau Bento. Sedangkan sisik naga yang terkelupas berubah mejadi ikan yang bernama Simambang Bulan yang dianggap sebagai nenek moyang ikan Semah.

Tiga musim berlalu, Calupat kembali ke Danau Gedang, di tepi Danau Gedang ia berdiri dan memanggil-manggil kakaknya. Seketika dari air muncul seekor naga yang tak lain adalah kakaknya.  Sambil menangis gembira Calupat menceritakan keinginannya untuk pergi ke tempat dimana banyak orang tinggal (suatu desa). Calungga mengabulkan keinginan adiknya, ia menggendong Calupat di punggungnya lalu berenang mengarungi danau hingga sampai ke sungai sempit tempat keluarnya air danau dan tidak cukup untuk badannya yang besar. Namun dengan kesaktian Naga Calungga menjebol sungai tersebut sambil terus berenang menuju hilir hingga tiba di sebuah negri di pinggir sungai. Di tempat itu Calupat kemudian menetap. Beberapa tahun kemudian karena kepandaian dan sifatnya yang baik ia menjadi pemimpin di negri tersebut. Naga Calungga sendiri setelah mengantarkan adiknya lalu menyelam ke dalam sungai dan pergi entah kemana.

Sementara itu karena saluran pelepasan jebol oleh Naga Calungga, air Danau Gedang melimpah sehingga permukaan danau surut dan terbentuklah dataran luas yang sekarang dikenal dengan Dataran Kerinci. Danau Gedang yang tersisa berubah nama menjadi Danau Kerinci, dan sungai tempat keluarnya naga Calungga adalah sungai yang dikenal sebagai Sungai Batang Merangin.

Dituturkan oleh: Nenek Aminah_alm, Sungai Penuh
Dikutip dari: Kantor TNKS Sungai Penuh, 2004

Feb 17, 2012

Rumah Amfibi Pertama di Inggris sebagai Model Mengatasi Masalah Banjir

uhangkayo - Baca Architects baru-baru ini memperoleh persetujuan untuk membangun rumah amfibi pertama di tepi Sungai Thames, Inggris! Rumah tes ini akan menjawab isu tentang banjir yang semakin meningkat - yang merupakan masalah yang hampir terjadi di seluruh dunia akibat perubahan iklim. Saat terjadi pasang, rumah modern ini akan ikut naik dan mengambang, sehingga penghuninya tetap aman.

Rumah nyaman yang berukuran 738 kaki persegi (red: sekitar 68,5 m persegi) akan dibangun berdekatan dengan garis pantai sungai, yang hanya berjarak 32 kaki (red: 9,75 m). Tim Baca telah melakukan penelitian bertahun-tahun dengan model rumah yang tetap aman dan dapat ‘bersahabat’ dengan kondisi banjir. Perusahaan ini adalah pemimpin dalam arsitektur tepi air (waterfront* architecture), dan ini adalah tapak yang ideal untuk mengembangkan rumah tahan banjir.




Selama masa-masa kering, rumah akan berada tetap di fondasinya. Tetapi jika terjadi banjir, seluruh struktur akan terangka dari docknya, dan mengambang bersama dengan air banjir. Rumah itu akan dibangun di daerah rawan banjir yang disebut Zona Banjir 3b, yang terletak di sebuah pulau kecil di Sungai Thames Buckinghamshire.


Seperti kebanyakan rumah di Buckinghamshire, rumah ini akan didesain dengan atap bernada tradisional serta dengan karakteristik lain seperti halnya rumah yang terdapat di wilayah tersebut. Meskipun pada bagian luar akan sedikit berbeda sesuai dengan rancangan, rumah akan menjadi sangat efisien dalam penggunaan energi,  karena banyak isolasi dan performa kaca jendela. Taman sekitarnya akan ditanami sebagai baris pertama pertahanan terhadap banjir, dan rumah akan mulai bereaksi saat air mencapai titik tertentu, setelah memberikan pesan peringatan kepada penghuni.


Façade dari kayu ringan akan ditempatkan antara empat tonggak vertikal yang akan membuat struktur tetap ditempat. Pembangunan rumah ini direncanakan pada akhir tahun ini, dan akan menjadi sebuah model yang baik untuk menangani masalah banjir di seluruh dunia.

Sumber: inhabitat.com

Glosarium Uhangkayo: waterfront

Pengertian waterfront dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Sedangkan, urban waterfront mempunyai arti suatu lingkungan perkotaan yang berada di tepi atau dekat wilayah perairan, misalnya lokasi di area pelabuhan besar di kota metropolitan (Wrenn, 1983). Dari kedua pengertian tersebut maka definisi waterfront adalah suatu daerah atau area yang terletak di dekat/berbatasan dengan kawasan perairan dimana terdapat satu atau beberapa kegiatan dan aktivitas pada area pertemuan tersebut. - archilia.